Alam Barzakh (Alam Kubur)

2 Desember 2020 by no comments Posted in Fikih Alam Akhirat

Apa Itu Barzakh?

Setelah seseorang meninggal dunia, maka seseorang akan masuk pada alam barzakh. Dalam bahasa Arab, barzakh artinya al-hajiz (penghalang) dan al-had bainasy syaiaini (pembatas antara dua benda). Ar-Raghib menjelaskan makna firman Allah Ta’ala :

وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَّحْجُورًا 

“…dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Al-Furqan : 53)

Barzakhan maknanya hajizan (pembatas).

Sedangkan, makna Barzah secara syar’i adalah negeri setelah kematian hingga sebelum pembangkitan. Sehingga, alam Barzah merupakan perantara antara alam dunia dengan alam akhirat.

Dalil Keberadaan Alam Barzakh

Firman Allah Ta’ala :

وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“…Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.” (Al-Mukmin : 100)

Muhammad bin Ka’b mengatakan, “Barzakh adalah tempat antara dunia dan akhirat. Mereka tidak bersama penduduk dunia yang bisa makan dan minum, tidak pula bersama penduduk akhirat yang merasakan balasan di surga dan neraka. Ada yang berpendapat, bahwa Barzah adalah alam kubur, dimana penghuninya tidak berada di alam dunia dan tidap pula di alam akhirat. Meraka akan tinggal di alam kubur menunggu hingga hari pembangkitan.”

Siapa yang Akan Masuk ke Dalam Alam Barzakh?

Siapapun yang meninggal dunia dan dalam model apapun, maka dia akan masuk dalam suatu alam bernama alam barzakh. Dan Fase ini sering disebut sebagai alam kubur, karena kebanyakan orang dikubur setelah meninggal dunia. Padahal, asalnya seseorang yang meninggal dunia telah masuk ke alam barzakh meskipun dia tidak dikubur. Dan dalil yang paling kuat yang menunjukkan akan hal ini adalah kisah Fir’aun. Allah Ta’ala berfirman :

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ

Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia tidak memperhatikan dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS. Yunus : 92)

Kita tahu, bahwa  jasad Fir’aun diselamatkan dan tidak dikubur dan jasad bala tentaranya tenggelam di Laut Merah. Namun mereka saat ini sedang disiksa oleh Allah ﷻ dengan siksa kubur. Dalilnya adalah Allah ﷻ berfirman,

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

Mereka diperlihatkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras“. (QS. Ghafir : 46)

Artinya, saat ini mereka sedang diadzab di alam barzakh, meskipun jasad mereka tidak dikubur.

Fitnah Kubur di Alam Barzakh

Ketika berada di alam barzakh, seseorang akan mengalami fitnah kubur. Yang dimaksud dengan fitnah kubur adalah pertanyaan-pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir. Yaitu, siapa Rabbmu? Apa agamamu? Dan Siapa nabimu?

Semua orang yang meninggal akan ditanya oleh malaikat, kecuali orang yang mati syahid. Sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Wahai Rasulullah, mengapa orang-orang beriman mendapat fitnah di kubur mereka, kecuali orang yang mati syahid?” Beliau menjawab,

كَفَى بِبَارِقَةِ السُّيُوفِ عَلَى رَأْسِهِ فِتْنَةً

“Cukuplah kilatan pedang di atas kepala sebagai fitnah bagi mereka.” (HR. An-Nasa’i)

Oleh karena itu hendaknya seseorang meminta kepada Allah agar dimudahkan dalam menjawab pertanyaan para malaikat kelak di alam barzakh. Karena Allah ﷻ telah berfirman,

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim : 27)

Al-Mas’udi berkata, dari ‘Abdullah bin Mukhariq, dari bapaknya, dari ‘Abdullah, ia berkata, “Sesungguhnya seorang mukmin jika meninggal dunia, ia akan didudukkan di kuburnya. Ia akan ditanya, ‘Siapa Rabbmu?’, ‘Apa agamamu?’, ‘Siapa nabimu?’. Allah akan menguatkan orang beriman itu untuk menjawab. Ia akan menjawab, ‘Rabbku Allah, agamaku Islam, nabiku Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lantas ‘Abdullah membacakan firman Allah surat Ibrahim ayat 27.” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dan ‘Abdullah bin Imam Ahmad dalam As-Sunnah, no. 1429; Al-Baihaqi dalam ‘Adzab Al-Qabr, no. 9).

Orang kafir dan munafik pun juga akan ditanya dengan pertanyaan yang sama, namun mereka tidak bisa menjawabnya. Dalam hadits disebutkan,

وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ : مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ : هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ ؟ فَيَقُولُ : هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيَقُولَانِ لَهُ مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ كَذَبَ فَافْرِشُوا لَهُ مِنَ النَّارِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسَمُومِهَا وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلَاعُهُ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ قَبِيحُ الثِّيَابِ مُنْتِنُ الرِّيحِ فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُوءُكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ, فَيَقُولُ: مَنْ أَنْتَ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالشَّرِّ فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ فَيَقُولُ رَبِّ لَا تُقِمِ السَّاعَةَ

Kemudian ruhnya dikembalikan di dalam jasadnya. Dan dua malaikat mendatanginya dan mendudukannya. Kedua malaikat itu bertanya, “Sipakah Rabbmu?” Dia menjawab: “Hah, hah, aku tidak tahu”. Kedua malaikat itu bertanya, “Apakah agamamu?” Dia menjawab, “Hah, hah, aku tidak tahu”. Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?”Dia menjawab: “Hah, hah, aku tidak tahu”. Lalu penyeru dari langit berseru, “HambaKu telah (berkata) dusta, berilah dia hamparan dari neraka, dan bukakanlah sebuah pintu untuknya ke neraka.” Maka panas neraka dan asapnya datang mendatanginya. Dan kuburnya disempitkan, sehingga tulang-tulang rusuknya berhimpitan. Dan datanglah seorang laki-laki berwajah buruk kepadanya, berpakaian buruk, beraroma busuk, lalu mengatakan, “Terimalah kabar yang menyusahkanmu ! Inilah harimu yang telah dijanjikan (keburukan) kepadamu”. Maka ruh orang kafir itu bertanya kepadanya, “Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa keburukan?” Dia menjawab, “Aku adalah amalmu yang buruk”. Maka ruh itu berkata, “Rabbku, janganlah Engkau tegakkan hari kiamat”. [Lihat Shahihul Jami’ no: 1672]

Oleh karenanya yang menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir adalah keimanan.

Bagaimana Melatih Diri Memasuki Alam Barzakh?

Ibnu Rajab al-Hambali pernah mewasiatkan kita untuk banyak berkhalwat dengan Allah ﷻ, yang salah satu caranya adalah dengan i’tikaf, dimana kita membaca Al-Quran dan shalat malam sendiri, dengan tujuan melatih diri kita untuk melalui kesendirian di alam barzakh yang sangat panjang. Tatkala seseorang telah meninggal dunia, tidak ada lagi keluarga maupun sahabat yang menemaninya. Sebagaimana Nabi ﷺ mengatakan,

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ

Yang mengikuti mayit sampai ke kubur ada tiga, dua akan kembali dan satu tetap bersamanya di kubur. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta dan amalnya. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya. Sedangkan yang tetap bersamanya di kubur adalah amalnya.” (HR. Bukhari, no. 6514; Muslim, no. 2960)

Sampai Kapan di Alam Barzakh?

Inilah fase alam barzakh yang seseorang akan menanti lebih lama sampai datangnya hari kiamat. Dan di alam barzakh ini hanya akan diberikan antara dua hal kepada seseorang, jika dia tidak diberikan nikmat, maka pasti dia akan merasakan adzab. Wallahu a’lam.

Masya Alloh, Cantiknya! Barokallohu Fiik

28 November 2020 by no comments Posted in Umum

Allah Ta’ala telah banyak sekali  memberikan nikmatnya kepada kita. Saking banyaknya nikmat tersebut sehingga Allah Ta’ala menjelaskan bahwasannya nikmat tersebut tidak akan mampu untuk dihitung. Untuk itulah hendaknya kita selalu bersyukur kepada Allah Ta’ala, baik dengan lisan, hati bahkan anggota tubuh kita.  Diantara nikmat yang harus kita syukuri adalah mempunyai mata yang bisa melihat. Karena dengan melihat, terkadang  seseorang bisa tertawa dan menangis, bisa bahagia dan sedih, bahkan bisa mendapatkan pahala dan dosa. Karena itulah hendaknya kita selalu mengingat tujuan hidup kita yaitu untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Seyogyanya kita bisa menjadikan nikmat mata bisa melihat, mampu kita gunakan untuk beribadah. Yaitu menggunakannya sesuai dengan adab-adab yang telah ditentukan oleh Syariat.

Diantara adab tersebut adalah disaat seseorang melihat sesuatu yang menakjubkan dirinya hendaknya dia mengkaitkannya dengan kekuasaan Allah Ta’ala dan mendoakannya dengan keberkahan. Meskipun  ketakjubannya itu pada dirinya sendiri maupun hartanya. Sebagaimana sabda  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apabila salah seorang diantara kalian melihat sesuatu yang menakjubkannya, pada dirinya atau hartanya hendaknya ia mendoakan keberkahan untuknya. Karena sesungguhnya ‘Ain (sakit yang disebabkan karena pandangan)  itu benar (kenyataan). (HR. Ibnu Sunni, Ahmad, Al Hakim. Hadits hasan.)

Ada dua kisah menarik terkait dengan hal tersebut; pertama, sebuah kisah  yang disampaikan oleh Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif Radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita ; Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang bernama  Amir bin Rabi’ah Radhiyallahu ‘anhu pernah  melihat Sahl bin Hunaif Radhiyallahu ‘anhu  sedang mandi. Iapun takjub dengan kulit Sahl yang begitu putih dan halus. Kemudian ia  berkomentar: “Demi Allah! Saya belum pernah melihat pemandangan seperti hari ini, (yaitu) melihat kulit yang sangat bagus. tiba-tiba Sahl langsung terpelanting  dan tidak sadarkan diri. Setelah kejadian tersebut, ada yang mendatangi  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya: “Wahai Rasulullah! Menurut anda apa yang terjadi dengan Sahl bin Hunaif. Demi Allah! Dia tidak mampu mengangkat kepalanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Apakah kalian mencurigai seseorang? Mereka menjawab: Ya, kami mencurigai ‘Amir bin Rabi’ah. Setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil ‘Amir kemudian  memarahinya sambil bersabda: “Atas dasar apa kalian hendak membunuh saudaranya? Kenapa kalian tidak mendoakannya saja dengan keberkahan? Mandilah (berwudhulah) untuknya! ‘Amir kemudian membasahi wajahnya, tangannya, kedua sikunya dan dua mata kakinya beserta ujung-ujung kakinya. Beliau juga memasukkan kain sarung kedalam bejana yang ada airnya. Setelah itu airnya digunakan oleh Sahl dan akhirnya Sahl pulih kembali seperti biasa lalu bergaul lagi dengan yang lain seperti tak terkena apapun. Dalam riwayat yang lain Nabi shallallahu  ‘alaihi wasallam sabda kepada ‘Amir bin Rabi’ah : “Sesungguhnya ‘Ain itu benar adanya, berwudhulah untuknya.”

