JIN PUN MENGALAMI KEMATIAN

10 November 2020 by no comments Posted in Fikih Alam Akhirat

Semua Makhluk Bisa Mati Dan Binasa

Semua makhluk bisa mati dan binasa. Keyakinan ini didasarkan pada firman Allah Ta’ala :

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ (26) وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ (27) فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Semua yang ada di atas bumi akan binasa. Dan kekal wajah Rabmu Dzat pemilik keagungan dan kemuliaan karena itu. Nikmat Tuhan yang mana lagi yang kalian dustakan.” (QS. Ar-Rahman: 26 – 28)

Artinya, semua makhluk, apapun dan siapapun dia, bisa mati dan binasa, sesuai dengan apa yang Allah kehendaki.

Jin Pun Mati

Jin adalah makhluk Allah Ta’ala selain manusia dan malaikat. Jin dan manusia memiliki titik persamaan, yakni sama-sama memiliki sifat berakal dan kemampuan dalam memilih jalan kebenaran dan keburukan. Oleh karena itu, ada jin yang muslim dan ada jin yang kafir. Ada jin yang baik dan ada jin yang jahat.

Golongan jin juga akan mati sebelum kiamat. Karena jin termasuk keumuman firman Allah di surat Ar-Rahman di atas. Hal ini juga dikuatkan dengan beberapa dalil sunah yang menunjukkan bahwa jin bisa mati sebelum kiamat :

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu doanya, beliau melantunkan:

أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ، الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الَّذِي لاَ يَمُوتُ، وَالجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَ

Aku berlindung dengan kemuliaan-Mu yang  tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Dzat yang tidak akan mati. Sementara jin dan manusia akan mati.” (HR. Bukhari no. 7383 dan Muslim no. 2717)

Dalil lainnya, Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu pernah diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghancurkan Uzza. Pohon keramat yang disembah orang musyrik jahiliyah. Setelah Khalid bin Walid menebang ketiga pohon yang dikeramatkan di tempat itu, dan membantai setiap orang yang mencoba menghalangi, beliau menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:

اِرْجِعْ فَإِنَّكَ لَمْ تَصْنَعْ شَيْئًا

Kembali, kamu belum melakukan apapun.”

Khalid pun segera kembali. Tiba-tiba banyak orang naik ke bukit. Mereka memanggil-manggil; “Wahai Uzza, Wahai Uzza.” Khalid pun mendatanginya. Ternyata ada wanita telanjang, rambutnya terjuntai, di atas kepalanya ada pasirnya. Khalid dengan sigap menusukkan pedangnya, sampai dia mati. Setelah diceritakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

تِلْكَ اْلعُزَّى

Itulah Uzza.” (HR. Nasai dalam Sunan al-Kubro 11547, al-Mushili dalam Musnad-nya 866).

Kisah seorang sahabat muda yang membunuh ular jadi-jadian yang ada di rumahnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Muslim.

Bagimana dengan Iblis?

Siapakah iblis? Iblis adalah nama salah satu jin yang menjadi gembongnya para pembangkang. Dalil bahwa iblis dari golongan jin adalah firman Allah,

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ

Ingatlah ketika Aku perintahkan kepada para malaikat, sujudlah kalian kepada Adam. Merekapun sujud, kecuali Iblis. Dia termasuk golongan jin, dan inkar kepada perintah Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 50).

Iblis juga memiliki keturunan, sebagaimana umumnya jin lainnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ

Iblis itu dari golongan jin, dan dia membangkang terhadap perintah Rab-nya. Akankah kalian menjadikan dia dan keturunannya sebagai kekasih selain Aku, padahal mereka adalah musuh bagi kalian…” (QS. Al-Kahfi: 50)

Untuk makhluk yang satu ini, telah Allah berikan jaminan, tidak akan mati sampai kiamat. Allah mengkisahkan dalam Alquran. Setelah Iblis diusir untuk turun ke bumi karena sikapnya yang sombong, Iblis minta syarat kepada Allah:

قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Iblis berkata: Ya Tuhanku, berilah aku waktu sampai hari mereka (manusia) dibangkitkan.”

Allah merespon keinginan Iblis:

قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ ( ) إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ

Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi waktu. Sampai batas waktu yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hijr: 37 – 38).

Dalam Tafsir al-Jalalain dinyatakan, “Yaitu waktu tiupan sangkakala yang pertama.” (al-Jalalain, Al-Hijr: 38).

