Terjemah Indonesia Kitab Fiqih Al-Mughni Ibnu Qudamah

25 Oktober 2019 by no comments Posted in FLC Peduli, Hukum, Ilmu

*RESENSI SINGKAT KITAB AL-MUGHNI*

 

DOWNLOAD >> Terjemah Kitab Al-Mughny Part 1-4

 

*A. MUQODDIMAH*

Kitab al-Mughni ( المغني ) karya Muwafiquddin Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah ini adalah di antara deretan khazanah agung ahli sunnah wal-jama’ah dalam bidang pembahasan fiqh Islam.
Kitab al-Mughni merupakan kitab yang disusun sebagai penjelasan (syarah) kitab Mukhtashar al-Kharaqi (الخرقي مختصر ), sebuah kitab fiqh dalam mazhab Hanbali karya Abu al-Qasim ‘Umar bin al-Husain bin ‘Abdullah al-Kharaqi.

Kitab ini dengan membawa methode pembahasan fiqh perbandingan (muqorran) antara mazhab.

Kitab ini sejajar dengan deretan karya-karya fiqh muqorron lainnya. Beliau pun mengemukakan pembahasan-pembahasan fiqh antara mazhab, dalil-dalilnya, dan kemudian menjelaskan kesimpulan yang paling tepat berdasarkan ijtihad beliau.

Beliau juga turut mengemukakan perbedaan pendapat yang berlaku dan berkembang di kalangan para ulama madzab Hanbali dalam berbagai masalah beserta hujjah-hujjah dalilnya.
Kemudian beliau bandingkan dengan pendapat-pendapat dari kalangan ulama mazhab yang lain yaitu mazhab Maliki, Abu Hanifah, asy-Syafi’i, termasuklah beberapa mazhab para ulama yang jarang diketahui seperti mazhab Imam al-Hasan al-Basri, Atha’, Sufyan at-Tsauri, serta beberapa yang lain. Termasuk juga di dalamnya mazhab para sahabat dan para tabi’in.

Kitab al-Mughni ini adalah merupakan termasuk di antara ensiklopedi fiqh Islam dari zaman salaf yang terbaik yang telah disusun dalam format fiqh perbandingan yang mana pada ketika itu kitab-kitab seperti ini masih begitu jarang ditemui.

Oleh kerana itu, para ulama yang berasal dari berbagai mazhab pun memandang kitab ini dengan pandangan penuh penghargaan, penelitian, dan dianggap sebagai salah satu rujukan ulung dalam bidangnya.
Hal Ini sekaligus memberi sumbangsih berharga dalam menangani berbagai isu-isu fanatik kelompok dan mazhab.

Sebagaimana kitab-kitab fiqh lainnya, kitab ini dimulai dengan pembahasan fiqh thaharah, wudhu’, mandi, solat, solat-solat sunnah, pengurusan jenazah, haji dan umrah, zakat, puasa, sehingga kepada pembahasan-pembahasan lainnya yang lebih terperinci dalam berbagai cabang fiqh seperti sembelihan, buruan, pernikahan, jual beli, wasiat, luqatah, hutang piutang, jihad, peperangan, jihad, pemerintahan, banyak lagi yang lainnya.

 

*B. Biografi & Karya Ilmiah*

Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi adalah seorang imam, ahli fiqih dan zuhud, Asy Syaikh Muwaffaquddin Abu Muhammad Abdullah Bin Ahmad Bin Muhammad Ibnu Qudamah al-Hanbali al-Almaqdisi.
Beliau berhijrah ke lereng bukit Ash-Shaliya, Damaskus, dan dibubuhkanlah namanya ad-Damsyiqi ash-Shalihi, nisbah kepada kedua daerah itu. Dilahirkan pada bulan Sya’ban 541 H di desa Jamma’il, salah satu daerah bawahan Nabulsi, dekat Baitul Maqdis, Tanah Suci di Palestina.

Beliau dilahirkan ketika tentara salib menguasai Baitul Maqdis dan daerah sekitarnya. Karenanya, ayahnya, Abul Abbas Ahmad Bin Muhammad Ibnu Qudamah, tulang punggung keluarga dari pohon nasab yang baik ini hijrah bersama keluarganya ke Damaskus dengan kedua anaknya, Abu Umar dam Muwaffaquddin, juga saudara sepupu mereka, Abdul Ghani al-Maqdisi, sekitar tahun 551 H (Al-Hafidz Dhiya’uddin mempunyai sebuah kitab tentang sebab hijrahnya pendududk Baitul Maqdis ke Damaskus).

Kemudian beliau berguru kepada para ulama Damaskus lainnya. Beliau hafal Mukhtasar Al Khiraqi (fiqih madzab Imam Ahmad Bin Hambal dan kitab-kitab lainnya.
Ia memiliki kemajuan pesat dalam menkaji ilmu.
Menginjak umur 20 tahun, beliau pergi ke Baghdad ditemani saudara sepupunya, Abdul Ghani al-Maqdisi (anak saudara laki-laki ibunya) yang keduanya sebaya.
Muwaffaquddin semula menetap sebentar di kediaman Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani, di Baghdad. Saat itu Shaikh berumur 90 tahun. Beliau mengaji kepadany Mukhtasar Al-Khiraqi dengan penuh ketelitian dan pemahaman yang dalam, karena ia telah hafal kitab itu sejak di Damaskus.
Kemudian wafatlah Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani.

Selanjutnya beliau tidak pisah dengan Syaikh Nashih al-Islam Abdul Fath Ibn Manni untuk mengaji kepada belia madzab Ahmad dan perbandingan madzab.
Beliaumenetap di Baghdad selama 4 tahun. Di kota itu juga ia mengkaji hadis dengan sanadnya secara langsung mendengar dari Imam Hibatullah Ibn Ad-Daqqaq dan lainnya.

Setelah itu beliau pulang ke Damaskus dan menetap sebentar bersama keluarganya. Lalu kembali ke Baghdad tahun 576 H.

Di Baghdad dalam kunjungannya yang kedua, ia lanjutkan mengkaji hadis selama satu tahun, mendengar langsung dengan sanadnya dari Abdul Fath Ibn Al-Mnni. Setelah itu ia kembali ke Damaskus.