Ibnu Hajar Rahimahullah berkomentar tentang kisah tersebut: “Sesungguhnya ‘Ain itu bisa terjadi berawal dari rasa takjub meskipun tidak hasad, bahkan dari pandangan orang yang sayang dan shaleh. Untuk itulah hendaknya segera mendoakannya dengan keberkahan ketika melihat sesuatu yang manakjubkan dirinya.

Kisah kedua, yaitu kisahnya dua pemilik kebun yang yang satu mukmin dan yang satu kafir. Kisah ini terdapat dalam QS. Al Kahfi 32 – 43;

“ Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki. Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu. Dan Dia mempunyai kekayaan besar, Maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: “Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat”. Dan Dia memasuki kebunnya sedang Dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya. Dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu”. Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya – sedang Dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?. Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku..Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “MASYA ALLOH  LA QUWWATA ILLA BILLAH” (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan. Maka Mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini); dan Mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin. Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, Maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi”. Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan Dia berkata: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku”. Dan tidak ada bagi Dia segolonganpun yang akan menolongnya selain Allah; dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya. Di sana pertolongan itu hanya dari Allah yang hak. Dia adalah Sebaik-baik pemberi pahala dan Sebaik-baik pemberi balasan”

Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: “Berdasarkan ayat-ayat tersebut, sebagian ulama’ berpendapat: “Barangsiapa melihat sesuatu yang menakjubkan dirinya tentang keadaannya atau hartanya atau anaknya hendaknya ia mengucapkan “MASYA ALLOH LAQUWWATA ILLA BILLAH” (Tafsir Ibnu Katsir Juz 3 cetakan Darul Faikho’)

Syaikh Al Utsaimin Rahimahullah berkata: “Ada sebuah atsar yang menyebutkan; “Barangsiapa melihat sesuatu yang menakjubkan dari hartanya, kemudian dia mengucapkan “Masya Alloh! La Quwwata Illah Billah, niscaya hartanya tidak akan terkena bahaya apapun.” Beliau juga berkata: “Ketika seseorang melihat sesuatu yang menakjubkannya dan ia khawatir terhadap pengaruh pandangan yang hasad, hendaknya ia mengucapkan: “Masya Alloh! Tabarokallohu” sehingga orang yang dilihat tidak terkena ‘Ain

Pelajaran Penting

Berdasarkan kedua kisah tersebut bisa diambil kesimpulan bahwasannya saat seseorang melihat dengan matanya sesuatu yang menakjubkannya hendaknya dia melakukan dua hal penting yaitu

  1. Mendoakan dengan keberkahan yaitu dengan kalimat “BAROKALLOHU FIIKA” atau “BAROKALLOHU LAKA” atau “TABAROKALLOHU ‘ALAIK” (Semoga Alloh memberkahimu) atau dengan kalimat yang semakna
  2. Mengkaitkannya dengan kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala yaitu dengan kalimat “MASYA ALLOH! LA QUWWATA ILLA BILLAH” (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah) atau dengan kalimat yang semakna

 

Lelahku Ibadahku

15 November 2020 by no comments Posted in Umum

Bekerja merupakan sarana untuk memperoleh rezeki dari Allah Ta’ala. Dan,Allah Ta’ala mencintai para hambanya yang bersusah payah mencari rezeki yang halal.  Untuk itulah Allah Ta’ala memerintahkan kepada para hambaNya untuk bekerja meskipun Allah Ta’ala telah menentukan rezekinya. Allah Ta’ala berfirman:

“Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”(QS. Al Jumu’ah 10)

Para Nabi dan Rasulpun telah memberikan teladan dalam bekerja. Nabi Nuh ‘alaihissalam adalah seorang tukang kayu, beliau pernah membuat perahu. Nabi Daud ‘alaihissalam seorang tukang besi, beliau bisa membuat baju perang dari besi. Nabi Musa seorang penggembala begitu juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seorang penggembala dan pedagang yang handal.

Dalam memotifasi umatnya agar selalu bersemangat untuk bekerja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan adanya hadiah yang istimewa bagi orang-orang yang kelelahan disore hari karena bekerja dipagi harinya. Sebagaimana sabda beliau: :”Barangsiapa yang merasakan lelah di waktu sore hari karena bekerja, niscaya di waktu sore itu ia akan mendapatkan ampunan.(HR. Ath Thabrani)

Orang-orang shaleh terdahulupun banyak memberikan motifasi untuk bekerja dan tidak hanya berpangku tangan saja di rumah menunggu datangnya rezeki. Syaikh Abu Ammar Rahimahullah menyebutkan dalam bukunya “Al Adabul Islam Lith Thiflil Muslim” beberapa motifasi itu; pertama perkataan Luqman al Hakim, beliau pernah memberikan nasehat kepada anaknya: “Anakku!Tetap bekerjalah yang halal untuk mengatasi kefakiran. Karena sesungguhnya tidaklah salah seorang diantara kalian faqir kecuali akan tertimpa pada dirinya tiga keadaan.(1)Lemah imannya, (2) lemah akalnya, (3) hilang kewibawaannya. Yang lebih parah dari hal itu adalah  para manusia akan meremehkannya karena kefakirannya”.

Kedua, perkataan dari Umar bin Khathab Radhiyallalhu ‘anhu, beliau berkata: “Janganlah salah seorang diantara kalian duduk-duduk saja tidak mencari rezeki sambil berdoa “Ya Allah! Karuniakanlah rezeki kepadaku”. Sesungguhnya kalian telah mengetahui bahwasannya langit tidak pernah menurunkan hujan emas dan perak”

Agar bekerja tidak hanya sekedar untuk urusan dunia saja tapi bisa selalu dalam lingkup ibadah, hendaknya memperhatikan rambu-rambu yang telah ditentukan oleh Allah Ta’ala dan rasulNya. Diantara rambu-rambu tersebut adalah

  1. Tidak Dalam Kemaksiatan

إِنَّ رُوْحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِيْ رَوْعِيْ أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ أَجَلَهَا وَتَسْتَوْعِبَ رِزْقَهَا فَاتَّقُوااللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ وَلَا يَحْمِلَنَّ أَحَدُكُمْ اِسْتِبْطَاءَ الرِّزْقِ أَنْ يَطْلُبَهُ بِمَعْصِيَةِ اللهِ فَإِنَّ اللهَ تَعَالىَ لَا يُناَلَ مَاعِنْدَهُ إِلَّا بِطَاعَتِهِ

 

Sesungguhnya Malaikat Jibril ‘alaihissalam telah mewahyukan ke dalam hatiku, bahwasannya seseorang tidak akan meninggal kecuali telah sempurna waktunya dan telah memperoleh rezekinya. Bertakwalah kepada Allah! Perbaguslah dalam mencarinya, janganlah salah seorang diantara kalian karena  lambatnya datangnya rezeki kemudian berbuat maksiat kepada Allah. Karena sesungguhnya yang ada di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan ketaatan kepadaNya.” (HR. Abu Nuaim. Dishahihkan oleh Al Albani)

  1. Niat Yang Benar

Yaitu berniat mencari rezeki untuk mencukupi kebutuhannya dan keluarganya agar tidak meminta-minta kepada orang lain bahkan bisa memberikan sebagian penghasilannya kepada orang lain yang membutuhkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan.”(HR. Muttafaqun ‘alaih).  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa  amalan tergantung pada niatnya. Apabila niatnya shaleh dan amalnya murni mengharap wajah Allah Ta’ala, maka amalnya diterima

 

  1. Halal

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.”(QS. Al Maidah 88)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Tidaklah daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram kecuali Neraka lebih pantas untuknya.”(HR. At Tirmidzi. Dishahihkan oleh al Albani)

  1. Tidak Meninggalkan Ibadah

Allah Ta’ala berfirman: “Tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya beribadah kepadaKu.”(QS. Adz Dzariyat 56)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Sesungguhnya Allah Menurunkan harta untuk menunaikan shalat dan membayar zakat.” (HR. Ahmad. Dishahihkan oleh Al Albani)

  1. Tidak Hanya Bertujuan Dunia

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menjadikan tujuan utamanya akherat niscaya  Allah berikan kecukupan dalam hatinya, Allah himpunkan urusannya dan dunia datang kepadanya dalam keadaan hina (tidak bernilai). Dan barangsiapa yang menjadikan dunia tujuannya, niscaya Allah jadikan kefakiran selalu berada di depan matanya, Allah Ta’ala cerai beraikan urusannya dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali yang telah ditentukan untuknya.”(HR.At Tirmidzi. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani)

  1. Prefesional

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai salah seorang diantara kalian yang ketika bekerja dilakukan dengan professional.”(HR. Ath Thabrani)

 

Pelajaran Penting

  • Kewajiban untuk bekerja dengan pekerjaan yang halal
  • Rasa lelah yang dirasakan karena sibuk bekerja akan mendatangkan banyak pahala dari Allah Ta’ala, karena ia telah berjuang di atas jalan Allah Ta’ala. Diantara pahala tersebut adalah ampunan, kecukupan, cinta dari Allah Ta’ala dan SurgaNya yang seluas langit dan bumi
  • Luasnya makna Fi sabilillah (Berjuang diatas jalan Allah Ta’ala).
  • Ketaatan kepada Allah Ta’ala akan melancarkan datangnya rezeki sedangkan kemaksiatan akan memperlambat datangnya rezeki. Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Kebaikan adalah penerang hati, pemberi cahaya pada wajah, memperluas rezeki, pemberi kekuatan pada badan dan perekat cinta di hati para makhluq. “Sesungguhnya keburukan memberi noda hitam dalam hati, kegelapan pada wajah, mempersempit jalan rezeki, melemahkan badan dan menjadi bibit kebencian di hati para makhluq.”
  • Diantara adab dalam bekerja yang hendaknya dilakukan adalah;
  • Tidak dalam kemaksiatan
  • Niat yang benar
  • Halal
  • Tidak meninggalkan Ibadah
  • Tidak hanya bertujuan Dunia
  • Prefesional

 

 

JIN PUN MENGALAMI KEMATIAN

10 November 2020 by no comments Posted in Fikih Alam Akhirat

Semua Makhluk Bisa Mati Dan Binasa

Semua makhluk bisa mati dan binasa. Keyakinan ini didasarkan pada firman Allah Ta’ala :

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ (26) وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ (27) فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Semua yang ada di atas bumi akan binasa. Dan kekal wajah Rabmu Dzat pemilik keagungan dan kemuliaan karena itu. Nikmat Tuhan yang mana lagi yang kalian dustakan.” (QS. Ar-Rahman: 26 – 28)

Artinya, semua makhluk, apapun dan siapapun dia, bisa mati dan binasa, sesuai dengan apa yang Allah kehendaki.