Nah, berdasarkan firman Allah di atas, Iblis ditetapkan oleh Allah sebagai makhluk yang tidak akan mati sampai hari kiamat.

Wallahu a’lam bish shawab

KEMATIAN

3 November 2020 by no comments Posted in Fikih Alam Akhirat

Apa Itu Kematian?

Yang dimaksud dengan al-maut (kematian) adalah terputusnya ketergantungan ruh dengan jasad dan berpisahnya antar keduanya. Sehingga, kondisinya akan berubah dan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain (At-Tadzkirah, Al-Qurthubi, hal. 4). Sedangkan, Al-Azhari menyebutkan dari Al-Laits, ia berkata, “Al-Maut (kematian) itu lawan dari al-hayah (kehidupan). Dari kata inilah diambil istilah al-mayyitah.”

Hakikat Kematian

Di tengah masyarakat banyak menyebar pemahaman yang keliru dalam memahami hakikat kematian. Ada sebagian orang berpandangan, bahwa kematian itu sama artinya dengan kepunahan. Artinya, tidak ada pembangkitan dan pembalasan amal kebaikan dan keburukan. Ada sebagian orang berpandangan bahwa orang yang telah mati akan dibangkitkan, namun tidak lagi akan merasakan kenikmatan ataupun siksaan. Ada juga yang berpendapat, bahwa ruh seseorang akan tetap ada dan tidak akan musnah dengan kematian. Dalam pendangan mereka, yang musnah hanya jasadnya saja. Mereka juga berpandangan tidak ada pembangkitan. Semua praduga dan pendapat di atas keliru menurut kacamata Islam. Lantas, seperti apa hakikat kematian menurut Islam?

Menurut pemaparan Imam Al-Qurthubi di atas, dapat disimpilkan bahwa ruh akan tetap eksis setelah berpisah dengan jasad saat kematian. Dan, ruh tersebut akan kembali ke jasad untuk yang kedua kalinya saat di kubur untuk menjalani proses tanya jawab. Allah Ta’ala berfirman :

زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا ۚ قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ ۚ وَذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: “Memang, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. At-Taghabun : 7)

Perlu diketahui bahwa Allah Ta’ala menjadikan bagi manusia dua tempat kembali dan dua pembangkitan. Saat itulah orang yang berbuat dosa akan menerima balasannya dan orang yang berbuat baik akan mendapatkan balasannya. Pertama, saat perpisahan ruh dengan jasad dan tempat kembalinya adalah kubur, negeri pembalasan pertama. Kedua, saat Allah mengembalikan ruh ke jasad dan dibangkitkannya dari kubur untuk menuju surga atau neraka. Inilah yang dinamakan pembangkitan yang kedua. (Lihat kitab Ar-Ruh, Ibnul Qayyim, hal. 99)

Maka, hakikat kematian adalah berpindah dari satu negeri ke negeri yang lain. Hingga, kita menetap di surga dengan berbagai kenikmatannya atau di neraka dengan berbagai bentuk siksaannya. Umar bin Abdul Aziz mengatakan,

إِنَّمَا خُلِقْتُمْ لِلْأَبَدِ ، وَلَكِنَّكُمْ تُنْقَلُونَ مِنْ دَارٍ إِلَى دَارٍ

“Sesungguhnya kalian diciptakan untuk selamalamanya akan tetapi kalian berpindah dari satu negeri ke negeri yang lain.”

Kematian adalah Kiamat Kecil

Setiap orang yang mati, maka telah datang kiamat kecil padanya. Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, “Orang-orang Arab badui datang menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka bertanya: Kapankah kiamat akan tiba? Lalu beliau memandang kepada orang yang paling muda di antara mereka dan bersabda, “Seandainya dia hidup, sebelum dia menjadi tua renta, maka kiamat kalian akan terjadi.” (Shahih Muslim No.5248)

Tidur adalah Kematian Kecil

Tidur adalah saudara kematian. Dalam arti, ada sisi-sisi kesamaan antara kematian dan tidur ini. Tidur disebut juga kematian kecil karena di dalamnya terdapat pengabungan antara kehidupan dan kematian. Maksudnya, di tengah proses tidur sebenarnya ruh sedang meninggalkan jasad. Sehingga, dalam kondisi demikian, tidur tersebut mirip dengan kematian.[1] Oleh karenanya, para ulama menyebutnya Al-Mautush Shughra. Sehingga, saat tidur seperti kematian, dan saat terbangun dari tidur ibarat pembangkitan. Allah Ta’ala berfirman,

وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَىٰ أَجَلٌ مُسَمًّى ۖ ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Al-An’am : 60)

            Berkaitan dengan ayat di atas, Ar-Rabi’ bin Anas menjelaskan, “Yaitu kematian saat tidur. Sebab, tidur adalah saudara kematian.”[2] Hal ini juga ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya,

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” (QS. Az-Zumar : 42)

[1] Ahmad Syauqi Ibrahim, Misteri Tidur Menyingkap Keajaiban di Balik Kematian Kecil (Pustaka Al-Kautsar; Jakarta, 2007), hal. xix.