Pada tahun 574 H beliau menunaikan ibadah haji, seusai pulang ke Damaskus,di sana beliau mulai menyusun kitabnya Al-Mughni Syarh Mukhtasar Al-Khiraqi (fiqih madzab Imam Ahmad Bin Hambal).

Kitab ini tergolong kitab kajian terbesar dalam masalah fiqih secara umum, dan khususnya di madzab Imam Ahmad Bin Hanbal.
Sampai-sampai Imam ‘Izzudin Ibn Abdus Salam As-Syafi’i, yang digelari Sulthanul ‘Ulama mengatakan tentang kitab ini: “Saya merasa kurang puas dalam berfatwa sebelum saya menyanding kitab al-Mughni”.

Banyak para santri yang menimba ilmu hadis kepada dia, fiqih, dan ilmu-ilmu lainnya. Dan banyak pula yang menjadi ulama fiqih setelah mengaji kepada dia. Diantaranya, keponakannya sendiri, seorang qadhi terkemuka, Syaikh Syamsuddin Abdur Rahman Bin Abu Umar dan ulama-ulama lainnya seangkatannya.

Di samping itu beliau masih terus menulis karya-karya ilmiah di berbagai disiplin ilmu, lebih-lebih di bidang fiqih yang dikuasainya denagn matang. Beliau banyak menulis kitab di bidang fiqih ini, yang kitab-kitab karyanya membuktikan kamapanannya yang sempurna di bidang itu.

Sampai-sampai beliau menjadi buah bibir orang banyak dari segala penjuru yang membicarakan keutamaan keilmuan dan munaqib (sisi-sisi keagungannya).

Imam Ibnu Qudamah wafat pada tahun 629 H. Beliau dimakamkan di kaki gunung Qasiun di Shalihiya, di sebuah lereng di atas Jami’ Al-Hanabilah (masjid besar para pengikut madzab Imam Ahmad Bin Hanbal).

 

*KARYA ILMIAH*

Karya-karya ilmiah beliau yang banyak lagi sangat bermutu dan tulisan-tulisan yang bermanfaat di bidang fiqih dan lainnya,
diantaranya:

1. Lum’atul I’tiqad al-Hadi ila Sabilur Rasyad
2. Al-‘Umdah fil fiqh (untuk pemula)
3. Al-Muqni (untuk pelajar tingkat menengah)
4. Al-Kafi (di kitab ini dia paparkan dalil-dalil yang debgannya para pelajar dapat menerapkannya dengan praktik amali)
5. Al-Mughni Syarh Mukhtasar Al-Khiraqi ( di dalam kitab ini dia paparkan dasar-dasar pikiran/madzab Ahmad dan dalil-dalil para ulama’ dari berbagai madzab, untuk membimbing ilmuwan fiqih yang berkemempuan dan berbakat ke arh penggalian metode ijtihad)
6. Manasik al-Hajj.
7. Rawdhat an-Nazhir (Ushul al-Fiqih)
8. Mukhtasar fi Gharib al-Hadits
9. Al-Burhan fi Mas’alat al-Quran.
10. Al-Qaqdr.
11. Fdha’il ash-Shahabah.
12. Al-Mutahabbin Fillah.
13. Al-Riqqah wal Buka’.
14. Dzamm at-Ta’wil.
15. Dzamm al-Muwaswasin.
16. Al-Tbyin fi Nasab al-Qurassiyin.
17. Minhaj Al-Qashidin

*C. Perkataan Ulama Tentang Beliau:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : ”setelah Al-Auza’i, tidak ada orang yang masuk ke negri Syam yang lebih mapan di bidang fiqih melebihi Al-Muwaffaq”.

Ibnu Ash-Shalah berkata: ”Saya tidak pernah melihat orang sealim seperti Al-Muwaffaq”.

Imam Adz-Dzahabi berkata: “Dia termasuk salah seorang dari para imam yang ternama dan pengarang beberapa kitab.”

Ibnu Katsir berkata:”Dia adalah Syaikhul Islam, seorang Imam yang alim dan pandai, tidak ada orang di zamannya dan juga zaman sebelumnya dalam waktu yang berdekatan yang lebih faqih dari dia.”

Imam Ibnu Muflih -rahimahullah- (wafat: 763 H) berkata, “Muwaffaquddin Ibnu Qudamah telah menyibukkan dirinya dalam menyusun sebuah kitab tentang Islam, cita-cita beliau tersebut pun tercapai.
Kitab beliau ini merupakan kitab yang sangat bagus dalam mazhab Hambali.
Beliau telah berjasa menyusun kitab tersebut dan telah melakukannya dengan baik sekali. Kitab beliau telah menghiasi mazhab Hambali dan telah dibaca oleh banyak orang (para penuntut ilmu) di hadapannya.”

Pengarang kitab Al-Wafi bi Al-Wafayat, Imam Sholahuddin Shofdi -rahimahullah- (wafat: 764 H) mengatakan, “Beliau (Ibnu Qudamah) adalah orang nomor satu pada masanya.
Beliau adalah imam yang sangat menguasai ilmu khilaf (perbedaan pendapat di kalangan ulama dan mazhab), ilmu fara’idh, ushul fiqih, fiqih, ilmu nahwu, hisab, serta astronomi dan al-manak. Dalam kurun masa tertentu, beliau telah menjadikan orang ramai (pada masanya) sibuk untuk mengkaji kitab al-Khiraqi, al-Hidayah, dan kemudian kitab Mukhtashar al-Hidayah.

Setelah itu, beliau menjadikan orang ramai sibuk pula untuk mengkaji (mendalami) kitab-kitab hasil tulisannya.

 

*D. RANGKUMAN ISI*

Seperti kitab fiqh umumnya kitab ini menjelaskan per bab tiap bidang ilmu yang dimulai dari bersuci Sholat Puasa, dan seterusnya,
Muqoddimah dan mengenal imam ibnu qudamah kemudian
Hukum Bersuci, Sholat, Azan, & Iqamah, Zakat Fitrah, Qurban, Jenazah, Zakat, Puasa, Haji & Umroh, Bersumpah, Nazar, perburuan, Penyembelihan, Aqiqah, makanan & minuman, pakaian & perhiasan, dan kaffarooh.
Bab Nikah dan yang berkaitan dengan nikah, Poligami, Rukun, muth’ah, Nusyuz, Fasakh, Talaq, Iddah, Nafaqoh, Penjagaan anak, penyusuan, Keturunan, Anak angkat, Wakaf, Wasiat, pemegang amanah,dan Ilmu faroidh. Jual beli, Khiar, al-Iqolah, Salam, Kontrak Jual beli, riba, Sarf, al-qordh, hutang, hiwalah, pinjaman, syarikat, kifalah, ghodob, jinayat, qisos, diyad, hudud, zina, minum arak, mencuri, murtad, jihad, hiburan, penghakiman, dakwaan, bukti, sumpah pengakuan, pemimpin dan
Daftar isi.