Jin Pun Mati

Jin adalah makhluk Allah Ta’ala selain manusia dan malaikat. Jin dan manusia memiliki titik persamaan, yakni sama-sama memiliki sifat berakal dan kemampuan dalam memilih jalan kebenaran dan keburukan. Oleh karena itu, ada jin yang muslim dan ada jin yang kafir. Ada jin yang baik dan ada jin yang jahat.

Golongan jin juga akan mati sebelum kiamat. Karena jin termasuk keumuman firman Allah di surat Ar-Rahman di atas. Hal ini juga dikuatkan dengan beberapa dalil sunah yang menunjukkan bahwa jin bisa mati sebelum kiamat :

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu doanya, beliau melantunkan:

أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ، الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الَّذِي لاَ يَمُوتُ، وَالجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَ

Aku berlindung dengan kemuliaan-Mu yang  tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Dzat yang tidak akan mati. Sementara jin dan manusia akan mati.” (HR. Bukhari no. 7383 dan Muslim no. 2717)

Dalil lainnya, Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu pernah diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghancurkan Uzza. Pohon keramat yang disembah orang musyrik jahiliyah. Setelah Khalid bin Walid menebang ketiga pohon yang dikeramatkan di tempat itu, dan membantai setiap orang yang mencoba menghalangi, beliau menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:

اِرْجِعْ فَإِنَّكَ لَمْ تَصْنَعْ شَيْئًا

Kembali, kamu belum melakukan apapun.”

Khalid pun segera kembali. Tiba-tiba banyak orang naik ke bukit. Mereka memanggil-manggil; “Wahai Uzza, Wahai Uzza.” Khalid pun mendatanginya. Ternyata ada wanita telanjang, rambutnya terjuntai, di atas kepalanya ada pasirnya. Khalid dengan sigap menusukkan pedangnya, sampai dia mati. Setelah diceritakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

تِلْكَ اْلعُزَّى

Itulah Uzza.” (HR. Nasai dalam Sunan al-Kubro 11547, al-Mushili dalam Musnad-nya 866).

Kisah seorang sahabat muda yang membunuh ular jadi-jadian yang ada di rumahnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Muslim.

Bagimana dengan Iblis?

Siapakah iblis? Iblis adalah nama salah satu jin yang menjadi gembongnya para pembangkang. Dalil bahwa iblis dari golongan jin adalah firman Allah,

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ

Ingatlah ketika Aku perintahkan kepada para malaikat, sujudlah kalian kepada Adam. Merekapun sujud, kecuali Iblis. Dia termasuk golongan jin, dan inkar kepada perintah Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 50).

Iblis juga memiliki keturunan, sebagaimana umumnya jin lainnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ

Iblis itu dari golongan jin, dan dia membangkang terhadap perintah Rab-nya. Akankah kalian menjadikan dia dan keturunannya sebagai kekasih selain Aku, padahal mereka adalah musuh bagi kalian…” (QS. Al-Kahfi: 50)

Untuk makhluk yang satu ini, telah Allah berikan jaminan, tidak akan mati sampai kiamat. Allah mengkisahkan dalam Alquran. Setelah Iblis diusir untuk turun ke bumi karena sikapnya yang sombong, Iblis minta syarat kepada Allah:

قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Iblis berkata: Ya Tuhanku, berilah aku waktu sampai hari mereka (manusia) dibangkitkan.”

Allah merespon keinginan Iblis:

قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ ( ) إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ

Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi waktu. Sampai batas waktu yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hijr: 37 – 38).

Dalam Tafsir al-Jalalain dinyatakan, “Yaitu waktu tiupan sangkakala yang pertama.” (al-Jalalain, Al-Hijr: 38).

Nah, berdasarkan firman Allah di atas, Iblis ditetapkan oleh Allah sebagai makhluk yang tidak akan mati sampai hari kiamat.

Wallahu a’lam bish shawab

Beberapa bukti ajaran Islam sesuai dengan prinsip hidup bermasyarakat

9 November 2020 by no comments Posted in Ilmu

Bukti Perhatian Islam terhadap kehidupan sosial bermasyarakat

Oleh: Akhmad Taufik Arizal, Lc

Segala puji hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala yang telah memberikan karunia terbesarnya kepada kita yaitu nikmat Iman dan sehat, sehingga kita masih mampu menjalankan syariat-syariat-Nya. Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada suri tauladan kita dalam beribadah dan bermuamalah, Nabi Muhammad, dan kepada keluarganya, para sahabatnya, serta umatnya yang kukuh di atas sunnahnya.

Kehidupan seorang manusia tidak lepas dari hubungan serta interaksi antar sesama, karena memang manusia adalah sosok makhluk yang tidak akan mungkin dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain, oleh karena itu, Islam memberikan pedoman istimewa yang berlandaskan dua sumber utama yaitu al-Qur`an dan as-Sunnah bagi pemeluknya agar kehidupan sosialnya berjalan selaras dan harmonis.

Islam adalah agama yang penuh dengan kedamaian dan ketentraman, semakin kuat seorang muslim berpegang teguh terhadap ajaran-ajarannya, maka ketenangan dalam menjalani kehidupan dengan sesama muslim khususnya dan segenap manusia pada umumnya akan semakin stabil dan harmonis, dan kerukunan pun tercipta, sehingga terkikislah kesenjangan antarwarga dan lenyaplah dekadensi di dalam sebuah kehidupan bermasyarakat, baik dalam lingkungan skala kecil maupun besar atau bernegara sekali pun.

Berikut ini beberapa bukti bahwa Islam memberikan perhatiannya yang begitu besar pada kehidupan sosial.

  1. Birrul Walidain (Berbakti kepada kedua orangtua)

Allah ta’ala berfirman,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23) وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (24)

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (23) Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil (24).” (QS. Al-Israa`: 23-24)

Kehidupan sosial pertama yang diajarkan Islam adalah sikap santun dan penuh hormat seorang muslim kepada kedua orangtuanya meski usia mereka sudah senja. Sebab keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak merupakan lingkup masyarakat terkecil yang harus diarahkan terlebih dahulu, guna mewujudkan pola kehidupan bermasyarakat yang Islami.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: «أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَبُوكَ»

Dari Abu Hurairah-Radhiyallahu ‘anhu- bahwasanya ia berkata, “Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah- Shallallahu ‘alaihi wa sallam- seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, siapakah sosok manusia yang patut aku hormati?’, beliau menjawab, ‘Ibumu’, ia berkata, ‘Kemudian siapa?’, Beliau menjawab, ‘Ibumu’, ia berkata, ‘Lalu siapa?’, Beliau menjawab, ‘Ibumu’, ia berkata, ‘Kemudian siapa?’, Beliau menjawab, ‘Kemudian Ayahmu’.” (HR. Al-Bukhari no. 5971)

Menghormati ibu dan ayah, mereka berdua harus dihormati selama tidak memerintahkan kepada kemaksiatan. Dan bila keduanya melakukan kekeliruan pun maka nasihat santun serta tutur kata baik wajib mereka berdua terima, bukan bentakan apalagi hardikkan, wallahul musta’an.

Subhanallah, betapa indah syariat Islam, karena awal kehidupan masyarakat yang baik ialah jika di dalam rumahnya sudah tercipta hubungan erat dan manis antara orangtua dan anak.

  1. Uluk salam

Allah ta’ala berfirman,

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An-Nisaa`: 86)

Jika ada seorang muslim mengucapkan salam kepadamu, maka jawablah salam tersebut dengan lafaz yang sama atau lebih baik darinya dan iringilah jawaban salammu dengan sedikit senyuman. Akan tetapi, bila lawan bicaranya adalah wanita yang bukan mahram, terlebih masih muda, maka senyuman tidak dibutuhkan, sebab dikhawatirkan bahkan akan menimbulkan fitnah dan musibah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ»

Dari Abu Hurairah bahwasanya ia berkata, “Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, ‘Kalian tidak akan masuk surga hingga beriman, dan kalian tidak disebut sebagai orang beriman sampai kalian saling mencintai, maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila dilakukan niscaya kalian akan saling mencintai?! Ucapkanlah salam di antara kalian’.” (HR. Muslim no. 93)

Budaya sapa-menyapa di antara individu masyarakat merupakan tanda bahwa mereka sedang dalam keharmonisan dan kerukunan hubungan. Rasa cinta pun akan timbul seiring dengan berjalannya waktu, karena memang tabiatnya manusia suka untuk disapa dan dihormati.

  1. Menjamu tamu

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتَهُ، قَالُوا: وَمَا جَائِزَتُهُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: يَوْمُهُ وَلَيْلَتُهُ. وَالضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ، فَمَا كَانَ وَرَاءَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ عَلَيْهِ

Rasulullah-Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia menghormati tamu dengan pelayanan istimewa, mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, berapa lama melayani tamu tersebut dengan pelayanan istimewa?’, beliau menjawab, ‘Selama sehari semalam. Masa bertamu adalah tiga hari. Jika lebih dari itu maka termasuk sedekah darinya untuk tamu tersebut’.” (HR. Muslim no. 48)

Seorang tamu berhak untuk dilayani dengan pelayanan istimewa selama sehari semalam, pada hari kedua dan ketiga dilayani dengan pelayanan biasa dan sewajarnya, sedangkan bila lebih dari tiga hari, maka pihak tuan rumah melayani dengan sewajarnya dan itu merupakan sedekah darinya. (Ma’alimus sunan. Hamd bin Muhammad al-Khathabi Wafat 388 H)

Inilah salah satu bentuk bimbingan hidup bermasyarakat, dikala ada orang lain membutuhkan tempat untuk beristirahat karena perjalanan jauh, maka dianjurkan agar seorang muslim sudi untuk melayaninya sebagaimana urutan tersebut di atas.