[2] Tafsir Al-Qurthubi, IV : 100, Al-Maktabah Asy-Syamilah.

YAUMUL AKHIR (2)

30 Oktober 2020 by no comments Posted in Fikih Alam Akhirat

Perbedaan Antara Orang Beriman kepada Yaumul Akhir dan Orang yang Mengingkarinya

Orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak mengimani akan adanya Yaumul Akhir, maka mereka akan mudah melanggar aturan, menuruti hawa nafsu dan berbagai kemungkaran. Mereka hidup tanpa aturan. Tidak peduli akan hak orang lain. Tidak menghargai diri sendiri, apalagi menghargai orang lain. Mereka tidak mempercayai hari pembalasan. Dalam benak mereka hanya fokus untuk bersenang-senang dan berfoya-foya, tak ubahnya seperti cara hidup hewan.

“Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad : 12)

Bagi orang-orang kafir, hidup di dunia adalah lahan untuk bersenang-senang. Bila obsesi ini belum tercapai, maka akan muncul penyesalan yang mendalam dan kesedihan yang memuncak. Sebab, mereka tidak mempercayai akan adanya hari pembangkitan. Mereka tidak percaya bahwa setelah kehidupan dunia ini ada kehidupan lagi.

Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita sekali-sekali tidak akan dibangkitkan.” (QS. Al-An’am : 29)

Maka, saat penghamba dunia mengalami kegagalan, musibah sekecil apapun, maka mereka akan putus asa dan berontak. Seakan-akan itu akhir dari segalanya.

Berbeda dengan orang beriman. Orang beriman memandang bahwa dunia adalah negeri ujian, sedangkan akhirat adalah negeri pembalasan. Bagi orang beriman, hidup di dunia memiliki batas tertentu. Bila waktunya habis, maka tidak dapat dimundurkan atau dimajukan barang sedetik pun. Fakta inilah yang telah Allah Ta’ala sampaikan kepada Nabi Adam ‘alaihis salam sejak pertama kali diturunkan ke bumi. Allah Ta’ala telah menegaskan bahwa bumi bukanlah tempat abadi, namun hanya tempat sementara saja.

“Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan”. Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.” (QS. Al-Baqarah : 24-25)

Bagi orang beriman, menjalani hidup dunia ini butuh kesabaran dan pengharapan pahala dari Allah Ta’ala. Karena mereka yakin, bahwa hidup di dunia tidak lepas dari ujian dari musibah. Sisi lain, mereka akan mudah berani berkurban untuk kebaikan kehidupan akhirat. Mereka akan mudah bersedekah. Mereka akan ringan tangan menolong sesama. Mereka akan sami’na wa atha’na saat ada seruan jihad untuk menegakkan agama Allah Ta’ala. Di antara salah satu foktor yang mendasarinya adalah keimanan mereka kepada Yaumul Akhir.

Manfaat Beriman kepada Yaumul Akhir

  1. Beriman kepada hari akhir akan menjadikan hati tidak terpaut dengan dunia. Sebab, orang yang beriman kepada hari akhir tahu betul bahwa kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal daripada kehidupan dunia.
  2. Mengingat Yaumul Akhir dapat membersihkan hati dari iri dengki, perpecahan, dan perselisihan.
  3. Beriman kepada Yaumul Akhir dapat menjadi ancaman bagi orang-orang zhalim. Sebab, sekecil apapun kezhaliman yang dilakukan, akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah Ta’ala. Dan, orang terzhalimi akan mendapatkan haknya kelak di Yaumul Akhir.
  4. Beriman kepada Yaumul akhir menjadi pelipur lara bagi orang-orang lemah dan terzhalimi. Sebab, mereka senantiasa menunggu janji Allah yang disiapkan bagi orang-orang yang sabar dalam menjalani kehidupan dunia ini.
  5. Bagi seorang muslim, beriman kepada Yaumul Akhir menjadikannya memiliki cita-cita mulia dan harapan tinggi kepada Allah, yaitu masuk surga. Berbeda dengan orang-orang yang tidak beriman kepada Yaumul Akhir, hidup mereka hampa tanpa cita-cita jangka panjang. Seolah-olah visi hidup mereka gersang.
  6. Beriman kepada Yaumul akhir ibarat obat bagi orang-orang yang lalai dan bermaksiat agar mereka kembali kepada jalan yang benar.

YAUMUL AKHIR

27 Oktober 2020 by no comments Posted in Fikih Alam Akhirat

Apakah Yaumul Akhir Itu?

Ya, kita seringkali mendengar atau membaca istilah Yaumul Akhir (Hari Akhir). Di dalam syariat Islam, tentu istilah ini mengandung makna yang mendalam, karena sering kali istilah ini bersanding dengan konsep keimanan kita kepada Allah Ta’ala. Sehingga, sebagai seorang muslim, kita dituntut untuk mengilmui konsep dasar terkait Yaumul Akhir. Di sisi lain, konsep keimanan kepada Yaumul Akhir adalah salah satu unsur pokok dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagai dasar pemahaman, selayaknya kita mengetahui apa makna dari Yaumul Akhir itu? Para ulama telah menjabarkan kandungan makna dari istilah Yaumul Akhir ini. Penyebutan Yaumul Akhir tidak lepas dari dua kandungan makna; Pertama, hancurnya alam semesta dan berakhirnya kehidupan dunia secara totalitas. Kedua, datangnya kehidupan akhirat dan dimulainya kehidupan tersebut. Artinya, kehidupan pertama (yaitu kehidupan dunia) akan berakhir dan datanglah kehidupan yang terakhir (yaitu kehidupan akhirat), sebab tidak ada lagi kehidupan setelah kehidupan akhirat.

Kewajiban Beriman kepada Yaumul Akhir

Sebagai seorang muslim, kita berkewajiban untuk beriman kepada Yaumul Akhir. Lantas, bagaimana caranya kita beriman kepada Yaumul Akhir? Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi rahimahullah telah menjabarkan metode beriman kepada Yaumul Akhir ini dalam kitab beliau, ‘Aqidah Al-Mu’min, bahwa iman kepada Yaumul Akhir adalah percaya secara mantab terhadap perubahan luar biasa yang terjadi alam semesta ini. Yaitu, berakhirnya kehidupan dunia ini secara totalitas dan dimulainya kehidupan yang lain, yaitu kehidupan akhirat.

Sehingga, beriman kepada Yaumul AKhir tidak semata-mata sebuah kewajiban bagi setiap muslim, tapi beriman kepada Yaumul Akhir merupakan salah satu rukun iman yang dibangun di atasnya akidah seorang mukmin. Tidak sempurna akidah seorang muslim tanpa beriman kepada Yaumul Akhir. Allah Ta’ala berfirman :

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah : 177)

Beriman pada Yaumul Akhir adalah Pokok Keimanan

Dalam banyak ayat dan hadits nabawi terdapat perintah untuk beriman kepada Yaumul Akhir. Dan, rata-rata perintah beriman kepada Yaumul Akhir itu disandingkan dengan perintah beriman kepada Allah Ta’ala. Ini menunjukkan bahwa perintah untuk beriman kepada Allah Ta’ala dan Yaumul Akhir merupakan pondasi dan pokok keimanan seseorang.

Kwalitas keimanan kepada Allah dan Yaumul Akhir sangat berpengaruh kepada kwalitas diri seseorang. Tanpa keimanan kepada Allah dan Yaumul Akhir, manusia tidak bernilai sama sekali, baik untuk dirinya maupun orang lain. Seseorang tanpa keimanan kepada Allah dan Yaumul Akhir, akan menjadikan orang lain tidak merasa aman atas keberadaannya.

Yaumul Akhir adalah Perkara Ghaib

Segala kejadian yang bakal terjadi di Yaumul Akhir adalah perkara ghaib bagi manusia. Dan, perlu diingat bahwa beriman kepada perkara ghaib merupakan salah satu sifat orang bertakwa. Allah Ta’ala berfirman, “Alif laam miim. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. (QS. Al-Baqarah : 1-3).

Artinya, keimanan kita kepada Yaumul Akhir merupakan salah satu bentuk pembenaran kita terhadap apa yang telah disampaikan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Dan, di balik keimanan itu terkandung kebahagiaan dunia akhirat.

Bersambung….