Perlu diketahui bahwa dalam tiap penjelasan hadits disebutkan beberapa pembahasannya serta definisi secara harfiah maupun istilah dan maksud serta contoh jelasnya dan sumbernya, sehingga kitab ini baik bagi kita untuk menjadi salah satu referensi dalam bidang ilmu fiqh yang kita miliki.terutama yang mempelajari perbandingan madzhab fiqh.

DOWNLOAD >> Terjemah Kitab Al-Mughny Part 1-4

Keistimewaan Bulan Muharram Menurut Alquran dan Hadits

10 September 2019 by no comments Posted in Umum

Banyak sekali keistimewaan bulan Muharram karena ini merupakan salah satu dari empat bulan haram dalam Islam. Selain Muharram, ada pula bulan Dzulqa’dah, Dzulhijah dan Rajab. Di waktu inilah pahala dapat berlipat ganda apabila kita menjalankan amalan-amalan yang dianjurkan.

Bulan Muharram sendiri adalah bulan pertama dalam tahun Hijriyah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bulan ini sebagai bulan Allah atau syahrullah. Jika Rasulullah saja mengatakan demikian, pastinya ada sesuatu yang benar-benar istimewa di bulan ini.

Keutamaan Bulan Muharram

Dalam bahasa Arab, Al-Muharram memiliki arti waktu yang diharamkan. Apa yang haram? Tentu saja haram untuk melakukan perbuatan maksiat atau menzalimi diri sendiri. Jadi di bulan ini apabila seorang muslim melakukan maksiat, dosanya akan berlipat.

Itulah keistimewaan bulan Muharram yang ditegaskan lewat firman Allah Ta’ala dalam Surah At-Taubah ayat 36.

ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ ﲔ ﲕ ﲖ ﲗ ﲘ ﲙ ﲚ  ﲛ ﲜ ﲝ ﲞ ﲟ ﲠ ﲡ ﲢ  ﲣ ﲤ ﲥﲦ ﲧ ﲨ ﲩﲪ ﲫ ﲬ ﲭ  ﲮﲯ ﲰ ﲱ ﲲ ﲳ  ﲴ ﲵﲶ ﲷ ﲸ ﲹ ﲺ ﲻ ﲼ  ﱠ التوبة: ٣٦

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (Attaubah, 9: 36)

Dari 12 bulan, Allah telah menetapkan adanya empat bulan haram yang istimewa. Janganlah di antara umatnya menganiaya diri di keempat bulan tersebut.

Lanjutan ayat tersebut menjelaskan bahwa berbuat dosa di bulan-bulan haram lebih berbahaya daripada bulan lain. Penjelasan ini seolah makin menegaskan bahwa betapa istimewanya bulan Muharram bagi Allah Ta’ala. Namun juga sebaliknya, jika berbuat kebaikan maka pahalanya akan dilipat ganda kan.

Amalan yang Dianjurkan

Pada bulan Muharram ini, setidaknya ada dua amalan yang dianjurkan agar kita bisa mendapat pahala yang berlipat. Dua amalan tersebut adalah puasa Asyura dan Tasu’a.

Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa puasa pada bulan Muharram setelah Ramadhan amatlah utama. Begitu seperti yang disampaikan dalam hadis Sahiih Muslim 1165 dan Jaami’ At-Tirmidziy 438.

Bila merujuk dari riwayat hadis di atas, apakah semua jenis puasa sunah juga dianjurkan? Ya, bukan hanya Asyura dan Tasu’a, tetapi juga puasa lain seperti puasa Daud atau puasa Senin Kamis.

Intinya sepanjang bulan Muharram, yang juga disebut bulan Allah, jalankanlah segala perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Ingat betapa istimewanya bulan ini sehingga pahala kita bisa dilipat gandakan apabila berbuat kebaikan.

Dengan berbuat kebaikan, diharapkan juga kita bisa menjadi umat Islam yang lebih mencintai Rabb-nya. Sehingga kebaikan tersebut dapat berlanjut di bulan-bulan berikutnya.

Itulah tadi sedikit ulasan tentang apa keistimewaan bulan Muharram menurut Al-Qur`an dan Hadits. Terus dukung FLC agar bisa belajar Islam dan berdakwah bersama. Caranya dengan berbelanja di FLC Store https://www.fiqhlearningcenter.com/store

 

Atau Donasi Dakwah

Transfer melalui

BNI Syariah:

No. Rekening: 05 875 875 55

a.n (Ustadz) Muhamad Taufiq

 

Ingin menjadi sponsor?

Hubungi WA 085777552201 untuk informasi lebih lanjut.

Amalan yang baik Dilakukan Sepanjang Bulan Muharram

10 September 2019 by no comments Posted in Umum

Bulan Muharram mempunyai nilai yang istimewa. Ada banyak amalan baik dan bisa membuahkan banyak pahala bila dilakukan di bulan ini. Pasalnya, Muharram adalah satu dari empat bulan suci dalam Islam yang disebut-sebut memiliki keberkahan tersendiri.

3 Hal yang Baik Dilakukan pada Bulan Muharram

Sebagai umat muslim tentu sebaiknya kita menghindari perbuatan maksiat, apalagi di bulan suci Muharram. Daripada melakukan yang tidak bermanfaat, lebih baik jalankan amalan-amalan yang baik dilakukan sepanjang Muharram ini. Apa saja itu? Berikut ulasannya yang telah dirangkum oleh Fiqih Learning Center.

1. Puasa Tasu’a

Seperti di bulan suci lainnya, di bulan Muharram juga ada tanggal-tanggal tertentu yang disarankan agar kita berpuasa. Tepatnya pada tanggal 9 di bulan Muharram yang bernama puasa Tasu’a. Ini adalah puasa satu hari sebelum puasa Asyura pada tanggal 10.