  1. Hormat menghormati

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا

Rasulullah- Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Seseorang yang tidak menghormati orang lain yang  lebih tua darinya atau menyayangi orang lain yang lebih muda darinya maka ia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Ahmad no. 6937. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 2196)

Kehidupan bermasyarakat tidak luput dari adanya perbedaan umur dan status sosial, dari hadits di atas, berisi arahan agar kita bersikap hormat terhadap sosok yang lebih berumur atau tokoh setempat. Begitu pula sebaliknya, bagi kalangan dewasa diharapkan agar mengayomi dan menyayangi kalangan muda yang masih membutuhkan bimbingan.

Apabila kondisi ini diberlakukan di tengah masyarakat, niscaya akan semakin kuatlah solidaritas antarmasyarakat, terciptalah ketentraman, dan terwujudlah keamanan.

  1. Pakaian syuhroh

Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

“مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ أَلْبَسَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَوْبًا مِثْلَهُ “. زَادَ عَنْ أَبِي عَوَانَةَ ” ثُمَّ تُلَهَّبُ فِيهِ النَّارُ”

Barangsiapa yang memakai pakaian syuhrah, niscaya Allah akan memakaikannya pakaian seperti itu pada hari kiamat, .. Abu Uwanah menambahkan [dalam riwayat lain], ‘Kemudian dikobarkan di neraka.” (HR. Abu Dawud no. 4029)

Pakaian syuhrah ialah pakaian yang ketika dikenakan menyelisihi kebanyakan masyarakat setempat, entah itu dari sisi warna, corak, atau bentuk. Saat  seseorang menggunakan pakaian tersebut  dirinya merasa  bangga, sombong, atau ingin tampil beda di tengah masyarakat. (Aunul Ma’bud syarh ibn Dawud, Muhammad Asyraf bin Amir )

Islam menganjurkan setiap muslim atau muslimah mengenakan pakaian yang menutup aurat serta syar’i dan dikenakan oleh masyarakat setempat pada umumnya. Demi menjaga keselarasan hidup antara penduduk satu dengan yang lainnya. Inilah Islam yang menaruh perhatian begitu besar terhadap kehidupan sosial masyarakat hingga masalah penampilan pun diatur sedemikian indahnya.

  1. Enam hak sesama muslim yang harus dipenuhi

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ» قِيلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللهِ؟، قَالَ: «إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَسَمِّتْهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ»

Dari Abu Hurairah, Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Hak seorang muslim terhadap muslim lainnya ada enam: beliau ditanya, ‘Apa saja wahai Rasulullah?’, beliau menjawab, ‘1. Apabila engkau bertemu dengannya maka ucapkanlah salam, 2. jika ia mengundangmu maka penuhilah, 3. jika ia meminta nasehat maka nasehatilah, 4. bila ia bersin seraya mengucapkan ‘Alhamdulillah’ (segala puji bagi Allah) maka doakanlah , 5. jika ia sakit jenguklah, dan 6. bila ia mati maka antarkanlah jenazahnya’.” (HR. Muslim no. 2162)

Faidah hadits:

  1. Hak adalah sesuatu yang harus dipenuhi, sehingga keenam hak di atas harus dipenuhi.
  2. Pesan moral yang terkandung, bahwa islam adalah agama yang benar-benar menjunjung tinggi gaya hidup bersosial masyarakat yang baik dan menunjukkan kerukunan antar sesama.
  3. Hak-hak tersebut tidak hanya berlaku antara makhluk yang masih hidup, bahkan sudah mati pun hak tersebut harus ditunaikan oleh yang masih hidup, terbukti adanya hak mengantar jenazah seorang muslim hingga ia dikubur.
  4. Apabila ada orang bersin lalu ia mengucapkan ‘Alhamdulillah’ maka berdoalah untuknya dengan mengucapkan ‘Yarhamukallah’ (Semoga Allah memberikan rahmat kepadamu)

 

  1. Menjunjung tinggi hak tetangga

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ»

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Seseorang tidak masuk surga jika tetangganya merasa terganggu olehnya.” (HR. Muslim no. 46)

Faidah hadits:

  1. Begitu besar hak tetangga dalam islam terutama sesama muslim.
  2. Ancaman keras serta dosa bagi yang mengganggu tetangganya.
  3. Salah satu penafsiran ‘Tidak masuk surga’ di sini adalah bila Allah ta’ala berkehendak, Dia akan menunda seorang muslim memasuki surga-Nya sebab harus menyiksanya terlebih dahulu. Hal ini merupakan akibat dari sikapnya yang gemar mengganggu tetangganya.

 

عَنْ أَبِي شُرَيْحٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ» قِيلَ: وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «الَّذِي لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ»

Dari Abu Syuraih, bahwasanya Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Demi Allah, ia tidak beriman, demi Allah, ia tidak beriman, demi Allah, ia tidak beriman’, beliau ditanya, ‘Siapakah, wahai Rasulullah?’, beliau menjawab, ‘Seseorang yang menyebabkan tetangganya merasa terganggu olehnya’.” (HR. al-Bukhari no. 6016)

Faidah hadits:

  1. Hak tetangga sangat dijunjung tinggi dalam islam.
  2. Akibat dari sikap mengganggu tetangga cukup mengerikan, sampai-sampai beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengulanginya tiga kali.
  3. Tidak beriman di sini para ulama mengartikan bahwa iman seseorang tidak sempurna disebabkan maksiat yang telah ia lakukan yaitu menyakiti tetangga.

 

عَنْ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ» قَالَ: قُلْتُ لَهُ: إِنَّ ذَلِكَ لَعَظِيمٌ، قَالَ: قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ مَخَافَةَ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ» قَالَ: قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ»

Dari ‘Abdullah [bin Mas’ud], ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- , dosa apakah yang terbesar di sisi Allah?’, beliau menjawab, ‘Engkau menjadikan sekutu bagi Allah sedangkan Dia–lah yang telah menciptakanmu’, ia [perawi] berkata, ‘Aku berkata kepada beliau, ‘Sungguh itu merupakan dosa yang sangat besar’, ia berkata, ‘Aku bertanya, ‘Kemudian apa lagi?’, beliau menjawab, ‘Kemudian engkau membunuh anakmu sebab khawatir akan makan bersamamu [sehingga merasa kekurangan]’, ia berkata, ‘Aku berkata, ‘Lantas apa lagi?’, beliau menjawab, ‘Kemudian engkau berzina dengan istri tetanggamu’.” (HR. Muslim no. 86)

Faidah hadits:

  1. Menyekutukan Allah ta’ala merupakan dosa terbesar. Membunuh anak sendiri khawatir akan membuatnya miskin pun termasuk dosa besar.
  2. Besarnya perhatian islam terhadap hak tetangga.
  3. Menundukkan pandangan dari istri tetangga, agar tidak terjerumus ke dalam maksiat yang besar, yaitu berzina dengannya. Na’udzu billahi min dzalik.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَا زَالَ يُوصِينِي جِبْرِيلُ بِالْجَارِ، حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ»

Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- beliau bersabda, “Jibril senantiasa mewasiatkanku tentang tetangga, sampai-sampai aku mengira kelak ia [Jibril] akan memerintahkanku supaya memberikan jatah warisan kepadanya [tetangga].” (HR. al-Bukhari no. 6015 dan Muslim no. 2625)

Faidah hadits:

  1. Menjaga hak tetangga adalah kewajiban setiap muslim.
  2. Begitu mulianya hak tersebut, hingga sang malaikatpun berpesan mengenainya.
  3. Dalam islam, tetangga tidak berhak mendapatkan warisan, kecuali bila ia termasuk ahli waris atau orang yang mendapatkan wasiat dari simayit.

 

  1. Menyingkirkan duri dari jalan termasuk tanda keimanan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ – أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ – شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ

Dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, ‘Iman itu mempunyai tujuh puluh lebih cabang- atau enam puluh lebih – cabang, cabang yang paling tinggi adalah ucapan ‘Tidak ada ilah yang hak selain Allah’, dan cabang paling bawah ialah menyingkirkan gangguang dari jalan, dan rasa malu adalah sebagian dari iman’.” (HR. Muslim no. 35)

Sebuah pemukiman manusia yang biasanya terdiri dari beberapa deret rumah, kebun, halaman, dan jalan umum yang pastinya merupakan tempat lalu-lalang serta akses utama individu masyarakat saat mereka keluar menuju tempat tujuan, baik itu berangkat ke masjid, sekolah, bekerja, dan aktifitas positif lainnya. Maka perlu adanya situasi kenyamanan tersendiri yang tercipta, akses jalan umum pun diharapkan kondusif sehingga tidak ada seorangpun yang merasa terganggu oleh sesuatu yang menghalangi. Dan di antara bukti bahwa islam adalah agama yang cukup besar perhatiannya terhadap kehidupan sosial, pada hadits di atas seorang muslim ditekankan agar menyingkirkan segala sesuatu yang mengganggu masyarakat saat melewati jalan mereka, entah itu berupa duri, ranting, kerikil, bongkahan kayu, dan yang semisalnya, terlebih ia termasuk cabang keimanan. Maka tidak ada alasan lagi bagi seorang muslim untuk meninggalkannya.

  1. Besarnya pahala menyantuni anak yatim

عَنْ سَهْلٍ، قَالَ: رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَأَنَا وَكَافِلُ اليَتِيمِ فِي الجَنَّةِ هَكَذَا» وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالوُسْطَى، وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا

Dari Sahl bahwasanya ia berkata, “Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, ‘Posisi saya dengan orang yang menyantuni anak yatim adalah seperti ini.” Beliau mengisyaratkannya dengan jari telunjuk dan jari tengah dan sedikit merenggangkannya. (HR. al-Bukhari no. 5304)

Status yatim yaitu seorang anak yang ditinggal mati ayahnya saat masih kecil atau belum baligh, mereka tergolongan kalangan lemah yang patut untuk ditolong dan disantuni. Begitu besar pahala yang dijanjikan oleh Allah ta’ala melalui lisan Rasul-Nya yang mulia –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berupa surga yang posisinya berdekatan dengan beliau.

Menyantuninya dan tidak menelantarkannya apa lagi sampai menzhaliminya, karena pelaku kezhaliman terhadap anak yatim memiliki hukuman yang mengerikan dari Allah ta’ala, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisaa`: 10)

Inilah bukti, bahwa islam begitu detail ajarannya terkait kehidupan sosial bermasyarakat, sampai anak yatim pun disebutkan sebagai salah satu anggota masyarakat yang layak untuk dibantu bukan untuk ditelantarkan.

