Lelahku Ibadahku

15 November 2020 by no comments Posted in Umum

Bekerja merupakan sarana untuk memperoleh rezeki dari Allah Ta’ala. Dan,Allah Ta’ala mencintai para hambanya yang bersusah payah mencari rezeki yang halal.  Untuk itulah Allah Ta’ala memerintahkan kepada para hambaNya untuk bekerja meskipun Allah Ta’ala telah menentukan rezekinya. Allah Ta’ala berfirman:

“Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”(QS. Al Jumu’ah 10)

Para Nabi dan Rasulpun telah memberikan teladan dalam bekerja. Nabi Nuh ‘alaihissalam adalah seorang tukang kayu, beliau pernah membuat perahu. Nabi Daud ‘alaihissalam seorang tukang besi, beliau bisa membuat baju perang dari besi. Nabi Musa seorang penggembala begitu juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seorang penggembala dan pedagang yang handal.

Dalam memotifasi umatnya agar selalu bersemangat untuk bekerja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan adanya hadiah yang istimewa bagi orang-orang yang kelelahan disore hari karena bekerja dipagi harinya. Sebagaimana sabda beliau: :”Barangsiapa yang merasakan lelah di waktu sore hari karena bekerja, niscaya di waktu sore itu ia akan mendapatkan ampunan.(HR. Ath Thabrani)

Orang-orang shaleh terdahulupun banyak memberikan motifasi untuk bekerja dan tidak hanya berpangku tangan saja di rumah menunggu datangnya rezeki. Syaikh Abu Ammar Rahimahullah menyebutkan dalam bukunya “Al Adabul Islam Lith Thiflil Muslim” beberapa motifasi itu; pertama perkataan Luqman al Hakim, beliau pernah memberikan nasehat kepada anaknya: “Anakku!Tetap bekerjalah yang halal untuk mengatasi kefakiran. Karena sesungguhnya tidaklah salah seorang diantara kalian faqir kecuali akan tertimpa pada dirinya tiga keadaan.(1)Lemah imannya, (2) lemah akalnya, (3) hilang kewibawaannya. Yang lebih parah dari hal itu adalah  para manusia akan meremehkannya karena kefakirannya”.

Kedua, perkataan dari Umar bin Khathab Radhiyallalhu ‘anhu, beliau berkata: “Janganlah salah seorang diantara kalian duduk-duduk saja tidak mencari rezeki sambil berdoa “Ya Allah! Karuniakanlah rezeki kepadaku”. Sesungguhnya kalian telah mengetahui bahwasannya langit tidak pernah menurunkan hujan emas dan perak”

Agar bekerja tidak hanya sekedar untuk urusan dunia saja tapi bisa selalu dalam lingkup ibadah, hendaknya memperhatikan rambu-rambu yang telah ditentukan oleh Allah Ta’ala dan rasulNya. Diantara rambu-rambu tersebut adalah

  1. Tidak Dalam Kemaksiatan

إِنَّ رُوْحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِيْ رَوْعِيْ أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ أَجَلَهَا وَتَسْتَوْعِبَ رِزْقَهَا فَاتَّقُوااللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ وَلَا يَحْمِلَنَّ أَحَدُكُمْ اِسْتِبْطَاءَ الرِّزْقِ أَنْ يَطْلُبَهُ بِمَعْصِيَةِ اللهِ فَإِنَّ اللهَ تَعَالىَ لَا يُناَلَ مَاعِنْدَهُ إِلَّا بِطَاعَتِهِ

 

Sesungguhnya Malaikat Jibril ‘alaihissalam telah mewahyukan ke dalam hatiku, bahwasannya seseorang tidak akan meninggal kecuali telah sempurna waktunya dan telah memperoleh rezekinya. Bertakwalah kepada Allah! Perbaguslah dalam mencarinya, janganlah salah seorang diantara kalian karena  lambatnya datangnya rezeki kemudian berbuat maksiat kepada Allah. Karena sesungguhnya yang ada di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan ketaatan kepadaNya.” (HR. Abu Nuaim. Dishahihkan oleh Al Albani)

  1. Niat Yang Benar

Yaitu berniat mencari rezeki untuk mencukupi kebutuhannya dan keluarganya agar tidak meminta-minta kepada orang lain bahkan bisa memberikan sebagian penghasilannya kepada orang lain yang membutuhkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan.”(HR. Muttafaqun ‘alaih).  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa  amalan tergantung pada niatnya. Apabila niatnya shaleh dan amalnya murni mengharap wajah Allah Ta’ala, maka amalnya diterima

 

  1. Halal

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.”(QS. Al Maidah 88)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Tidaklah daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram kecuali Neraka lebih pantas untuknya.”(HR. At Tirmidzi. Dishahihkan oleh al Albani)

  1. Tidak Meninggalkan Ibadah

Allah Ta’ala berfirman: “Tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya beribadah kepadaKu.”(QS. Adz Dzariyat 56)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Sesungguhnya Allah Menurunkan harta untuk menunaikan shalat dan membayar zakat.” (HR. Ahmad. Dishahihkan oleh Al Albani)

  1. Tidak Hanya Bertujuan Dunia

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menjadikan tujuan utamanya akherat niscaya  Allah berikan kecukupan dalam hatinya, Allah himpunkan urusannya dan dunia datang kepadanya dalam keadaan hina (tidak bernilai). Dan barangsiapa yang menjadikan dunia tujuannya, niscaya Allah jadikan kefakiran selalu berada di depan matanya, Allah Ta’ala cerai beraikan urusannya dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali yang telah ditentukan untuknya.”(HR.At Tirmidzi. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani)

  1. Prefesional

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai salah seorang diantara kalian yang ketika bekerja dilakukan dengan professional.”(HR. Ath Thabrani)

 

Pelajaran Penting

  • Kewajiban untuk bekerja dengan pekerjaan yang halal
  • Rasa lelah yang dirasakan karena sibuk bekerja akan mendatangkan banyak pahala dari Allah Ta’ala, karena ia telah berjuang di atas jalan Allah Ta’ala. Diantara pahala tersebut adalah ampunan, kecukupan, cinta dari Allah Ta’ala dan SurgaNya yang seluas langit dan bumi
  • Luasnya makna Fi sabilillah (Berjuang diatas jalan Allah Ta’ala).
  • Ketaatan kepada Allah Ta’ala akan melancarkan datangnya rezeki sedangkan kemaksiatan akan memperlambat datangnya rezeki. Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Kebaikan adalah penerang hati, pemberi cahaya pada wajah, memperluas rezeki, pemberi kekuatan pada badan dan perekat cinta di hati para makhluq. “Sesungguhnya keburukan memberi noda hitam dalam hati, kegelapan pada wajah, mempersempit jalan rezeki, melemahkan badan dan menjadi bibit kebencian di hati para makhluq.”
  • Diantara adab dalam bekerja yang hendaknya dilakukan adalah;
  • Tidak dalam kemaksiatan
  • Niat yang benar
  • Halal
  • Tidak meninggalkan Ibadah
  • Tidak hanya bertujuan Dunia
  • Prefesional

 

 

Tetanggamu Bisa Menjadi Pintu Surga atau Nerakamu

8 November 2020 by no comments Posted in Umum

Bisa dipastikan manusia tidak mungkin mampu hidup sendirian. Walaupun hidupnya tercukupi segala kebutuhannya bahkan berlebih..Karena kita sangat membutuhkan orang lain untuk menjadi tetangga kita, maka berusahalah semaksimal mungkin untuk tidak menyakiti tetangga kita. Baik menyakiti fisiknya maupun rohaninya dengan perbuatan ataupun lisan kita. Ketika kita menyakiti tetangga kita, pahala – pahala ibadah yang sudah kita dapatkan akan beralih kepada orang yang kita sakiti.. Perhatikan dan ingat selalu apa yang disabdakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?” Para sahabat menjawab,”Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.”kemudian  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka”.(HR.Ahmad)

Dalam hadits yang lain beliau juga bersabda:

مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang pernah melanggar kehormatan saudaranya atau kedzaliman lainnya maka hendaklah ia meminta maaf darinya sekarang, sebelum (datang hari) yang saat itu tidak berlaku  lagi dinar dan dirham. (padahari itu) jika ia memiliki amal shalih maka, pahala amalannya akan diambil sesuai dengan besarnya kedzaliman yang ia lakukan. Apabila ia tidak memilki amal shalih maka dosa orang yang ia dzalimi akan diambil dan dibebankan kepadanya”(HR. Al Bukhari)

Ada sebuah kisah yang patut kita contoh terkait dengan tetangga. Kisah ini  disebutkan oleh Imam Adz Dzahabi Rahimahullah dalam bukunya Al Kabair (Dosa-dosa Besar); dikisahkan ada seseorang yang berbudi luhur dan berakhlaq mulia yang bernama Sahl bin Abdullah At Tutsari rahimahullah yang mempunyai tetangga Majusi (penyembah api). Tetangganya ini memiliki WC yang bocor dan menetes ke tempatnya. Setiap hari Sahl meletakkan sebuah bejana di bawah tempat menetesnya air itu untuk menampungnya. Kemudian membuang di malam harinya agar tidak diketahui yang lain. Kejadian ini berlangsung dalam waktu yang lama, hingga menjelang beliau wafat Sahl meminta untuk dipanggilkan tetangganya tersebut. Setelah tetangganya yang Majusi tersebut datang Sahl memintanya untuk melihat lubang dari WC yang ia miliki. Orang itu kemudian masuk dan melihatnya kemudian bertanya dengan keheranan: “Apa yang kulihat ini? Sahl menjawab; “Kejadian ini sudah terjadi sudah lama. Air itu menetes dari rumahmu. Aku menampungnya di siang hari dan membuangnya di malam hari. Jika bukan karena sudah dekat ajalku dan kekhawatiranku kepada akhlak selainku yang tidak tahan melihatnya, niscaya aku tidak akan memberitahukan kepadamu tentang hal ini. Sekarang, lakukanlah apa yang kamu inginkan. Orang Majusi tersebut menjawab: “Wahai Syaikh! Anda telah mempergauliku seperti ini sejak lama dan aku masih tetap dalam kekufuranku. Ulurkan tanganmu, aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah dan Muhammad itu utusan Allah”. Setelah itu Sahl meninggal.

Berbuat baik kepada tetangga merupakan salah satu bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Dan sebaliknya, menyakitinya akan menjauhkan kita dari Allah Ta’ala. Jaga kesempurnaan iman dengan berbuat baik kepada tetangga. Ingat selalu apa yang disampaikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ . قِيْلَ: وَ مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: الَّذِيْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

“Demi Allah! Tidak beriman. Demi Allah! Tidak beriman. Demi Allah! Tidak beriman”. Para sahabat yang mendengarnya bertanya:”siapakah yang engaku maksud wahai utusan Allah ? beliau menjawab: “Seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya”. (HR Muttafaqun’alaih).

Imam Baihaqi Rahimahullah berkata; “Diantara cabang keimanan adalah memuliakan tetangga. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala: “Dan berbuat baiklah kalian kepada kedua orang tua, orang-orang miskin, tetangga dekat dan jauh (QS. An Nisa’(4): 36)

Masuklah Surga dengan berbuat baik kepada tetangga dan jagalah dirimu dari Neraka dengan tidak menyakitinya. Apa yang pernah ditanyakan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam patut kita waspadai jangan-jangan kita termasuk di dalamnya. Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam;

يَا رَسُوْلُ اللهِ! إِنَّ فُلاَنَةَ تُصَلِّي اللَّيْلَ وَتَصُوْمُ النَّهَارَ، وَفِيْ لِسَانِهَا شَيْءٌ تُؤْذِيْ جِيْرَانَهَا. قَالَ: لَا خَيْرَ فِيْهَا، هِيَ فِي النَّارِ

 “Wahai utusan Allah! Ada seorang wanita yang banyak mengerjakan shalat, banyak sedekah dan puasa. Namun, ia sering menyakiti tetangganya dengan lisannya” beliau bersabda: “Wanita itu akan masuk Neraka” . (HR. Ahmad dan Hakim. Ibnu Hibban menshahihkannya).

Paling tidak ada sepuluh adab yang hendaknya kita lakukan agar kita tidak termasuk orang yang menyakiti tetangganya;

  1. Menolongnya ketika mereka membutuhkan pertolongan
  2. Memberikan hutang kepadanya saat mereka hendak berhutang dengan kita
  3. Membantu mereka dalam memenuhi kebutuhannya ketika mereka kekurangan
  4. Menjenguknya saat sakit
  5. Memberikan ucapan selamat saat mereka mendapatkan kebahagiaan
  6. Menghiburnya saat tertimpa musibah
  7. Mengiringi Jenazahnya saat meninggal
  8. Tidak menyengsarakan mereka dengan bangunan rumah kita
  9. Tidak menggangunya dengan aroma masakan kita
  10. Membagi makanan yang kita miliki

Sepuluh adab tersebut sumbernya adalah dari orang yang paling baik akhlaqnya kepada tetangga. Dialah utusan Allah yang telah disifati Allah Ta’ala dengan orang yang akhlaqnya sangat agung, dialah Nabi kita Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda; “Bila ia minta pertolongan, tolonglah. Bila ia mau berhutang kepadamu, berilah hutang kepadanya. Bila ia faqir, berilah bantuan. Bila ia sakit, jenguklah. Bila ia mendapatkan kebaikan, berilah ucapan selamat kepadanya. Bila tertimpa musibah, hiburlah. Bila meninggal, iringilah jenazahnya. Jangan engkau halangi ia dengan bangunan rumahmu sehingga ia terhalang untuk mendapatkan angin, kecuali seijinnya. Janganlah engkau mengganggunya dengan aroma masakanmu, kecuali engkau memberinya. Bila engkau membeli buah-buahan, berilah hadiah kepadanya. Bila tidak sanggup memberinya, maka sembunyikanlah dan jangan engkau perbolehkan anak-anakmu membawanya keluar rumah sehingga dapat menimbulkan iri pada anaknya. (HR. Khoro’ithiy. Dirajihkan dan disetujui oleh Al Mundziri)

Pelajaran Penting

  1. Pentingnya berbuat baik kepada tetangga
  2. Perbuatan baik akan berakibat baik dan sebaliknya perbuatan buruk juga akan berakibat buruk
  3. Anjuran bersabar dalam bertetangga
  4. Adab seorang muslim dalam bertetangga diantaranya;
  • Menolongnya ketika mereka membutuhkan pertolongan
  • Memberikan hutang kepadanya saat mereka hendak berhutang dengan kita
  • Membantu mereka dalam memenuhi kebutuhannya ketika mereka kekurangan
  • Menjenguknya saat sakit
  • Memberikan ucapan selamat saat mereka mendapatkan kebahagiaan
  • Menghiburnya saat tertimpa musibah
  • Mengiringi Jenazahnya saat meninggal
  • Tidak menyengsarakan mereka dengan bangunan rumah kita
  • Tidak menggangunya dengan aroma masakan kita
  • Membagi makanan yang kita miliki

 

Menjadi Pendengar Yang Baik

3 November 2020 by no comments Posted in Umum

Sesungguhnya perbuatan manusia akan ditimbang kelak pada hari kiamat. Apabila kebaikannya yang lebih berat, ia akan merasakan kebahagiaan yang belum pernah dirasakan saat di dunia yaitu masuk kedalam surga dan menikmati segala hidangannya. Namun, apabila sebaliknya, keburukannya yang lebih berat, ia merasakan kesengsaraan yang belum pernah dirasaakan sakitnya saat di dunia, yaitu masuk kedalam  Neraka yang penuh dengan berbagai macam sikasaan yang sangat menyakitkan. Hal ini sebagaimana Allah Ta’ala ingatkan kita di dalam Surat Al Qari’ah ayat 6 – 11; “Dan adapun orang-orang yang berat timbangan kebaikannya, maka ia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan kebaikannya. Maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah. Dan tahukah ka,u apakah Neraka Hawiyah itu? Ia adalah api yang sangat panas.”

Untuk itulah setiap manusia hendaknya selalu berusaha beramal dengan amalan yang nantinya mampu memperberat timbangan kebaikannya. Diantara amalan yang akan memperberat timabangan seseorang adalah “Akhlaq yang baik”. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:”Tidak ada sesuatupun yang lebih berat dari Akhlaq yang baik di dalam timbangan manusia.”(HR. Abu Dawud. Dishahihkan oleh Al Albani)

Diantara bentuk akhlaq yang baik adalah “Menjadi Pendengar Yang Baik”. Betapa banyak orang yang awalnya berjauhan tidak saling kenal kemudian jadi dekat karena akhlaq ini. Begitu juga sebaliknya, betapa banyak orang yang awalnya dekat jadi berjauhan karena akhlaq ini. Ada sebuah kata mutiara yang sangat memotifasi “Jadilah Pendengar Yang Baik, Niscya Akan Anda Kuasai Hati Orang Lain.”

Diantara hikmah mengapa Allah Ta’ala jadikan untuk kita dua telinga dan satu mulut adalah agar kita banyak mendengar daripada berbicara. Ketika seseorang bisa menjadi pendengar yang baik, niscaya ia akan lebih banyak hafalan dan ilmunya. Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya dijadikan untukmu dua telinga dan satu mulut agar kamu lebih banyak mendengar dari pada berbicara” (Al Adab Al Islamiyyah Lithtiflil Muslim. Syaikh Abu Ammar Rahimahullah)

Diantara adab mendengar yang hendaknya dilakukan oleh seseorang agar menjadi pendengar yang baik adalah;

  1. Diam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang membersihkan diri dan mandi di hari Jum’at, bersegera (ke masjid), mendekat, mendengar dan diam. Niscaya baginya pahala setiap langkahnya berpahala satu tahun puasa dan shalat.” (HR. At Tirmidzi. Dishahihkan oleh Al Albani rahimahullah)