Imam Nawawi RA mengatakan bahwa puasa Tasu’a ini dijalankan untuk membedakan dengan kaum Yahudi.

Rasulullah SAW sebenarnya ingin melakukan puasa di hari kesembilan Muharram. Sebab saat itu tanggal 10 Muharram bertepatan dengan hari penting bagi Yahudi dan Nasrani. Sayangnya, Allah berkehendak lain dan terlebih dahulu menjemput Rasulullah sebelum Muharram berikutnya.

2. Puasa Asyura

Amalan berikutnya adalah puasa Asyura, yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram. Jika menjalankan puasa Arafah akan menggugurkan dosa setahun ke depan, puasa Asyura adalah kebalikannya. Keutamaan puasa bulan Muharram ini Asyura dapat menggugurkan dosa selama satu tahun sebelumnya.

Rasulullah shallallahu ’alihi wa sallam bersabda,

”وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُوْرَاء أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ”

“Aku berharap pada Allah agar puasa di hari ‘Asyura’ (tanggal sepuluh bulan Muharram) bisa menghapuskan dosa satu tahun lalu”. (HR. Muslim dan Ahmad dari Abu Qatadah)

Rasulullah SAW menyebutkan bahwa puasa di bulan Allah, Muharram, adalah puasa yang amat mulia setelah Ramadhan. Jadi jangan pernah ragu untuk menjalankannya.

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam,

“أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ”

“Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadhan adalah bulan Allah; Muharram. Dan shalat paling utama sesudah shalat fardhu adalah shalat malam”. HR. Ahmad dan Muslim dari Abu Hurairah.

3. Bersedekah pada anak yatim

Amalan baik yang ketiga adalah memberikan sedekah kepada anak yatim. Apabila melakukan amalan tersebut pada bulan suci Muharram, maka nilainya amat luar biasa. Allah akan menaikkan derajat seseorang yang memberikan santunan kepada anak yatim di bulan istimewa ini.

Bahkan menurut HR Bukhari, Rasulullah menggambarkan santunan kepada anak yatim itu dengan amat sederhana. Sesederhana mengusap kepala anak yatim, yang mana pada setiap helai rambut akan mengangkat satu derajat orang tersebut.

Itulah beberapa anjuran yang baik dilakukan pada saat bulan Muharram tiba. Amalan lain yang tak kalah penting misalnya seperti menyambung silaturahmi, banyak zikir dan melakukan taubat.

Dukung Dakwah FLC dengan berbelanja di FLC Store https://www.fiqhlearningcenter.com/store

 

Atau Donasi Dakwah

Transfer melalui

BNI Syariah:

No. Rekening: 05 875 875 55

a.n (Ustadz) Muhamad Taufiq

 

Ingin menjadi sponsor?.

Hubungi WA 085777552201 untuk informasi lebih lanjut.

Ini Amalan di Bulan Muharram yang Menyimpang

8 September 2019 by no comments Posted in Hukum

Menjalankan berbagai amalan di bulan Muharram insya Allah akan memberikan banyak pahala. Tetapi, ada sebagian umat muslim yang menyikapinya secara berlebihan. Sehingga, justru mereka mengamalkan amalan-amalan yang masuk kategori menyimpang.

Amalan di Bulan Muharram yang Sebaiknya Tidak Dilakukan

Boleh bersemangat mencari pahala, tetapi segala sesuatunya tetap harus dipahami dan dipelajari dengan baik. Untuk itulah FLC hadir sebagai tempat belajar fiqih digital yang mudah diakses di mana saja. Nah, hal apa saja yang sebaiknya tidak perlu dilakukan pada bulan Muharram?

1. Menganggap bulan keramat

Sungguh tidak baik apabila Anda menganggap bulan suci Muharram sebagai bulan keramat. Keyakinan seperti ini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat. Sampai-sampai ada yang enggan menikah di bulan Muharram karena dianggap bisa membawa sial.

Padahal ini tidaklah benar dan hanya kepercayaan jahiliyyah semata. Tidak ada sangkut pautnya antara bulan Muharram atau bulan istimewa lainnya dengan kesialan.

Dari segi syariat, bulan Muharram adalah bulan yang mulia dan termasuk dalam 4 bulan istimewa yang diharamkan Allah.

Di bulan ini disunnahkan untuk memperbanyak puasa. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam,

“أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ”

“Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadhan adalah bulan Allah; Muharram. Dan shalat paling utama sesudah shalat fardhu adalah shalat malam”. HR. Ahmad dan Muslim dari Abu Hurairah.

2. Memperingati tahun baru Hijriah

Dalam As-Sunnah, tidak ada dalil yang menganjurkan bahwa harus ada peringatan di setiap tahun baru Hijriah. Tidak diragukan lagi perkara tersebut masuk dalam kategori penyimpangan yang buruk.

3. Puasa di awal tahun Hijriah

Masih banyak yang meyakini anjuran puasa diawal tahun hijriyah atau awal bulan Muharram. Apakah benar demikian?

Sebenarnya tidak ada dalil tentang puasa di awal tahun Hijriah. Ini bisa dikategorikan sebagai penyimpangan dan seharusnya tidak perlu dilakukan.

Di bulan Muharram, sudah ada puasa sunnah yang bisa dijalankan, yaitu puasa tasu’a dan asyura pada tanggal 9 dan 10. Rasulullah shallallahu ’alihi wa sallam bersabda,

”وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُوْرَاء أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ”

“Aku berharap pada Allah agar puasa di hari ‘Asyura’ (tanggal sepuluh bulan Muharram) bisa menghapuskan dosa satu tahun lalu”. (HR. Muslim dan Ahmad dari Abu Qatadah)

Disebutkan oleh Imam Nawawi rahimahullah bahwa Imam Asy Syafi’i dan ulama Syafi’iyyah, Imam Ahmad, Ishaq dan selainnya mengatakan bahwa dianjurkan (disunnahkan) berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh sekaligus; karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat (berkeinginan) berpuasa juga pada hari kesembilan.

Apa hikmah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menambah puasa pada hari kesembilan? An Nawawi rahimahullah melanjutkan penjelasannya.