  1. Syariat zakat dan sedekah

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 60)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ، إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ»

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Sadaqah yang [telah ditunaikan] tidak akan mengurangi harta seseorang, seorang hamba yang pemaaf akan Allah tambah kemuliaannya, dan tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 2588)

Harta yang telah disedekahkan tidak akan berkurang. Sekalipun secara kasat mata berkurang, namun pada hakikatnya ia akan membawa keberkahan, keselamatan, dan keberlimpahan penghasilan dengan izin Allah ta’ala. Sama halnya dengan pemilik sifat pemaaf serta tawaduk, maka ia akan terhormat di dunia di samping ia tetap mendapatkan pahala di akhirat kelak. (Syarh an-Nawawi

  1. Syariat berqurban.

Allah ta’ala berfirman,

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

“Daging-daging unta (qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya (hewan qurban) untuk kamu, supaya kamu sekalian mengagungkan Allah atas hidayah-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj: 37)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ، وَلَمْ يُضَحِّ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا»

Dari Abu Hurairah ia berkata, “Bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, ‘Barangsiapa yang memiliki keluasaan harta namun tidak berqurban, maka jangan sampai ia mendekati tempat shalat kami’.” (HR. Ibnu Majah no. 3123)

عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ ضَحَّى مِنْكُمْ فَلاَ يُصْبِحَنَّ بَعْدَ ثَالِثَةٍ وَبَقِيَ فِي بَيْتِهِ مِنْهُ شَيْءٌ» فَلَمَّا كَانَ العَامُ المُقْبِلُ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، نَفْعَلُ كَمَا فَعَلْنَا عَامَ المَاضِي؟ قَالَ: «كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا، فَإِنَّ ذَلِكَ العَامَ كَانَ بِالنَّاسِ جَهْدٌ، فَأَرَدْتُ أَنْ تُعِينُوا فِيهَا»

Dari Salamah bin al-Akwa’ ia berkata, “Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, ‘Barangsiapa di antara kalian berkurban, maka jangan sampai sedikitpun di pagi hari ketiga masih menyisakan daging di rumahnya’, pada tahun berikutnya, mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami melakukan sebagaimana yang kami lakukan tahun lalu?’, beliau bersabda, ‘Makanlah, sedekahkanlah, dan simpanlah, karena sesungguhnya pada tahun tersebut manusia dalam kondisi kekurangan, dan aku ingin kalian menolong mereka saat itu’.” (HR. al-Bukhari no. 5569)

Beberapa faedah dari ayat dan hadits di atas:

  • Berkurban adalah salah satu syi’ar agama islam, yang mesti dijunjung tinggi.
  • Yang akan sampai kepada Allah kelak bukanlah daging dan darah hewan kurbannya, namun ketaqwaan si-pengurban-lah yang akan diterima.
  • Niat berkurban harus murni mengaharap ridha Allah –ta’ala- dan sebagai bentuk penerapan syariat-Nya, serta bukan untuk kepentingan duniawi, terlebih berharap pujian.
  • Kalangan masyarakat ekonomi lemah bisa merasakan apa yang dirasakan oleh kalangan masyarakat yang berkecukupan. Dengan demikian akan terciptalah keseimbangan sosial dan terkikislah kesenjangan.
  • Islam adalah agama yang paling menjaga hubungan sosial antar penghuni masyarakat, buktinya adalah arahan bagi yang berkurban agar membagi hewan kurbannya untuk dimakan sendiri, disedekahkan, dan disimpan untuk stok jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Dan masih banyak bukti-bukti lain yang menunjukkan bahwa Islam adalah agama terdepan dalam pengaturan kehidupan sosial dan satu-satunya agama yang mengajarkan umatnya supaya menjaga hak indivu masing-masing secara lengkap, seimbang, dan sempurna. Karena sang pembuatnya adalah Dzat yangmaha sempurna yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Semoga kita diberi petunjuk oleh-Nya agar senantiasa berpegang teguh terhadap syariat-syariat-Nya, sehingga dapat mengarungi kehidupan di dunia ini secara optimal dan penuh manfaat. Wallahu ta’ala a’lam.

 

Referensi:

  1. Al-Qur`anul Karim.
  2. Aisar at-Tafasir karya Syekh Abu Bakar al-Jaza`iri.
  3. At-Tafsir al-Muyassar.
  4. Shahih al-Bukhari.
  5. Shahih Muslim.
  6. Sunan Abi Dawud.
  7. Sunan at-Tirmidzi.
  8. Sunan Ibni Majah.
  9. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim ibn al-Hajjaj
  10. ‘Aunul Ma’bub syarh sunan abi Dawud, Muhammad Asyraf bin Amir.
  11. Ma’alim as-Sunan, Abu Sulaiman Hamad bin Muhammad al-Khathabi.

 

Delapan sifat hamba Sang Maha Pengasih dalam surah al-Furqan

9 November 2020 by no comments Posted in Ilmu

Delapan sifat hamba-hamba Allah sang maha pengasih di dalam surah al-Furqan (ayat 63-74)

Segala puji hanya milik Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya, shalawat serta salam semoga tercurahkan selalu kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kepada keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang selalu berpijak di atas sunnahnya sampai akhir hayat.

Allah ta’ala menciptakan segenap makhluk, dan di antaranya manusia yang merupakan ciptaan-Nya yang terbaik. Ada beberapa tipe manusia pemilik sifat yang dikategorikan sebagai hamba-hamba sang maha pengasih, meskipun hamba-hamba Allah ta’ala memiliki banyak kriteria, hanya saja, pada pembahasan kali ini, adalah sifat-sifat mereka yang disebutkan dalam surah ini.

Hamba-hamba Allah sang maha pengasih yang ada di muka bumi ini disebutkan di dalam al-Qur`an surah al-Furqan ayat 63-74, di dalam ayat-ayat tersebut Allah ta’ala menyebutkan ciri-ciri mereka secara detail, sehingga jelaslah bahwa bagi siapa pun seorang muslim yang menerapkan siafat-sifat tersebut maka diharapkan termasuk dalam golongan hamba-hamba sang  maha pengasih.

Berikut ini urutan sifat-sifat mereka:

Sifat pertama dan kedua

Allah ta’ala berfirman,

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا (63) وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا (64)

“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “salām,” (63). Dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri (64).” (Qs. al-Furqan: 63-64).

 

Tafsir singkat

Dan hamba-hamba Ar-Rahman (Allah yang Maha Penyayang) yang beriman ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan penuh ketenangan. Apabila orang-orang jahil menyapa mereka dengan keburukan, mereka tidak membalasnya dengan kata-kata yang semisalnya, bahkan mereka hanya mengucapkan kata-kata baik yang dikenal oleh orang-orang jahil tersebut. Dan (mereka itu) adalah orang yang melalui malam hari dalam keadaan bersujud dengan dahi-dahi mereka dan berdiri di atas kaki-kaki mereka untuk salat menyembah Allah.

Faedah ayat:

  • Sifat PERTAMA: Tidak bersikap sombong dan ketika orang-orang mengejeknya maka tidak membalasnya dengan ejekan pula bahkan mendoakan mereka supaya menjadi baik.
  • Sifat KEDUA: Bangun malam untuk mendirikan shalat tahajud.
  • Sombong merupakan sikap tercela dan manusia hakekatnya makhluk yang sangat lemah karenanya tidak ada yang patut disombongkan sedikitpun.
  • Tidak serta-merta seorang muslim membalas ejekan orang lain dengan ejekan yang serupa, justru doakanlah orang tersebut supaya menjadi saleh.

 

Sifat ketiga dan keempat

Allah ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا (65) إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا (66) وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا (67)

“Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami, karena sesungguhnya azabnya itu membuat kebinasaan yang kekal.” (65). “Sungguh, Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” (66). “Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar.” (67). (Qs. al-Furqan: 65-67).

Tafsir singkat

Dan (mereka itu) orang-orang yang berkata tatkala berdoa kepada Rabb mereka, “Wahai Rabb kami! Jauhkan azab Jahanam dari kami, sesungguhnya azab Jahanam itu adalah kebinasaan yang kekal lagi tetap bagi orang yang mati dalam keadaan kafir.” Sesungguhnya Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap bagi yang menempatinya, dan sejelek-jelek tempat kediaman bagi yang mendiaminya. Dan (mereka itu) orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak sampai mengeluarkannya secara berlebihan, dan tidak pula kikir saat membelajakannya dalam perkara wajib baik untuk diri mereka sendiri ataupun orang lain, maka pembelanjaan itu tengah-tengah antara sikap berlebihan dan kikir.

Faedah ayat:

  • SIFAT KETIGA: Berdoa kepada Allah-‘Azza wa Jalla- supaya dijauhkan dari azab Jahannam.
  • SIFAT KEEMPAT: Bersikap pertengahan dalam berinfaq, tidak berlebihan atau sangat perhitungan.
  • Jahannam adalah  seburuk-buruk  tempat  kesudahan  makhluk  di akhirat, karena azabnya tak henti-hentinya ditimpakan kepada penghuninya.
  • Sikap pertengahan dalam berbagai kondisi merupakan salah satu ciri orang islam.

 

Sifat kelima

Allah ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (70) وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (71)

 

“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barang siapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat. (68). “(yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina.” (69). “Kecuali orang-orang yang bertobat dan beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (70). “Dan barang siapa bertobat dan mengerjakan kebajikan, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya.” (71). (Qs. al-Furqan: 68-71).

Tafsir singkat

Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain bersama Allah –subhanahu wa ta’ala-, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan pembunuhannya oleh Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkan Allah, -seperti orang itu adalah pembunuh, murtad, atau orang sudah menikah melakukan zina-, dan mereka tidak pula berzina. Barang siapa melakukan dosa-dosa besar ini, niscaya pada hari Kiamat kelak dia akan mendapat hukuman sebagai balasan dosa yang ia lakukan. Yakni akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari Kiamat kelak dan dia akan kekal merasakan azab itu dalam keadaan terhina dan tercela. Akan tetapi orang-orang yang bertobat kepada Allah, beriman kepada-Nya, dan mengerjakan amal saleh yang menunjukkan kejujuran tobatnya; maka Allah akan mengganti kejahatan yang mereka kerjakan dengan kebajikan. Dan Allah Maha Pengampun atas dosa-dosa orang yang bertobat dari kalangan hamba-hamba-Nya, lagi Maha Penyayang terhadap mereka. Dan orang-orang yang bertobat kepada Allah dan membuktikan kejujuran tobatnya dengan mengerjakan amal saleh dan menjauhi maksiat, maka sesungguhnya tobatnya tersebut benar-benar akan diterima.