Dalam Riwayat lain yang diriwayatkan oleh Anas bin malik Radhiyallahu ‘anhu bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang wukuf di Arafah dan matahari hampir tenggelam, lalu beliau bersabda kepada Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu: “Wahai Bilal! Suruhlah orang-orang untuk diam” Bilal radhiyallahu ‘anhupun berdiri dan berkata: “Diamlah kalian semua untuk mendengarkan Rasululullah! Orang-orangpun terdiam kemudian beliau bersabda…..(HR. Ibnul Mabarak. Dishahihkan oleh Syaikh Al Arna’ut)

Al Khabbab Radhiyallahu ‘anhu berkata; “kami pernah duduk dipintu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliaupun menemui kami sambil bersabda: “Dengarkanlah! Kami menjawab: “Kami sudah siap mendengar. Beliau bersabda lagi: “Dengarkanlah! Kami menjawab: “Kami sudah siap mendengar” beliau bersabda lagi: “ Dengarkanlah! Kami menjawab: “Kami sudah siap mendengar” ………(HR. Ibnu Hibban. Dihasankan oleh Syaikh Al arna’ut rahimahullah) terkait dengan hadits ini Prof Dr. Fadhl Ilahi rahimahullah berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengulang sabdanya (Dengarkan) kepada para muridnya hingga tiga kali sebelum berbicara dihadapan mereka – wallahu a’lam- agar mereka diam dan sepenuhnya mendengar apa yang akan disampaikan kepada mereka.(“Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam Sang Guru Yang Hebat. Prof.Dr. Fadhl Ilahi)

 

  1. Tidak Memotong Pembicaraan

Hasan bin Ali Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Wahai anakku! Apabila engkau menyimak pembicaraan ulama’ , hendaklah engkau lebih banyak mendengar daripada berbicara. Belajarlah menjadi pendengar yang baik sebagaiamna engkau belajar menjadi pembicara yang baik. Janganlah kamu memotong pembicaraan seseorang meski panjang lebar hingga ia menyelesaikannya.” (www. Hidayatulloh.com)

Syaikh As Sa’diy rahimahullah berkata: “sesungguhnya merebut pembicaraan orang yang sedang berbicara adalah termasuk adab yang buruk. “(www. Islam.com)

  1. Tidak Merasa Lebih Tahu

‘Atha’ bin Rabah rahimahullah berkata: “sesungguhnya ketika ada seorang pemuda berbicara dengan sebuah pembicaraan, niscaya aku akan mendengarkannya seakan-akan aku belum pernah mendengarnya meskipun aku telah mendengarnya sebelum pemuda itu dilahirkan.” (Al adabul islamiyyah Liththiflil  Muslim)

As Sa’di rahimahullah berkata: “Diantara adab yang baik adalah apabila ada seseorang yang berbicara kepadamu tentang sebuah perkara agama atau dunia, janganlah merebut pembicaraannya meskipun engkau sudah mengetahuinya.”(www.islam.com)

  1. Menghadapkan Wajah

Prof. Dr. Fadhl Ilahi rahimahullah dalam bukunya “Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam Sang Guru Yang Hebat” menyampaikan perkataan orang-orang shaleh terdahulu tentang anjuran menghadapkan wajah kepada orang yang sedang berbicara dengannya. Diantaranya adalah perkataan Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu :”Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atas mimbar, maka kami menghadap beliau dengan pandangan kami.” (HR. At Tirmidzi. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)

Imam At Tirmidzi rahimahullah berkata:”Dalam hal ini (menghadapkan wajah kepada khatib) menurut para ulama’ dari kalangan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan lainnya mengamalkannya adalah Sunnah

Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam bukunya “Fathul Bari” :”Diantara hikmah mereka memandang imam adalah agar mereka siap mendengar perkataannya. Hal ini sebagai bentuk adab dengan imam ketika mendengar pembicaraannya. Apabila ia menghadap dengan wajah,badan dan hatinya serta fikirannya juga hadir, maka akan mempermudah untuk memahami nasehatnya dan sesuai dengan perintah yang harus dia lakukan.”

Al ‘Aini rahimahullah juga berkata:”Hikmah mereka memandang kepada khatib adalah agar mereka fokus untuk mendengar nasehatnya, merenungi pembicaraannya dan tidak sibuk dengan yang lainnya

Pelajaran Penting

  1. Anjuran untuk menjadi pendengar yang baik terutama saat khutbah jum’ah
  2. Diantara bentuk akhlaq yang mulia adalah menjadi pendengar yang baik
  3. Untuk menjadi pendengar yang baik hendaknya melakukan adab-adab berikut;
  • Diam
  • Tidak memotong pembicaraan
  • Tidak merasa lebih tahu
  • Mengahadapkan wajah