Ciri-Ciri Wanita Shalihah

13 Maret 2019 by no comments Posted in Featured, Muslimah

Menjadi seorang muslimah shalihah, tentu menjadi idaman bagi kaum hawa. Mengapa tidak? Muslimah shalihah merupakan derajat terbaik dalam Islam. Untuk memperolehnya pun tak begitu mudah. Kesabaran merupakan salah satu ciri yang harus dimilikinya.

Wanita Shalihah merupakan perhiasan terindah dan sangat diidamkan oleh setiap lelaki yang beriman dan membanggakan orangtuanya didunia hingga akhirat.

Tingginya derajat wanita shalihah tentu tidak dicapai dengan perkara yang mudah. Selain beriman wanita shalihah istiqomah dalam kebiasaan-kebiasaan rutin yang bernilai ibadah.

Berikut Ciri-Ciri Wanita Shalihah yang disebutkan dalam Al Qur’an

1. Qanitat

Wanita Shalihah memiliki sifat Qonitat, yaitu patuh dan ta’al menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dank arena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka, sebab itu maka wanita yang shaleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka) wanita-wanita yang kamu khawatirkan musyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian, jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar,” (QS. An-Nisa: 34).

2. Shadiqat

Selain patuh dan ta’at Wanita Muslimah memiliki sifat Shadiqat, yang artinya jujur dan benar, baik kepada diri, kepada Allah dan sesamanya. Kejujuran merupakan akhlak yang baik yang mutlak harus dimiliku seorang wanita shalihah. Apabila ia berkata, maka apa pun yang keluar dari mulutya adalah ucapan yang benar dan jujur apa adanya sehingga dapat dipercaya.

3. Shabirat

Ciri yang ketiga yaitu Shabirat artinya Penyabar (tahan uji, pantang menyerah, tidak pernah putus asa, tawakkal kepada Allah).

Allah Ta’ala berfirman,

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya,” (QS. Ali-Imran: 159).

Allah Ta’ala juga berfirman,

“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun.’ Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk,” (QS. Al-Baqarah: 156-157).

4. Khasyiat

Khayiat atau khusyuk (memelihara hubungan dengan Allah dalam bentuk yang sungguh-sungguh) juga mrnjadi ciri wanita shalihah.

Allah Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam sembahyangnya,” (QS. Al-Mu’minuun: 1-2).

5. Mutashaddiqat

Mutashaddiqat berarti mengeluarkan sedekah, zakat, infak. Wanita Muslimah yang shalihah senantiasa mememiliki keperdulian yang tinggi kepada sesamanya. Sifat empati yang tinggi sehingga mampu menimbulkan Cinta dan kasih sayang diantara sesamanya. Peduli dengan kesulitan saudaranya yang membutuhkan bantuan.

6. Sha’imat

Sha’imat sama artinya Wanita yang berpuasa, artinya menahan diri dari larangan-larangan Allah. Menjauhi maksiat dan Meyakini perintah Allah, seperti tercantum dalam firman Allah,

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al-Baqarah: 183).

7. Hafidhat

Hafidhat ialah memelihara kehormatan. Wanita Muslimah senantiasa menjaga kehormatan dirinya, keluarganya dan terutama agamanya. Menghargai dirinya dg tidak mengumbar aurat dan memperdalam ilmu agama untuk menunjang keshalihahannya.

8. Dzakirat

Dzakirat yakni Seorang wanita yang selalu berdzikir mengingat Allah dalam setiap kondisi dan situasi.

Allah Ta’ala berfirman,

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan meningat Allah hati menjadi tenteram,” (QS. Ar-Ra’du: 28).

Wallahu Alam

Seseorang itu Bersama Orang yang Dicintainya

13 Maret 2019 by no comments Posted in Featured, Hadits

Seseorang itu Bersama Orang yang Dicintainya

عن أبي موسى الأشعري -رضي الله عنه- مرفوعاً: « المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ ». وفي رواية: قِيلَ لِلنبي -صلى الله عليه وسلم-: الرَّجُلُ يُحِبُّ القَوْمَ وَلَمَّا يَلْحَق بهم؟ قال: « المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ». عن عبد الله بن مسعود -رضي الله عنه- قال: جاء رجل إلى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فقال: يا رسول الله، كَيفَ تَقُولُ فِي رَجُلٍ أحَبَّ قَومًا ولم يَلحَق بِهم؟ فقال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ».

[صحيحان.] – [الحديث الأول: متفق عليه. الحديث الثاني: متفق عليه.]

Dari Abu Musa al-Asyari -raḍiyallāhu ‘anhu- secara marfū’, “Seseorang itu bersama orang yang dicintainya.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Bahwa Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- pernah ditanya, “Seseorang mencintai suatu kaum, padahal dia belum pernah bertemu dengan mereka?” Beliau bersabda, “Seseorang itu bersama orang yang dicintainya.” Dari Abdullah bin Masud -raḍiyallāhu ‘anhu- ia berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu mengenai seseorang yang mencintai suatu kaum, padahal dia belum pernah bertemu dengan mereka?” Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- menjawab, “Seseorang itu bersama orang yang dicintainya.”