Faedah ayat:

  • Sifat KELIMA: Hamba yang bertauhid, tidak membunuh, dan tidak berzina.
  • Hamba yang bertauhid ialah hamba yang hanya beribadah kepada Allah-‘Azza wa Jalla-.
  • Bagi yang menyekutukan Allah-ta’ala- atau berbuat kesyirikan, membunuh (tanpa sebab syar’i), dan berzina maka azabnya akan dilipatgandakan serta kekal di dalamnya.
  • Allah –subhanahu wa ta’ala- akan menerima tobat seseorang yang benar-benar bertobat dan beramal saleh.

 

Sifat keenam dan ketujuh

Allah ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا (72) وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا (73)

“Dan orang-orang yang tidak memberikan kesaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berguna, mereka berlalu dengan menjaga kehormatan dirinya.” (72). “Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidak bersikap sebagai orang-orang yang tuli dan buta.” (73). (Qs. al-Furqan: 72-73).

Tafsir singkat

Dan orang-orang yang tidak menghadiri hal-hal batil; seperti masuk ke tempat-tempat maksiat dan hiburan yang haram. Apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang mengucapkan dan mengerjakan perbuatan yang sia-sia, mereka hanya melewatinya begitu saja sembari menjaga kehormatan diri mereka sendiri yaitu tidak berkumpul dan berbaur dengan mereka. Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Allah yang didengar ataupun dipandang, mereka tidaklah menutup telinga mereka dari mendengar ayat-ayat yang didengar tersebut, dan tidak pula menutup mata mereka dari ayat-ayat yang dipandang tersebut.

Faedah ayat:

  • SIFAT KEENAM: Tidak mau memberikan saksi palsu dan tidak ikut serta dalam kumpulan orang-orang lalai yang tidak membawa faedah dunia maupun akhirat.
  • SIFAT KETUJUH: Bila mendengar ayat-ayat Allah-ta’ala-, mereka pun menyimak dan mengamalkannya.
  • Seorang mukmin sepantasnya meninggalkan perkara yang sia-sia dan tidak bermanfaat, terlebih jika perkara tersebut merugikan akhiratnya, maka lebih layak untuk dihindari.
  • Hendaknya seorang mukmin mendengar nasihat dari saudaranya seiman serta sesegera mungkin mengubah sikapnya yang keliru tersebut.

 

Sifat kedelapan

Allah ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا (74) أُولَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَامًا (75) خَالِدِينَ فِيهَا حَسُنَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا (76) قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلَا دُعَاؤُكُمْ فَقَدْ كَذَّبْتُمْ فَسَوْفَ يَكُونُ لِزَامًا (77)

 

“Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (74). “Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka, dan di sana mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam.” (75). “Mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.” (76). Katakanlah (Muhammad, kepada orang-orang musyrik), “Tuhanku tidak akan mengindahkan kamu, kalau tidak karena ibadahmu. (Tetapi bagaimana kamu beribadah kepada-Nya), padahal sungguh, kamu telah mendustakan-Nya? Karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu).” (77). (Qs. al-Furqan: 74-77).

Tafsir singkat

Dan orang-orang yang berkata dalam berdoa kepada Rabb mereka, “Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri dan anak-anak kami orang yang bisa menjadi penyejuk hati kami karena ketakwaan dan keistikamahannya di atas kebenaran, dan jadikanlah kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa dalam kebenaran, serta sebagai teladan bagi orang lain. Mereka yang memiliki karakter yang disebutkan di atas, adalah orang-orang yang dibalasi dengan kamar-kamar yang tinggi dalam surga Firdaus yang tertinggi, karena kesabaran mereka dalam ketaatan, dan di dalamnya mereka disambut oleh para Malaikat dengan penghormatan dan ucapan selamat, dan di dalamnya pula mereka diselamatkan dari berbagai bahaya. Mereka kekal tinggal di dalamnya. Sungguh Surga itu sebaik-baik tempat tinggal dan tempat kediaman yang mereka tempati. Katakanlah -wahai Rasul- kepada orang-orang kafir yang terus-menerus berada dalam kekafirannya, “Rabbku tidaklah peduli pada kalian karena adanya manfaat ketaatan kalian yang kembali kepada-Nya. Kalaulah bukan karena ada hamba-hamba-Nya yang senantiasa berdoa kepada-Nya dengan doa ibadah dan doa permohonan, niscaya Dia tidak akan mengindahkan kalian. Sungguh kalian telah mendustakan Rasul terkait apa yang dia bawa untuk kalian dari sisi Rabb kalian. Karena itu, kelak balasan pendustaan kalian pasti akan senantiasa mengikuti kalian.”

Faedah ayat:

  • SIFAT KEDELAPAN: Berdoa kepada Allah-subhanahu wa ta’ala- agar dikaruniai keluarga yang saleh dan salehah , menyenangkan hati, serta bisa menjadi panutan kelak bagi orang lain.
  • Bagi seorang mukmin yang memiliki delapan sifat tersebut, akan diberi balasan oleh Allah-‘Azza wa Jalla- berupa kedudukan yang tinggi disurga, disambut dengan penuh penghormatan oleh para malaikat, dan akan kekal di dalamnya.
  • Balasan ini merupakan buah dari kesabaran seorang hamba dalam melakukan ketaatan selama hidupnya di dunia.
  • Semoga kita bisa menerapkan kedelapan sifat hamba Allah-ta’ala- yang tertera dalam surat al-Furqaan ini. Amiin ya Rabbal ‘Alamiin.

 

Kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar diberikan kekuatan untuk tetap istikamah di atas jalannya serta tergolong sebagai hamba-hamba sang maha pengasih yang disebutkan di dalam ayat-ayat di atas. Amiin.

Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, dan pengikutnya yang istikamah di atas jalannya.

Wallahu a’lam.

 

Oleh:  Ahmad Taufik Arizal, Lc.

Referensi:

 

Tetanggamu Bisa Menjadi Pintu Surga atau Nerakamu

8 November 2020 by no comments Posted in Umum

Bisa dipastikan manusia tidak mungkin mampu hidup sendirian. Walaupun hidupnya tercukupi segala kebutuhannya bahkan berlebih..Karena kita sangat membutuhkan orang lain untuk menjadi tetangga kita, maka berusahalah semaksimal mungkin untuk tidak menyakiti tetangga kita. Baik menyakiti fisiknya maupun rohaninya dengan perbuatan ataupun lisan kita. Ketika kita menyakiti tetangga kita, pahala – pahala ibadah yang sudah kita dapatkan akan beralih kepada orang yang kita sakiti.. Perhatikan dan ingat selalu apa yang disabdakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?” Para sahabat menjawab,”Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.”kemudian  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka”.(HR.Ahmad)

Dalam hadits yang lain beliau juga bersabda:

مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang pernah melanggar kehormatan saudaranya atau kedzaliman lainnya maka hendaklah ia meminta maaf darinya sekarang, sebelum (datang hari) yang saat itu tidak berlaku  lagi dinar dan dirham. (padahari itu) jika ia memiliki amal shalih maka, pahala amalannya akan diambil sesuai dengan besarnya kedzaliman yang ia lakukan. Apabila ia tidak memilki amal shalih maka dosa orang yang ia dzalimi akan diambil dan dibebankan kepadanya”(HR. Al Bukhari)

Ada sebuah kisah yang patut kita contoh terkait dengan tetangga. Kisah ini  disebutkan oleh Imam Adz Dzahabi Rahimahullah dalam bukunya Al Kabair (Dosa-dosa Besar); dikisahkan ada seseorang yang berbudi luhur dan berakhlaq mulia yang bernama Sahl bin Abdullah At Tutsari rahimahullah yang mempunyai tetangga Majusi (penyembah api). Tetangganya ini memiliki WC yang bocor dan menetes ke tempatnya. Setiap hari Sahl meletakkan sebuah bejana di bawah tempat menetesnya air itu untuk menampungnya. Kemudian membuang di malam harinya agar tidak diketahui yang lain. Kejadian ini berlangsung dalam waktu yang lama, hingga menjelang beliau wafat Sahl meminta untuk dipanggilkan tetangganya tersebut. Setelah tetangganya yang Majusi tersebut datang Sahl memintanya untuk melihat lubang dari WC yang ia miliki. Orang itu kemudian masuk dan melihatnya kemudian bertanya dengan keheranan: “Apa yang kulihat ini? Sahl menjawab; “Kejadian ini sudah terjadi sudah lama. Air itu menetes dari rumahmu. Aku menampungnya di siang hari dan membuangnya di malam hari. Jika bukan karena sudah dekat ajalku dan kekhawatiranku kepada akhlak selainku yang tidak tahan melihatnya, niscaya aku tidak akan memberitahukan kepadamu tentang hal ini. Sekarang, lakukanlah apa yang kamu inginkan. Orang Majusi tersebut menjawab: “Wahai Syaikh! Anda telah mempergauliku seperti ini sejak lama dan aku masih tetap dalam kekufuranku. Ulurkan tanganmu, aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah dan Muhammad itu utusan Allah”. Setelah itu Sahl meninggal.

Berbuat baik kepada tetangga merupakan salah satu bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Dan sebaliknya, menyakitinya akan menjauhkan kita dari Allah Ta’ala. Jaga kesempurnaan iman dengan berbuat baik kepada tetangga. Ingat selalu apa yang disampaikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ . قِيْلَ: وَ مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: الَّذِيْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

“Demi Allah! Tidak beriman. Demi Allah! Tidak beriman. Demi Allah! Tidak beriman”. Para sahabat yang mendengarnya bertanya:”siapakah yang engaku maksud wahai utusan Allah ? beliau menjawab: “Seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya”. (HR Muttafaqun’alaih).

Imam Baihaqi Rahimahullah berkata; “Diantara cabang keimanan adalah memuliakan tetangga. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala: “Dan berbuat baiklah kalian kepada kedua orang tua, orang-orang miskin, tetangga dekat dan jauh (QS. An Nisa’(4): 36)

Masuklah Surga dengan berbuat baik kepada tetangga dan jagalah dirimu dari Neraka dengan tidak menyakitinya. Apa yang pernah ditanyakan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam patut kita waspadai jangan-jangan kita termasuk di dalamnya. Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam;

يَا رَسُوْلُ اللهِ! إِنَّ فُلاَنَةَ تُصَلِّي اللَّيْلَ وَتَصُوْمُ النَّهَارَ، وَفِيْ لِسَانِهَا شَيْءٌ تُؤْذِيْ جِيْرَانَهَا. قَالَ: لَا خَيْرَ فِيْهَا، هِيَ فِي النَّارِ

 “Wahai utusan Allah! Ada seorang wanita yang banyak mengerjakan shalat, banyak sedekah dan puasa. Namun, ia sering menyakiti tetangganya dengan lisannya” beliau bersabda: “Wanita itu akan masuk Neraka” . (HR. Ahmad dan Hakim. Ibnu Hibban menshahihkannya).