Sebagian ulama mengatakan bahwa sebab Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bepuasa pada hari kesepuluh sekaligus kesembilan agar tidak tasyabbuh (menyerupai) orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja. Dalam hadits Ibnu Abbas juga terdapat isyarat mengenai hal ini. Ada juga yang mengatakan bahwa hal ini untuk kehati-hatian, siapa tahu salah dalam penentuan hari ’Asyura’ (tanggal 10 Muharram). Pendapat yang menyatakan bahwa Nabi menambah hari kesembilan agar tidak menyerupai puasa Yahudi adalah pendapat yang lebih kuat. Wallahu a’lam. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 15.

  1. Doa di hari Asyura

Membaca doa-doa tertentu dengan jumlah tertentu dengan iming-iming Allah akan menjaga pada hari itu. Padahal, tidak ada asal muasal yang jelas tentang ucapan tersebut. Nabi dan para sahabat pun tidak pernah menyampaikan itu.

Tidak terdapat dalil, baik dalam hadis lemah maupun hadis yang sahih. Akhirnya, doa di hari Asyura yang secara spesifik disebutkan itu dianggap batil dan mungkar. Adapun doa yang dimaksud adalah HasbiyAllah wa Ni’mal Wakil an-Nashir.

Jadi itulah amalan di bulan Muharram yang sebaiknya dihindari karena menyimpang.

Join Chanel Telegram t.me/fiqhlearningcenter

 

Agar bisa terus mendapatkan informasi dan dakwah dari FLC, Dukung Dakwah FLC dengan berbelanja di FLC Store https://www.fiqhlearningcenter.com/store

 

Atau Donasi Dakwah

Transfer melalui

BNI Syariah:

No. Rekening: 05 875 875 55

a.n (Ustadz) Muhamad Taufiq

 

Ingin menjadi sponsor?.

Hubungi WA 085777552201 untuk informasi lebih lanjut.

Wahai Para Pengkhianat kelak Kalian di Akhirat tidak bisa melakukan pencitraan publik!

12 Juni 2019 by no comments Posted in Hadits

عن عبد الله بن عمر -رضي الله عنهما- مرفوعاً: إذا جمع الله -عز وجل- الأَوَّلِينَ والآخِرين: يرفع لكل غادر لِوَاءٌ، فيقال: هذه غَدْرَةُ فلان بن فلان
[صحيح] – [متفق عليه]

 

Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu ‘anhuma- secara marfū`: “Ketika Allah mengumpulkan umat-umat yang terdahulu dan umat-umat yang terakhir (kelak di hari kiamat), maka akan dikibarkan bendera bagi setiap pengkhianat, lalu dikatakan: “Ini adalah bendera si pengkhianat fulan bin fulan”. (Muttafaq alaih)

 

PENJELASAN

 

Ketika Allah mengumpulkan umat-umat yang terdahulu dan umat-umat yang terakhir pada hari kiamat, maka setiap pengkhianat dibawa bersama tanda pengkhianatannya, yaitu bendera yang disertakan kepadanya sehingga tersingkaplah aibnya di tengah-tengah manusia.

Fiqih Ramadhan dan Itikaf

28 Mei 2019 by no comments Posted in Hadits, Ilmu

Play Audio

Pemateri: Ustadz Muhamad Taufiq, Lc

 

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: كان النبي-صلى الله عليه وسلم- يعتكف في كل رمضان عشرة أيام، فلما كان العام الذي قُبِضَ فيه اعتكف عشرين يوماً.
[صحيح.] – [رواه البخاري.]

 

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu-, dia berkata, Dahulu Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- beri’tikaf setiap bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun beliau wafat, beliau beri’tikaf dua puluh hari.

 

PENJELASAN HADITS

Dahulu Nabi -‘alaihiṣṣalātu was sallām- berdiam di masjid, memfokuskan diri guna beribadah kepada Allah setiap bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Kala itu beliau beri’tikaf sepuluh hari di pertengahan bulan, dengan harapan mendapati lailatul qadar. Setelah beliau mengetahui bahwa lailatul qadar ada di sepuluh hari terakhir, beliau beri’tikaf di hari-hari itu. Kemudian pada tahun beliau wafat, beliau beri’tikaf dua puluh hari, sebagai tambahan ketaatan dan taqarrub kepada Allah –Ta’ālā-.

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun

15 Mei 2019 by no comments Posted in Muslimah, Umum

إنا لله وإنا إليه راجعون

Telah meninggal dunia Mama Andhi Bakri Almarhum), ibunda dari Asy Syaikh Nurman Bakri, Lc. Dipl, dan Ustadz Muhamad Taufiq, Lc.

Mama menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. M. Jamil Padang, pada hari Selasa, tanggal 9 Ramadhan 1440 H, bertepatan dengan 14 Mei 2019 M, pada jam 10.13 Pagi, yang sebelumnya sejak awal April melakukan rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Rasidin Padang, kemudian di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. M. Jamil Padang, karena penyakit Maag Kronis dan penyakit Jantung yang diderita Mama.

 

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَها ، وارْحَمْهَا ، وعافِهِا ، واعْفُ عنْها ، وَأَكرِمْ نُزُلَها ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَها واغْسِلْها بِالماءِ والثَّلْجِ والْبرَدِ ، ونَقِّها منَ الخَـطَايَا، كما نَقَّيْتَ الثَّوب الأبْيَضَ منَ الدَّنَس ، وَأَبْدِلْها دارًا خيراً مِنْ دَارها ، وَأَهْلاً خَيراً منْ أهْلِهِا، وزَوْجاً خَيْراً منْ زَوْجِهِا ، وأدخلها الجنَّةَ ، وَأَعِذْها منْ عَذَابِ القَبْرِ ، وَمِنْ عَذَابِ النَّار

 

Semoga Allah mencurahkan rahmat, nikmat- Nya kepada Mama Andhi Bakri tercinta, dan kepada seluruh arwah kaum muslimin muslimat.

Bagaimana Seorang Hamba Mensyukuri Nikmat Allah?

22 Maret 2019 by no comments Posted in Tanya Jawab Islam

Pertanyaan

Apa amalan terbaik yang dilakukan seseorang untuk bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada kita?