Penjelasan

Di akhirat, manusia akan bersama orang-orang yang mereka cintai di dunia. Hadis ini berisi anjuran untuk kuat dalam mencintai para rasul dan orang-orang saleh, mengikuti mereka sesuai dengan tingkatan-tingkatannya, dan peringatan untuk tidak mencintai lawan mereka. Sebab, kecintaan merupakan bukti kekuatan hubungan orang yang mencintai dengan orang yang dicintainya, dan kesesuaian dengan akhlaknya, serta tindakan meneladaninya. Maka kecintaan merupakan bukti adanya hal-hal tersebut, juga merupakan motivasi untuk mewujudkan hal-hal tersebut. Demikian juga orang yang mencintai Allah -Ta’ālā-, maka kecintaannya itu merupakan sesuatu paling besar yang mendekatkannya kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri. Dia memberi kepada orang yang mendekatkan diri kepada-Nya dengan sesuatu yang lebih besar dari apa yang dikorbankannya beberapa kali lipat. Keberadaan orang yang mencintai dengan orang yang dicintai tidak menjadi keharusan adanya kesamaan dengan orang yang dicintainya dalam kedudukan dan keluhuran derajatnya. Sebab, hal itu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan amal saleh dan perniagaan yang menguntungkan. Ini (menunjukkan) bahwa ma’iyyah (kebersamaan) dapat dicapai hanya dengan berkumpulnya dalam satu hal dan tidak harus dalam segala hal. Jika disepakati bahwa semua masuk surga maka kebersamaan itu pun benar meskipun derajatnya berbeda-beda. Siapa saja yang mencintai Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- atau mencintai salah seorang mukmin, maka ia akan bersama dengannya di surga karena niat baiknya, sebab itu adalah pokoknya, sedangkan amal merupakan pengikut niat. Dan keadaannya bersama mereka tidak menjadi satu keharusan bahwa dia berada dalam kedudukan mereka, dan tidak juga dibalas seperti balasan mereka dari segala segi.

Malu adalah Kebaikan

12 Maret 2019 by no comments Posted in Featured, Hadits

عن عمران بن حصين -رضي الله عنهما- قَالَ: قَالَ رسولُ اللَّه -صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم-: «الحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيرٍ». وفي رواية : «الحَيَاءُ خَيرٌ كُلُّهٌ» أو قال: «الحَيَاءُ كُلُّهُ خَيرٌ».
[صحيح.] – [الرواية الأولى: متفق عليها. الرواية الثانية والثالثة: رواها مسلم.]

 

Dari Imran bin Hushain -raḍiyallāhu ‘anhuma-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Malu itu tidak membawa kecuali kebaikan.” Dalam riwayat lain: “Malu itu baik seluruhnya,” atau beliau bersabda, “Malu itu seluruhnya baik.”

PENJELASAN

Malu merupakan sifat dalam jiwa yang mendorong manusia melakukan apa yang indah dan bagus, dan meninggalkan yang kotor dan buruk. Dengan demikian, malu tidak membawa kecuali kebaikan. Sebab munculnya hadis ini adalah ketika ada seorang laki-laki menasehati saudaranya terkait sifat malu, dan dia melarangnya dari sifat malu tersebut. Maka Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepadanya dengan ucapan ini.

Setiap Kali Mau Mendirikan Shalat Ada Saja Hambatannya

9 Maret 2019 by no comments Posted in Featured, Tanya Jawab Islam

Pertanyaan

Saya puas dengan yang ustadz sampaikan tentang orang yang meninggalkan shalat karena malas, khususnya setelah saya membaca beberapa referensi. Akan tetapi masalah saya adalah setiap kali saya akan memulai shalat ada saja sesuatu yang menghalangi saya, karena sakit atau masalah yang harus segera saya selesaikan, maka apa kira-kira yang menjadi penyebabnya ? apakah karena syetan ?

Jawaban

Alhamdulillah,

Shalat ini adalah perkara yang besar dan agung, ia merupakan kewajiban di dalam Islam yang paling agung setelah dua kalimat syahadat, orang yang meninggalkannya tidak ada bagiannya dalam Islam sebagaimana perkataan Umar bin Khattab –radhiyallahu ‘anhu-.

Ada banyak nash-nash Al Qur’an dan Sunnah yang menjelaskan tentang ancaman bagi orang yang meninggalkannya, hal ini menunjukkan kekufuran orang yang meninggalkan shalat dan keluar dari Islam.

Selama anda masih yakin dengan hukum ini, maka tidak ada jalan lain bagi anda kecuali bersegera untuk mendirikannya, karena anda tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, bahkan anda tidak tahu apa yang akan terjadi setelah satu jam mendatang atau setelah beberapa saat.

Tidak ada alasan untuk meninggalkan shalat, meskipun seseorang telah mengklaim bahwa ia mempunyai alasannya. Shalat termasuk perbuatan yang mudah tidak membutuhkan kecuali hanya beberapa menit saja, tidak lebih dari 10 menit, itu sudah mencakup wudhu’ dan melaksanakannya.

Seseorang itu membutuhkan keimanan yang jujur bahwa Allah telah mewajibkan shalat, Dia menginginkan para hamba-Nya untuk mendirikan shalat, dan akan diberikan sanksi bagi mereka yang meninggalkannya. Jika ada iman yang jujur di dalam hati maka badan akan bergerak, fisik pun akan terikat dengannya. Dan obatnya adalah dengan bersegara, sesaat setelah anda membaca jawaban ini maka sebaiknya anda langsung bergegas untuk berwudhu’ lalu mendirikan shalat fardu yang ada pada saat itu. Maka akan hilang prasangka yang menipu bahwa anda tidak mampu melaksanakan shalat, atau ada penghalang antara anda dengan shalat, lalu jika sudah masuk waktu shalat berikutnya anda juga segera melaksanakannya. Demikianlah tidak ada hari-hari yang berlalu sampai anda akan merasakan nikmatnya shalat, dan lezatnya berada di hadapan Allah.

Renungkanlah dirimu, dan semua nikmat dan pemberian yang telah Allah berikan kepadamu, pada tubuh, akal, sehatnya panca indramu dan lain sebagainya, lalu fikirkanlah, apakah layak bagimu untuk mengingkari kenikmatan dan kebaikan ?!

Sungguh manusia itu jika ia menerima  kebaikan dari orang lain, ia akan mendapatkan keinginan kuat pada dirinya untuk membalas kebaikan tersebut dan berterima kasih atas kebaikannya, mencari kata dan perbuatan yang bisa membalas saudaranya, maka apakah anda telah memikirkan kebaikan Allah –ta’ala- yang terus menerus ?, kedermawanan-Nya yang luas ?, dan pemberian-Nya yang luas ?

Apakah anda merasakan karunia Allah kepadamu ?, dan kedermawanan-Nya yang ada bersamamu ?, dan cinta-Nya kepadamu ?

Tidakkah semua ini menjadikan anda untuk berkata: “Segala puji hanya bagi-Mu wahai Rabb, alangkah agung dan dermawannya Engkau !?, dan alangkah indahnya jika aku berada dalam taat kepada-Mu, melayani-Mu, untuk-Mu semua waktu, kesungguhan, pikiran, dan kemampuanku, dan semua itu menjadi bagian dari kedermawanan-Mu.

Demi Allah, jika anda renungkan hal itu maka anda akan melihat bahwa yang menjadi hak Allah yang harus anda penuhi adalah mendirikan shalat sepanjang malam dan siang, sebagai bentuk syukur dan mengakui keutamaan-Nya.

Ingatlah bahwa maksiat akan menjadi penghalang antara seorang hamba dengan Rabbnya, setiap kali dosa semakin banyak, maka penghalangnya akan bertambah, dosa tersebut akan menghalangi cinta Allah, menghalangi rasa bahagia bersama-Nya, rindu untuk bertemu denga-Nya, tidak ada jalan lain bagi anda kecuali bertaubat kepada Allah, menyesali semua kelalaian dan keteledoran anda, segera cabut dari maksiat dan keburukan, apalagi yang dapat menyibukkan hati, seperti lagu, musik, bergantung kepada selain Allah, semua itu akan menjadi penghalang yang akan menghalangi seorang hamba dengan mentadabburi Al Qur’an, menikmati shalat, bahagia dengan taat kepada Allah.

Adapun syetan maka ia akan berusaha keras agar anda meninggalkan shalat, jauh dari pandangan Allah, agar terealisasi keinginannya untuk merusak dan memalingkan (dari kebenaran), akan tetapi tipu dayanya lemah jika berhadapan dengan ahli iman, ia tidak bisa menguasai mereka, sebagaimana firman Allah:

إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ ﴿النحل: ٩٩﴾

“Sesungguhnya syaitan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya”. (An Nahl: 99)

Semoga dari jawaban ini menjadi nampak bagi anda, bahwa anda membutuhkan tiga perkara:

  1. Bersegera untuk melaksanakan shalat
  2. Menguatkan iman, dengan memperbanyak ketaatan lainnya, seperti; berdzikir, shadaqah, membaca Al Qur’an.
  3. Mencabut diri dari maksiat dan bertaubat darinya, sehingga syetan tidak punya celah untuk menggodamu.

Bisa ditambahkan kepada tiga point itu pentingnya kembali kepada Allah, meminta kepada-Nya hidayat, taufik dan pertolongan-Nya.

Kami juga memohon kepada Allah –subhanahu wa ta’la- agar melapangkan dadamu, mengampuni dosamu, anda diberi kenikmatan merasakan manisnya iman, lezatnya Al Qur’an, cahaya shalat. Dia-lah Allah –subhanahu- Yang Maha Menguasai hal itu.