Paling tidak ada sepuluh adab yang hendaknya kita lakukan agar kita tidak termasuk orang yang menyakiti tetangganya;

  1. Menolongnya ketika mereka membutuhkan pertolongan
  2. Memberikan hutang kepadanya saat mereka hendak berhutang dengan kita
  3. Membantu mereka dalam memenuhi kebutuhannya ketika mereka kekurangan
  4. Menjenguknya saat sakit
  5. Memberikan ucapan selamat saat mereka mendapatkan kebahagiaan
  6. Menghiburnya saat tertimpa musibah
  7. Mengiringi Jenazahnya saat meninggal
  8. Tidak menyengsarakan mereka dengan bangunan rumah kita
  9. Tidak menggangunya dengan aroma masakan kita
  10. Membagi makanan yang kita miliki

Sepuluh adab tersebut sumbernya adalah dari orang yang paling baik akhlaqnya kepada tetangga. Dialah utusan Allah yang telah disifati Allah Ta’ala dengan orang yang akhlaqnya sangat agung, dialah Nabi kita Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda; “Bila ia minta pertolongan, tolonglah. Bila ia mau berhutang kepadamu, berilah hutang kepadanya. Bila ia faqir, berilah bantuan. Bila ia sakit, jenguklah. Bila ia mendapatkan kebaikan, berilah ucapan selamat kepadanya. Bila tertimpa musibah, hiburlah. Bila meninggal, iringilah jenazahnya. Jangan engkau halangi ia dengan bangunan rumahmu sehingga ia terhalang untuk mendapatkan angin, kecuali seijinnya. Janganlah engkau mengganggunya dengan aroma masakanmu, kecuali engkau memberinya. Bila engkau membeli buah-buahan, berilah hadiah kepadanya. Bila tidak sanggup memberinya, maka sembunyikanlah dan jangan engkau perbolehkan anak-anakmu membawanya keluar rumah sehingga dapat menimbulkan iri pada anaknya. (HR. Khoro’ithiy. Dirajihkan dan disetujui oleh Al Mundziri)

Pelajaran Penting

  1. Pentingnya berbuat baik kepada tetangga
  2. Perbuatan baik akan berakibat baik dan sebaliknya perbuatan buruk juga akan berakibat buruk
  3. Anjuran bersabar dalam bertetangga
  4. Adab seorang muslim dalam bertetangga diantaranya;
  • Menolongnya ketika mereka membutuhkan pertolongan
  • Memberikan hutang kepadanya saat mereka hendak berhutang dengan kita
  • Membantu mereka dalam memenuhi kebutuhannya ketika mereka kekurangan
  • Menjenguknya saat sakit
  • Memberikan ucapan selamat saat mereka mendapatkan kebahagiaan
  • Menghiburnya saat tertimpa musibah
  • Mengiringi Jenazahnya saat meninggal
  • Tidak menyengsarakan mereka dengan bangunan rumah kita
  • Tidak menggangunya dengan aroma masakan kita
  • Membagi makanan yang kita miliki

 

Menjadi Pendengar Yang Baik

3 November 2020 by no comments Posted in Umum

Sesungguhnya perbuatan manusia akan ditimbang kelak pada hari kiamat. Apabila kebaikannya yang lebih berat, ia akan merasakan kebahagiaan yang belum pernah dirasakan saat di dunia yaitu masuk kedalam surga dan menikmati segala hidangannya. Namun, apabila sebaliknya, keburukannya yang lebih berat, ia merasakan kesengsaraan yang belum pernah dirasaakan sakitnya saat di dunia, yaitu masuk kedalam  Neraka yang penuh dengan berbagai macam sikasaan yang sangat menyakitkan. Hal ini sebagaimana Allah Ta’ala ingatkan kita di dalam Surat Al Qari’ah ayat 6 – 11; “Dan adapun orang-orang yang berat timbangan kebaikannya, maka ia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan kebaikannya. Maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah. Dan tahukah ka,u apakah Neraka Hawiyah itu? Ia adalah api yang sangat panas.”

Untuk itulah setiap manusia hendaknya selalu berusaha beramal dengan amalan yang nantinya mampu memperberat timbangan kebaikannya. Diantara amalan yang akan memperberat timabangan seseorang adalah “Akhlaq yang baik”. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:”Tidak ada sesuatupun yang lebih berat dari Akhlaq yang baik di dalam timbangan manusia.”(HR. Abu Dawud. Dishahihkan oleh Al Albani)

Diantara bentuk akhlaq yang baik adalah “Menjadi Pendengar Yang Baik”. Betapa banyak orang yang awalnya berjauhan tidak saling kenal kemudian jadi dekat karena akhlaq ini. Begitu juga sebaliknya, betapa banyak orang yang awalnya dekat jadi berjauhan karena akhlaq ini. Ada sebuah kata mutiara yang sangat memotifasi “Jadilah Pendengar Yang Baik, Niscya Akan Anda Kuasai Hati Orang Lain.”

Diantara hikmah mengapa Allah Ta’ala jadikan untuk kita dua telinga dan satu mulut adalah agar kita banyak mendengar daripada berbicara. Ketika seseorang bisa menjadi pendengar yang baik, niscaya ia akan lebih banyak hafalan dan ilmunya. Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya dijadikan untukmu dua telinga dan satu mulut agar kamu lebih banyak mendengar dari pada berbicara” (Al Adab Al Islamiyyah Lithtiflil Muslim. Syaikh Abu Ammar Rahimahullah)

Diantara adab mendengar yang hendaknya dilakukan oleh seseorang agar menjadi pendengar yang baik adalah;

  1. Diam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang membersihkan diri dan mandi di hari Jum’at, bersegera (ke masjid), mendekat, mendengar dan diam. Niscaya baginya pahala setiap langkahnya berpahala satu tahun puasa dan shalat.” (HR. At Tirmidzi. Dishahihkan oleh Al Albani rahimahullah)

Dalam Riwayat lain yang diriwayatkan oleh Anas bin malik Radhiyallahu ‘anhu bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang wukuf di Arafah dan matahari hampir tenggelam, lalu beliau bersabda kepada Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu: “Wahai Bilal! Suruhlah orang-orang untuk diam” Bilal radhiyallahu ‘anhupun berdiri dan berkata: “Diamlah kalian semua untuk mendengarkan Rasululullah! Orang-orangpun terdiam kemudian beliau bersabda…..(HR. Ibnul Mabarak. Dishahihkan oleh Syaikh Al Arna’ut)

Al Khabbab Radhiyallahu ‘anhu berkata; “kami pernah duduk dipintu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliaupun menemui kami sambil bersabda: “Dengarkanlah! Kami menjawab: “Kami sudah siap mendengar. Beliau bersabda lagi: “Dengarkanlah! Kami menjawab: “Kami sudah siap mendengar” beliau bersabda lagi: “ Dengarkanlah! Kami menjawab: “Kami sudah siap mendengar” ………(HR. Ibnu Hibban. Dihasankan oleh Syaikh Al arna’ut rahimahullah) terkait dengan hadits ini Prof Dr. Fadhl Ilahi rahimahullah berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengulang sabdanya (Dengarkan) kepada para muridnya hingga tiga kali sebelum berbicara dihadapan mereka – wallahu a’lam- agar mereka diam dan sepenuhnya mendengar apa yang akan disampaikan kepada mereka.(“Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam Sang Guru Yang Hebat. Prof.Dr. Fadhl Ilahi)

 

  1. Tidak Memotong Pembicaraan

Hasan bin Ali Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Wahai anakku! Apabila engkau menyimak pembicaraan ulama’ , hendaklah engkau lebih banyak mendengar daripada berbicara. Belajarlah menjadi pendengar yang baik sebagaiamna engkau belajar menjadi pembicara yang baik. Janganlah kamu memotong pembicaraan seseorang meski panjang lebar hingga ia menyelesaikannya.” (www. Hidayatulloh.com)

Syaikh As Sa’diy rahimahullah berkata: “sesungguhnya merebut pembicaraan orang yang sedang berbicara adalah termasuk adab yang buruk. “(www. Islam.com)

  1. Tidak Merasa Lebih Tahu

‘Atha’ bin Rabah rahimahullah berkata: “sesungguhnya ketika ada seorang pemuda berbicara dengan sebuah pembicaraan, niscaya aku akan mendengarkannya seakan-akan aku belum pernah mendengarnya meskipun aku telah mendengarnya sebelum pemuda itu dilahirkan.” (Al adabul islamiyyah Liththiflil  Muslim)

As Sa’di rahimahullah berkata: “Diantara adab yang baik adalah apabila ada seseorang yang berbicara kepadamu tentang sebuah perkara agama atau dunia, janganlah merebut pembicaraannya meskipun engkau sudah mengetahuinya.”(www.islam.com)

  1. Menghadapkan Wajah

Prof. Dr. Fadhl Ilahi rahimahullah dalam bukunya “Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam Sang Guru Yang Hebat” menyampaikan perkataan orang-orang shaleh terdahulu tentang anjuran menghadapkan wajah kepada orang yang sedang berbicara dengannya. Diantaranya adalah perkataan Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu :”Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atas mimbar, maka kami menghadap beliau dengan pandangan kami.” (HR. At Tirmidzi. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)

Imam At Tirmidzi rahimahullah berkata:”Dalam hal ini (menghadapkan wajah kepada khatib) menurut para ulama’ dari kalangan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan lainnya mengamalkannya adalah Sunnah

Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam bukunya “Fathul Bari” :”Diantara hikmah mereka memandang imam adalah agar mereka siap mendengar perkataannya. Hal ini sebagai bentuk adab dengan imam ketika mendengar pembicaraannya. Apabila ia menghadap dengan wajah,badan dan hatinya serta fikirannya juga hadir, maka akan mempermudah untuk memahami nasehatnya dan sesuai dengan perintah yang harus dia lakukan.”

Al ‘Aini rahimahullah juga berkata:”Hikmah mereka memandang kepada khatib adalah agar mereka fokus untuk mendengar nasehatnya, merenungi pembicaraannya dan tidak sibuk dengan yang lainnya

Pelajaran Penting

  1. Anjuran untuk menjadi pendengar yang baik terutama saat khutbah jum’ah
  2. Diantara bentuk akhlaq yang mulia adalah menjadi pendengar yang baik
  3. Untuk menjadi pendengar yang baik hendaknya melakukan adab-adab berikut;
  • Diam
  • Tidak memotong pembicaraan
  • Tidak merasa lebih tahu
  • Mengahadapkan wajah

KEMATIAN

3 November 2020 by no comments Posted in Fikih Alam Akhirat

Apa Itu Kematian?