Jawaban

Pertama:

Syukur adalah balasan atas kebaikan. Serta sanjungan terbaik kepada orang yang telah memberikan kebaikan. Yang paling berhak mendapatkan syukur dan sanjungan seorang hamba adalah Allah Jalla Jalaluhu. Karena agungnya kenikmatan yang diberikan kepada para hamba-Nya baik agama maupun dunia. Dimana Allah telah memerintahkan kepada kita untuk mensyukuri nikmat-nikmat itu dan tidak mengingkarinya. Allah berfirman:

  فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ

البقرة/ 152

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” QS. Al-Baqarah: 152

Kedua:

Orang yang paling besar menunaikan perintah ini dan menyukuri Tuhannya serta berhak mendapatkan gelar Orang yang bersyukur dan Pandai bersyukur adalah para Nabi dan dan para utusan-Nya alaihimus salam.

Allah berfirman:

  إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتاً لِلَّهِ حَنِيفاً وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ . شَاكِراً لَأَنْعُمِهِ اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

النحل/ 120 ، 121

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.” QS. An-Nahl: 120-121.

Allah juga berfirman yang artinya, “(yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” QS. Al-Isro’: 3.

Ketiga:

Allah telah menyebutkan sebagian nikmat-nikmat-Nya kepada para hamba-Nya dan memerintahkan mereka untuk mensyukurinya. Dan Allah memberitahukan kepada kita bahwa sedikit sekali diantara hamba-hamba-Nya yang menunaikan syukur kepada-Nya. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ 

البقرة: 172

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” QS. Al-baqarah: 172

وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ قَلِيلاً مَا تَشْكُرُونَ

الأعراف/ 10

“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.” QS. Al-A’raf: 10

Diantara firman-Nya lagi yang artinya, “Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) supaya kamu dapat mencari karunia-Nya; mudah-mudahn kamu bersyukur.” QS. Ar-Rum: 46.

Diantara kenikmatan dunia adalah firman Allah ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” QS. Al-Maidah: 6

Dan nikmat-nikmat lainnya yang begitu banyak. Kami sebutkan sebagian kecil saja, kalau semuanya tidak akan mungkin bisa menghitungnya. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ الْأِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

إبراهيم: 34

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” QS. Ibrohim: 34.

Kemudian Allah memberikan kepada kita kenikmatan-kenikmatan, dan telah mengampuni kita atas kekurang dalam menyukuri nikmat-nikmat tersebut, seraya berfirman :

  وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

  النحل: 18

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS. An-Nahl: 18.

Seorang muslim hendaknya senantiasa memohon kepada Tuhannya untuk membantunya dalam bersyukur kepada-Nya. Kalau bukan karena taufiq dan bantuan Allah kepada hamba-Nya. Maka tidak akan mendapatkan kesyukuran. Oleh karena itu dianjurkan dalam sunah yang shoheh meminta bantuan kepada Allah untuk dapat bersyukur kepada-Nya.

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ بِيَدِهِ وَقَالَ :   يَا مُعَاذُ ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ ، فَقَالَ : أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ : اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ ، وَشُكْرِكَ ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ   .
رواه أبو داود ( 1522 ) والنسائي ( 1303 ) ، وصححه الألباني في ” صحيح أبي داود

“Dari Muad bin Jabal sesungguhnya Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam memegang tangannya seraya mengatakan, “Wahai Muad, demi Allah saya cinta kepadamu karena Allah. Demi Allah saya cinta kepadamu karena Allah. Beliau melanjutkan,”Saya wasiatkan kepada wahai Muad, jangan engkau tinggalkan setiap selesai shalat berdoa:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ ، وَشُكْرِكَ ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah bantulah saya untuk mengingat dan mensyukuri kepada-Mu serta memperbaiki ibadah kepada-Mu. HR. Abu Dawud, 1522. Nasa’I, 1303. Dinyatakan shoheh oleh Albani di Shoheh Abi Dawud.

Dan bersyukur terhadap nikmat menjadi sebab bertambahnya nikmat sebagaimana Allah firmankan:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

إبراهيم/ 7

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” QS. Ibrohim: 7

Keempat:

Bagaimana seorang hamba bersyukur kepada Tuhannya atas nikmat yang agung ini? Bersyukur depat dengan merealisasikan pilar-pilarnya, yaitu syukur hati, syukur lisan dan syukur anggota badan.

Ibnu Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Bersyukur bisa dengan hati dengan cara khudu’ (merendahkan diri) dan menyandarkan kepada-Nya. Secara lisan dengan menyanjung dan mengakuinya. Secara anggota tubuh dengan ketaatan dan pelaksanaan. “Madarijus salikin, 2/246.

Penjelasan hal itu adalah:

  1. Syukur hati, artinya hati merasakan harga suatu kenikmatan yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Menguatkan dalam hatinya pengakuan bahwa pemberi nikmat-nikmat nan agung ini adalah Allah saja tiada sekutu bagi-Nya Allah berfirman:

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّهِ

النحل/ 53

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)” QS. An-Nahl: 53

Pengakuan ini bukan sekedar anjuran akan tetapi merupakan suatu kewajiban. Siapa yang menyandarkan kenikmatan ini kepada selain Allah, maka dia telah kafir.

Syekh Abdurrahman As-Sa’dy rahimahullah mengatakan, “Seharusnya seorang hamba menyandarkan semua kenikmatan kepada Allah saja baik ucapan maupun pengakuan. Hal itu dapat menyempurnakan ketauhidan. Siapa yang mengingkari nikmat-nikmat Allah dengan hati dan lisannya, maka dia telah kafir. Tidak mendapatkan bagian apapun dari agama.

Siapa yang menetapkan dengan hati bahwa semua kenikmatan hanya dari Allah semata, terkadang dengan lisannya menyandarkan kepada Allah dan terkadang menyandarkan kepada diri dan perbuatannya serta usaha orang lain –sebagaimana yang seringkali terucap pada kebanyakan orang – maka dia harus bertaubat. Dan jangan menyandarkan kenikmatan melainkan kepada pemiliknya. Dan dirinya harus berusaha dengan kuat untuk (mendapatkan) hal itu. Keimanan dan ketauhidan tidak dapat direalisasikan kecuali dengan menyandarkan semua kenikmatan kepada Allah baik ucapan maupun pengakuan.

Karena syukur yang merupakan pokok keimanan terdiri dari tiga pilar, pengakuan hati dari semua kenikmatan yang diberikan kepadanya dan kepada orang lain. memperbincangkan dan menyanjung kepada Allah. serta meminta pertolongan dengan kenikmatan tersebut dalam rangka ketaatan dan beribadah kepada Pemberi nikmat. “Al-Qoul Sadid Fi Maqosidit Tauhid, hal. 140.

Allah berfirman ketika menjelaskan kondisi orang yang mengingkari menyandarkan kenikmatan kepada Allah :

  يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللّهِ ثُمَّ يُنكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ

النحل/ 83

“Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.” QS. AN-Nahl: 83

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Maksudnya adalah mereka mengetahui bahwa Allah yang memberikan dan mengutamakan nikmat untuknya, meskipun begitu mereka mengingkarinya. Dan menyembah kepada-Nya dengan lain-Nya. Serta menyandarkan pertolongan dan rizki kepada selain Allah.” Tafsir Ibnu Katsir, 4/592.

  1. Syukur lisan. Yaitu mengakui dengan kata-kata –setelah meyakini dalam hati- bahwa Pemberi nikmat yang sebenarnya adalah Allah Ta’ala. Menyibukkan lisan dengan menyanjung kepada Allah Azza Wa jalla. Allah befirman ketika menjelasan kenikmatan yang diberikan kepada hamba-Nya Muhammad sallallahu alaihi wa sallam:

  وَوَجَدَكَ عَائِلاً فَأَغْنَى

الضحى/ 8

“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” QS. Ad-Dhuha: 8

Kemudian diiringi dengan perintah Allah:

  وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

الضحى/ 11

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” QS. Ad-Dhuha: 11

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Maksudnya adalah sebagaimana kamu dahulu kekurangan dan fakir maka Allah cukupkan, maka perbincangkan kenikmatan Allah kepada Anda. “Tafsir Ibnu Katsir, 8/427.

Dari Anas bin Malik berkata, Rasulullah sallallahu alahi wa sallam bersabda:

  إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنْ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا ، أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

رواه مسلم ( 2734

“Sesungguhnya Allah rela seorang hamba ketika mengkonsumsi suatu makanan, kemudian memuji kepada-Nya. Atau meminum suatu minuman kemudian memuji kepada-Nya.  HR. Muslim, 2734.

Abul Abbas Qurtubi rahimahullah mengatakan, “Memuji disini punya arti bersyukur. Kami telah ketengahkan bahwa memuji ditempatkan di posisi syukur. Dan syukur tidak ditempatkan di posisi memuji (Hamdu). Hal itu menunjukkan bahwa mensyukiri kenikmatan – kalau anda katakan – merupakan sebab mendapatkan keredoan Allah. dimana hal itu merupakan kondisi terbaik bagi penduduk surga. Nanti akan ada firman Allah terkait dengan penduduk surga ketika mengatakan ‘Engkau telah memberikan kami yang belum pernah diberikan kepada seorangpun dari makhluk-Mu. Maka Allah berfirman, “Apakah kamu semua mau Saya berikan yang lebih baik dari itu? Semua penduduk surga mengatakan, “Apa itu? Tidakkah Engkau telah memutihkan wajah kami, dan memasukkan kami ke surga serta dijauhkan dari neraka? Maka Allah berfirman,  “Saya halalkan keredoanKu untuk kalian semua. Saya tidak akan marah kepada kamu semua selamanya.

Syukur merupakan sebab penghormatan yang agung semacam itu karena mengandung pengetahuan kepada Pemberi nikmat. Hanya Dia sendiri yang menciptakan nikmat itu. Serta mendistribusikan kepada orang yang diberi nikmat. Sebagai kelebihan, kedermawanan dan kenikmatan dari Pemberi nikmat. Dan yang diberi nikmat itu fakir, membutuhkan kenikmatan itu. Pengetahuan itu mengandung pengertian akan hak dan keutamaan Allah. serta hak seorang hamba yang kurang. Sehingga Allah memberikan balasan atas pengetahuan dan kemulyaan nan tinggi. “Al-Mufhim Lima Asykal Min Talkhis Kitab Muslim, 7/60, 61.

Dari sini sebagian ulama salaf mengatakan, “Siapa yang menyembunyikan kenikmatan, maka dia telah mengkufurinya. Siapa yang menampakkan dan menyebarkannya, maka dia telah mensyukurinya.

Ibnu Qoyyim rahimahullah ketika memberi catatan seraya mengatakan, “Hal ini diambil dari perkataan ‘Sesungguhnya ketika Allah memberikan nikmat kepada hamba-Nya, ingin diperlihatkan bekas nikmat kepada hambanya. “Madarikus Salikin, 2/246.

Diriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz rahimahullah beliau mengungkapkan, “Saling mengingatkanlah kalian semua tentang kenikmatan-kenikmatan, hak mengingatnya termasuk (bentuk) syukur.”

  1. Sementara syukur anggota badan adalah mempergunakan anggota tubuhnya untuk ketaatan kepada Allah. dan menghindari agar tidak terjerumus kepada sesuatu yang dilarang oleh Allah dari bentuk kemaksiatan dan dosa.

Allah berfirman:

  اعْمَلُوا آلَ دَاوُدَ شُكْراً

سـبأ/ من الآية 13

“Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah).” QS. Saba: 13.

Dari Aisyah radhiallahu anha berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى قَامَ حَتَّى تَفَطَّرَ رِجْلَاهُ قَالَتْ عَائِشَةُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَصْنَعُ هَذَا وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ ؟ فَقَالَ : ( يَا عَائِشَةُ أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا   .
رواه البخاري ( 4557 ) ومسلم ( 2820 ) .

Dahulu Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam berdiri (shalat) sampai bengkak kedua kakinya. Maka Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa anda melakukan hal ini padahal telah diampuni dosa anda yang akan datang dan yang lalu? Maka beliau berkata, “Wahai Aisyah, apakah saya tidak boleh menjadi hamba yang yang pandai bersyukur.” HR. Buhori, 4557 dan Muslim, 2820.

Ibnu Battol rahimahullah mengatakan, “Tobari mengatakan, yang benar dalam hal itu adalah bahwa syukurnya seorang hamba adalah pengakuan bahwa hal itu adalah dari Allah bukan yang lainnya. Dan pengakuan yang benar adalah dibuktikan dengan perbuatan. Sementara pengakuan yang tidak sesuai dengan perbuatannya, maka pelakunya tidak berhak menyandang orang yang bersyukur secara umum. Akan tetapi dikatakan syukur lisan saja. Dalil akan keabsahan hal tu adalah firman Allah Ta’ala:

  اعْمَلُوا آلَ دَاوُدَ شُكْراً

سـبأ/ من الآية 13

“Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah).” QS. Saba: 13.

Telah diketahui bahwa mereka tidak diperintahkan, ketika dikatakan kepada mereka untuk mengakui akan kenikmatan-kenikmatan-Nya. Karena mereka tidak mengingkari bahwa hal itu merupakan tambahan kelebihan dari-Nya. Sesungguhnya mereka diperintahkan bersyukur atas nikmat-Nya dengan perbuatan taat. Begitu juga sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam ketika kedua kakinya bengkak karena qiyamul lail, “Apakah saya tidak diperbolehkan menjadi hamba yang pandai bersyukur? ‘Syarkh Shoheh Bukhori, (10/183, 184).

Abu Harun mengatakan, “Saya masuk ke rumah Abu Hazim saya bertanya kepadanya, “Semoga Allah merohmati anda. bagaimana cara mensyukuri kedua mata? Maka beliau menjawab, “Kalau anda melihat kebaikan, maka anda akan mengingat-Nya. Kalau anda melihat kejelekan, anda tutupi. Saya bertanya, “Bagaimanacara syukur kedua telinga? Beliau menjawab, “Kalau anda mendengarkan kebaikan, maka anda tetap menjaganya. Kalau anda mendengar kejelekan, anda melupakannya.

Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah mengatakan, “Syukur ada dua derajat, salah satunya asalah wajib. Yaitu dengan melakukan kewajiban dan menghindari larangan. Dan ini merupkan suatu keharusan . Hal ini cukup melakukan syukur atas nikmat-nikmat ini.

Dari sini maka sebagian ulama salaf mengatakan, “Syukur adalah meninggalkan kemaksiatan.’

Sebagian lainnya mengatakan, “Syukur adalah tidak mempergunakan nikmat Allah untuk berbuat kemaksiatan.

Abu Hazim Az-Zahid menyebutkan syukur anggota tubuh adalah mencegah dari kemaksiatan dan mempergunakan dalam ketaatan.

Sementara beliau mengatakan, “Siapa yang bersyukur dengan lisannya dan tidak mensyukuri semua anggota tubuhnya, maka perumpamaannya seperti seseorang mempunyai kain penutup badan, kemudian dia memegang ujungnya tanpa dipakai. Hal itu tidak bermanfaat sama sekali. apakah hal itu dapat memberikan manfaat  dari dingin, panas, es dan hujan.

Tingkatan syukur kedua, syukur yang dianjurkan. Yaitu seorang hamba setelah menunaikan kewajiban dan menjauhi yang diharamkan. Melakukan amalan sunah. Dan ini derajat orang-orang yang pertama dan orang-orang yang dekat (kepada Allah). ‘Jami’ Ulum wal hikam, hal. 245, 246.

Kesimpulan:

Agar senantiasa bersyukur kepada Tuhan anda terhadap nikmat yang telah diberikan kepada anda, maka anda harus mengakui dalam hati anda, bahwa pemberi nikmat ini adalah Allah. maka hendaknya anda agungkan dan sandarkan kepada-Nya. Anda mengakuinya dengan lisan, anda bersyukur setelah bangun tidur diberikan kehidupan lagi bagi anda. setelah makan dan minum merupakan pemberian rizki dan kelebihan untuk anda. Dan lakukan seperti itu pada semua kenikmatan yang diberikan kepada anda.

Sementara syukur anda dengan anggota tubuh adalah agar jangan sampai menjadikan apa yang anda lihat dan dengar ke arah kemaksiatan atau kemungkaran. Seperti menyanyi, mengguncing. Dan jangan berjalan dengan kedua kaki anda ke tempat-tempat kemungkaran. Jangan anda pergunakan kedua tangan anda untuk kemungkaran. Seperti menulis surat yang dilarang dengan menjalin hubungan dengan wanita asing. Atau menulis akad yang diharamkan atau membuat sesuatu atau melakukan amalan yang diharamkan.

Diantara mensyukuri kenikmatan dengan anggota tubuh adalah mempergunakannya untuk ketaatan kepada Allah Ta’ala dengan tilawah Qur’an, menulis ilmu, mendengarkan sesuatu yang bermanfaat dan begitu juga dengan anggota tubuh lainnya digunakan untuk ketaatan yang berbeda-beda.

Ketahuilah bahwa mensyukuri suatu kenikmatan masih membutuhkan syukur. Begitu juga seorang hamba senantiasa dalam kenikmatan Tuhannya. Dia mensyukuri nikmat-nikmat itu. Dan memuji-Nya ketika diberi taufik menjadi orang-orang yang bersyukur. Kita memohon kepada Allah agar kita dan anda diberi taufik dengan apa yang dicintai dan diredoi-Nya.

Wallahu ‘alam

Lalai dari Niat Bertaqarrub Kepada Allah

22 Maret 2019 by no comments Posted in Tanya Jawab Islam

Pertanyaan

Apakah ada pengaruhnya kepada sahnya amal jika tidak menghadirkan niat untuk bertaqarrub kepada Allah ? atau akan mengurangi pahala saja ?, jika seseorang yang mandi dengan niat untuk masuk Islam atau untuk menghilangkan hadats besar dan lalai tidak berniat untuk taqarrub kepada Allah, apakah mandinya tersebut tetap sah ?

(lebih…)

Berbeda Dengan Kedua Orang Tuanya Dalam Mendidik Anak

22 Maret 2019 by no comments Posted in Tanya Jawab Islam

Pertanyaan

Apa saja rambu-rambu taat kepada kedua orang tua ?, tidak diragukan lagi bahwa Islam telah menguatkan hal ini, dan Allah telah menyandingkan taat kepada keduanya dengan taat kepada-Nya, namun bagaimana jika keduanya ikut campur dalam urusan pendidikan anak ?, sebagai contoh terkadang saya meminta kepada anak saya untuk tidak tidur cepat; karena kadang malah dia bangun tengah malam dan menjadikanku tidak bisa tidur, akan tetapi kedua orang tuaku menyuruhku untuk membiarkannya, maka bagaimanakah hukumnya dalam masalah ini ?, apakah memungkinkan bagi saya untuk mendidik anak saya dengan cara yang sesuai dengan pendapat saya selama sesuai dengan syari’at ? saya mohon penjelasannya.

(lebih…)