Yang dimaksud dengan al-maut (kematian) adalah terputusnya ketergantungan ruh dengan jasad dan berpisahnya antar keduanya. Sehingga, kondisinya akan berubah dan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain (At-Tadzkirah, Al-Qurthubi, hal. 4). Sedangkan, Al-Azhari menyebutkan dari Al-Laits, ia berkata, “Al-Maut (kematian) itu lawan dari al-hayah (kehidupan). Dari kata inilah diambil istilah al-mayyitah.”

Hakikat Kematian

Di tengah masyarakat banyak menyebar pemahaman yang keliru dalam memahami hakikat kematian. Ada sebagian orang berpandangan, bahwa kematian itu sama artinya dengan kepunahan. Artinya, tidak ada pembangkitan dan pembalasan amal kebaikan dan keburukan. Ada sebagian orang berpandangan bahwa orang yang telah mati akan dibangkitkan, namun tidak lagi akan merasakan kenikmatan ataupun siksaan. Ada juga yang berpendapat, bahwa ruh seseorang akan tetap ada dan tidak akan musnah dengan kematian. Dalam pendangan mereka, yang musnah hanya jasadnya saja. Mereka juga berpandangan tidak ada pembangkitan. Semua praduga dan pendapat di atas keliru menurut kacamata Islam. Lantas, seperti apa hakikat kematian menurut Islam?

Menurut pemaparan Imam Al-Qurthubi di atas, dapat disimpilkan bahwa ruh akan tetap eksis setelah berpisah dengan jasad saat kematian. Dan, ruh tersebut akan kembali ke jasad untuk yang kedua kalinya saat di kubur untuk menjalani proses tanya jawab. Allah Ta’ala berfirman :

زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا ۚ قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ ۚ وَذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: “Memang, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. At-Taghabun : 7)

Perlu diketahui bahwa Allah Ta’ala menjadikan bagi manusia dua tempat kembali dan dua pembangkitan. Saat itulah orang yang berbuat dosa akan menerima balasannya dan orang yang berbuat baik akan mendapatkan balasannya. Pertama, saat perpisahan ruh dengan jasad dan tempat kembalinya adalah kubur, negeri pembalasan pertama. Kedua, saat Allah mengembalikan ruh ke jasad dan dibangkitkannya dari kubur untuk menuju surga atau neraka. Inilah yang dinamakan pembangkitan yang kedua. (Lihat kitab Ar-Ruh, Ibnul Qayyim, hal. 99)

Maka, hakikat kematian adalah berpindah dari satu negeri ke negeri yang lain. Hingga, kita menetap di surga dengan berbagai kenikmatannya atau di neraka dengan berbagai bentuk siksaannya. Umar bin Abdul Aziz mengatakan,

إِنَّمَا خُلِقْتُمْ لِلْأَبَدِ ، وَلَكِنَّكُمْ تُنْقَلُونَ مِنْ دَارٍ إِلَى دَارٍ

“Sesungguhnya kalian diciptakan untuk selamalamanya akan tetapi kalian berpindah dari satu negeri ke negeri yang lain.”

Kematian adalah Kiamat Kecil

Setiap orang yang mati, maka telah datang kiamat kecil padanya. Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, “Orang-orang Arab badui datang menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka bertanya: Kapankah kiamat akan tiba? Lalu beliau memandang kepada orang yang paling muda di antara mereka dan bersabda, “Seandainya dia hidup, sebelum dia menjadi tua renta, maka kiamat kalian akan terjadi.” (Shahih Muslim No.5248)

Tidur adalah Kematian Kecil

Tidur adalah saudara kematian. Dalam arti, ada sisi-sisi kesamaan antara kematian dan tidur ini. Tidur disebut juga kematian kecil karena di dalamnya terdapat pengabungan antara kehidupan dan kematian. Maksudnya, di tengah proses tidur sebenarnya ruh sedang meninggalkan jasad. Sehingga, dalam kondisi demikian, tidur tersebut mirip dengan kematian.[1] Oleh karenanya, para ulama menyebutnya Al-Mautush Shughra. Sehingga, saat tidur seperti kematian, dan saat terbangun dari tidur ibarat pembangkitan. Allah Ta’ala berfirman,

وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَىٰ أَجَلٌ مُسَمًّى ۖ ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Al-An’am : 60)

            Berkaitan dengan ayat di atas, Ar-Rabi’ bin Anas menjelaskan, “Yaitu kematian saat tidur. Sebab, tidur adalah saudara kematian.”[2] Hal ini juga ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya,

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” (QS. Az-Zumar : 42)

[1] Ahmad Syauqi Ibrahim, Misteri Tidur Menyingkap Keajaiban di Balik Kematian Kecil (Pustaka Al-Kautsar; Jakarta, 2007), hal. xix.

[2] Tafsir Al-Qurthubi, IV : 100, Al-Maktabah Asy-Syamilah.

Pentingnya Tauhid

30 Oktober 2020 by no comments Posted in Tauhid

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan kita begitu banyak nikmat terutama nikmat Iman.

Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada nabi kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam beserta para keluarganya, para sahabatnya dan para pengikutnya yang senantiasa Setia meniti di atas jalannya.

Akidah merupakan asas dan pondasi, sebuah bangunan tidak akan berdiri kokoh jika tidak ditopang oleh pondasi yang kuat. Akidah statusnya seperti pondasi bagi suatu umat, tatkala akidahnya kuat, benar, serta lurus maka kemajuan dan eksistensi umat pun akan diraih. Akan tetapi bila kondisinya sebaliknya; akidah umat tidak benar, menyelisihi para generasi terbaik umat ini, terpengaruh oleh beragam pemikiran batil, maka tidak mungkin kejayaan umat akan terwujud.

Setiap Rasul menyeru kaumnya untuk berakidah Tauhid, Allah Ta’ala berfirman,

يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia.” (QS. al-A’raf: 59)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)

Ibadah merupakan hak Allah Ta’ala yang harus ditunaikan oleh para hamba-Nya, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada Muadz Bin Jabal, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya,

يَا مُعَاذُ، هَلْ تَدْرِي حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ، وَمَا حَقُّ العِبَادِ عَلَى اللَّهِ؟»، قُلْتُ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى العِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ العِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Wahai Mu’adz, apakah kamu tahu hak Allah terhadap hamba-hamba-Nya dan apa hak para hamba kepada Allah?’, ia menjawab, ‘Hanya Allah dan rasul-Nya yang tahu’, beliau bersabda, ‘Hak Allah kepada para hamba-Nya adalah mereka harus beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun dan hak para hamba kepada Allah, Dia tidak akan menyiksa siapapun yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu.” (HR. al-Bukhari: 2856)

Hak ini harus ditunaikan, karena ia merupakan hak yang paling utama dan tidak ada hak lain yang lebih penting serta paling utama melainkan hak Allah, yaitu wajib menyembah kepada-Nya tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.

Kesyirikan yang pertama terjadi dalam sejarah umat manusia adalah pada kaum Nabi Nuh Alaihissalam ketika mereka memperlakukan orang-orang saleh berlebihan dan mereka angkuh serta enggan menerima dakwah nabi-nabi mereka, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaguts, Ya’uq dan Nasr.” (QS. Nuh: 23)

Wadd, Suwa’, Yaguts, Ya’uq dan Nasr adalah nama-nama berhala yang disembah kaum Nuh yang semula nama-nama orang yang saleh. at-Tafsir al-Muyassar Hal. 571. https://quranenc.com/ar/browse/indonesian_affairs/71#23

Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata di dalam Kitab shahihnya, dari haditsnya Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, ia berkata, “Ini adalah nama-nama orang-orang saleh dari kaum Nuh, tatkala mereka mati setan membisikkan kepada kaumnya agar mereka meletakkan batu-batu di tempat biasanya mereka bermajelis serta menamai batu-batu itu dengan nama-nama orang saleh itu. Mereka pun melakukannya, memang awalnya tidak disembah, namun pada akhirnya orang-orang yang memasang patung tersebut mati dan generasi berikutnya tidak berilmu hingga akhirnya patung-patung tersebut disembah.” (HR. al-Bukhari: 4920)

Imam Ibnu Qayyim  rahimahullah berkata,

“Banyak kalangan ulama dari para salaf mengatakan mengenai Ayat tersebut, tatkala mereka orang-orang saleh mati maka para penduduk berdiam di kuburan orang-orang saleh, lantas membuat patung sosok mereka kemudian seiring berjalannya waktu yang cukup lama, hingga akhirnya disembah.” Ighatsah al-Lahfaan min Mashayid asy-Syaithan karya Muhammad bin Abu Bakar Ibnu Qayyim al-Jauziyah (1/184)

Melalui riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma di atas ada beberapa poin yang bisa kita ambil dari sebab terjadinya kesyirikan pada kaum Nuh Alaihissalam:

Pertama: Bahaya atau mudharat memasang atau memajang gambar-gambar yang bernyawa di dinding karena hal itu bisa mengakibatkan kesyirikan, terutama gambar orang-orang saleh. Hal ini sebagai upaya menutup segala celah yang akan berakibat buruk yaitu kesyirikan.

Kedua: Semangat setan yang cukup besar dalam menyesatkan anak keturunan Adam dan memperdayai mereka: kesesatan bisa melalui sikap terlalu mengedepankan perasaan dalam beragama atau memoles perbuatan batil agar terlihat seolah sebuah amal kebajikan.

Ketiga: Setan tidak hanya menyesatkan generasi yang ada pada masa kini, ia terus-menerus menyesatkan generasi berikutnya hingga hari kiamat. Jika setan gagal menyesatkan generasi yang ada, maka ia senantiasa akan berusaha untuk menyesatkan generasi berikutnya.

Keempat: Tidak meremehkan segala sarana yang dapat mengakibatkan kesyirikan

Kelima: Keutamaan para ulama yang mengamalkan ilmunya dan betapa pentingnya keberadaan mereka di tengah-tengah masyarakat, sementara kehilangan mereka dapat menimbulkan keburukan karena setan tidak mampu atau tidak leluasa untuk menyesatkan suatu kaum sampai para ulamanya tiada.

Wallahu a’lam

Oleh: Akhmad Taufik Arizal, Lc

======================

Disadur dari buku Bayan haqiqah at-Tauhid alladzi ja`a bihi ar-Rusul wa dahdhu asy-Syubuhat allati Utsirat haulahu karya Syekh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan