Terjemah Indonesia Kitab Fiqih Al-Mughni Ibnu Qudamah

25 Oktober 2019 by no comments Posted in FLC Peduli, Hukum, Ilmu

*RESENSI SINGKAT KITAB AL-MUGHNI*

 

DOWNLOAD >> Terjemah Kitab Al-Mughny Part 1-4

 

*A. MUQODDIMAH*

Kitab al-Mughni ( المغني ) karya Muwafiquddin Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah ini adalah di antara deretan khazanah agung ahli sunnah wal-jama’ah dalam bidang pembahasan fiqh Islam.
Kitab al-Mughni merupakan kitab yang disusun sebagai penjelasan (syarah) kitab Mukhtashar al-Kharaqi (الخرقي مختصر ), sebuah kitab fiqh dalam mazhab Hanbali karya Abu al-Qasim ‘Umar bin al-Husain bin ‘Abdullah al-Kharaqi.

Kitab ini dengan membawa methode pembahasan fiqh perbandingan (muqorran) antara mazhab.

Kitab ini sejajar dengan deretan karya-karya fiqh muqorron lainnya. Beliau pun mengemukakan pembahasan-pembahasan fiqh antara mazhab, dalil-dalilnya, dan kemudian menjelaskan kesimpulan yang paling tepat berdasarkan ijtihad beliau.

Beliau juga turut mengemukakan perbedaan pendapat yang berlaku dan berkembang di kalangan para ulama madzab Hanbali dalam berbagai masalah beserta hujjah-hujjah dalilnya.
Kemudian beliau bandingkan dengan pendapat-pendapat dari kalangan ulama mazhab yang lain yaitu mazhab Maliki, Abu Hanifah, asy-Syafi’i, termasuklah beberapa mazhab para ulama yang jarang diketahui seperti mazhab Imam al-Hasan al-Basri, Atha’, Sufyan at-Tsauri, serta beberapa yang lain. Termasuk juga di dalamnya mazhab para sahabat dan para tabi’in.

Kitab al-Mughni ini adalah merupakan termasuk di antara ensiklopedi fiqh Islam dari zaman salaf yang terbaik yang telah disusun dalam format fiqh perbandingan yang mana pada ketika itu kitab-kitab seperti ini masih begitu jarang ditemui.

Oleh kerana itu, para ulama yang berasal dari berbagai mazhab pun memandang kitab ini dengan pandangan penuh penghargaan, penelitian, dan dianggap sebagai salah satu rujukan ulung dalam bidangnya.
Hal Ini sekaligus memberi sumbangsih berharga dalam menangani berbagai isu-isu fanatik kelompok dan mazhab.

Sebagaimana kitab-kitab fiqh lainnya, kitab ini dimulai dengan pembahasan fiqh thaharah, wudhu’, mandi, solat, solat-solat sunnah, pengurusan jenazah, haji dan umrah, zakat, puasa, sehingga kepada pembahasan-pembahasan lainnya yang lebih terperinci dalam berbagai cabang fiqh seperti sembelihan, buruan, pernikahan, jual beli, wasiat, luqatah, hutang piutang, jihad, peperangan, jihad, pemerintahan, banyak lagi yang lainnya.

 

*B. Biografi & Karya Ilmiah*

Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi adalah seorang imam, ahli fiqih dan zuhud, Asy Syaikh Muwaffaquddin Abu Muhammad Abdullah Bin Ahmad Bin Muhammad Ibnu Qudamah al-Hanbali al-Almaqdisi.
Beliau berhijrah ke lereng bukit Ash-Shaliya, Damaskus, dan dibubuhkanlah namanya ad-Damsyiqi ash-Shalihi, nisbah kepada kedua daerah itu. Dilahirkan pada bulan Sya’ban 541 H di desa Jamma’il, salah satu daerah bawahan Nabulsi, dekat Baitul Maqdis, Tanah Suci di Palestina.

Beliau dilahirkan ketika tentara salib menguasai Baitul Maqdis dan daerah sekitarnya. Karenanya, ayahnya, Abul Abbas Ahmad Bin Muhammad Ibnu Qudamah, tulang punggung keluarga dari pohon nasab yang baik ini hijrah bersama keluarganya ke Damaskus dengan kedua anaknya, Abu Umar dam Muwaffaquddin, juga saudara sepupu mereka, Abdul Ghani al-Maqdisi, sekitar tahun 551 H (Al-Hafidz Dhiya’uddin mempunyai sebuah kitab tentang sebab hijrahnya pendududk Baitul Maqdis ke Damaskus).

Kemudian beliau berguru kepada para ulama Damaskus lainnya. Beliau hafal Mukhtasar Al Khiraqi (fiqih madzab Imam Ahmad Bin Hambal dan kitab-kitab lainnya.
Ia memiliki kemajuan pesat dalam menkaji ilmu.
Menginjak umur 20 tahun, beliau pergi ke Baghdad ditemani saudara sepupunya, Abdul Ghani al-Maqdisi (anak saudara laki-laki ibunya) yang keduanya sebaya.
Muwaffaquddin semula menetap sebentar di kediaman Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani, di Baghdad. Saat itu Shaikh berumur 90 tahun. Beliau mengaji kepadany Mukhtasar Al-Khiraqi dengan penuh ketelitian dan pemahaman yang dalam, karena ia telah hafal kitab itu sejak di Damaskus.
Kemudian wafatlah Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani.

Selanjutnya beliau tidak pisah dengan Syaikh Nashih al-Islam Abdul Fath Ibn Manni untuk mengaji kepada belia madzab Ahmad dan perbandingan madzab.
Beliaumenetap di Baghdad selama 4 tahun. Di kota itu juga ia mengkaji hadis dengan sanadnya secara langsung mendengar dari Imam Hibatullah Ibn Ad-Daqqaq dan lainnya.

Setelah itu beliau pulang ke Damaskus dan menetap sebentar bersama keluarganya. Lalu kembali ke Baghdad tahun 576 H.

Di Baghdad dalam kunjungannya yang kedua, ia lanjutkan mengkaji hadis selama satu tahun, mendengar langsung dengan sanadnya dari Abdul Fath Ibn Al-Mnni. Setelah itu ia kembali ke Damaskus.

Pada tahun 574 H beliau menunaikan ibadah haji, seusai pulang ke Damaskus,di sana beliau mulai menyusun kitabnya Al-Mughni Syarh Mukhtasar Al-Khiraqi (fiqih madzab Imam Ahmad Bin Hambal).

Kitab ini tergolong kitab kajian terbesar dalam masalah fiqih secara umum, dan khususnya di madzab Imam Ahmad Bin Hanbal.
Sampai-sampai Imam ‘Izzudin Ibn Abdus Salam As-Syafi’i, yang digelari Sulthanul ‘Ulama mengatakan tentang kitab ini: “Saya merasa kurang puas dalam berfatwa sebelum saya menyanding kitab al-Mughni”.

Banyak para santri yang menimba ilmu hadis kepada dia, fiqih, dan ilmu-ilmu lainnya. Dan banyak pula yang menjadi ulama fiqih setelah mengaji kepada dia. Diantaranya, keponakannya sendiri, seorang qadhi terkemuka, Syaikh Syamsuddin Abdur Rahman Bin Abu Umar dan ulama-ulama lainnya seangkatannya.

Di samping itu beliau masih terus menulis karya-karya ilmiah di berbagai disiplin ilmu, lebih-lebih di bidang fiqih yang dikuasainya denagn matang. Beliau banyak menulis kitab di bidang fiqih ini, yang kitab-kitab karyanya membuktikan kamapanannya yang sempurna di bidang itu.

Sampai-sampai beliau menjadi buah bibir orang banyak dari segala penjuru yang membicarakan keutamaan keilmuan dan munaqib (sisi-sisi keagungannya).

Imam Ibnu Qudamah wafat pada tahun 629 H. Beliau dimakamkan di kaki gunung Qasiun di Shalihiya, di sebuah lereng di atas Jami’ Al-Hanabilah (masjid besar para pengikut madzab Imam Ahmad Bin Hanbal).

 

*KARYA ILMIAH*

Karya-karya ilmiah beliau yang banyak lagi sangat bermutu dan tulisan-tulisan yang bermanfaat di bidang fiqih dan lainnya,
diantaranya:

1. Lum’atul I’tiqad al-Hadi ila Sabilur Rasyad
2. Al-‘Umdah fil fiqh (untuk pemula)
3. Al-Muqni (untuk pelajar tingkat menengah)
4. Al-Kafi (di kitab ini dia paparkan dalil-dalil yang debgannya para pelajar dapat menerapkannya dengan praktik amali)
5. Al-Mughni Syarh Mukhtasar Al-Khiraqi ( di dalam kitab ini dia paparkan dasar-dasar pikiran/madzab Ahmad dan dalil-dalil para ulama’ dari berbagai madzab, untuk membimbing ilmuwan fiqih yang berkemempuan dan berbakat ke arh penggalian metode ijtihad)
6. Manasik al-Hajj.
7. Rawdhat an-Nazhir (Ushul al-Fiqih)
8. Mukhtasar fi Gharib al-Hadits
9. Al-Burhan fi Mas’alat al-Quran.
10. Al-Qaqdr.
11. Fdha’il ash-Shahabah.
12. Al-Mutahabbin Fillah.
13. Al-Riqqah wal Buka’.
14. Dzamm at-Ta’wil.
15. Dzamm al-Muwaswasin.
16. Al-Tbyin fi Nasab al-Qurassiyin.
17. Minhaj Al-Qashidin

*C. Perkataan Ulama Tentang Beliau:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : ”setelah Al-Auza’i, tidak ada orang yang masuk ke negri Syam yang lebih mapan di bidang fiqih melebihi Al-Muwaffaq”.

Ibnu Ash-Shalah berkata: ”Saya tidak pernah melihat orang sealim seperti Al-Muwaffaq”.

Imam Adz-Dzahabi berkata: “Dia termasuk salah seorang dari para imam yang ternama dan pengarang beberapa kitab.”

Ibnu Katsir berkata:”Dia adalah Syaikhul Islam, seorang Imam yang alim dan pandai, tidak ada orang di zamannya dan juga zaman sebelumnya dalam waktu yang berdekatan yang lebih faqih dari dia.”

Imam Ibnu Muflih -rahimahullah- (wafat: 763 H) berkata, “Muwaffaquddin Ibnu Qudamah telah menyibukkan dirinya dalam menyusun sebuah kitab tentang Islam, cita-cita beliau tersebut pun tercapai.
Kitab beliau ini merupakan kitab yang sangat bagus dalam mazhab Hambali.
Beliau telah berjasa menyusun kitab tersebut dan telah melakukannya dengan baik sekali. Kitab beliau telah menghiasi mazhab Hambali dan telah dibaca oleh banyak orang (para penuntut ilmu) di hadapannya.”

Pengarang kitab Al-Wafi bi Al-Wafayat, Imam Sholahuddin Shofdi -rahimahullah- (wafat: 764 H) mengatakan, “Beliau (Ibnu Qudamah) adalah orang nomor satu pada masanya.
Beliau adalah imam yang sangat menguasai ilmu khilaf (perbedaan pendapat di kalangan ulama dan mazhab), ilmu fara’idh, ushul fiqih, fiqih, ilmu nahwu, hisab, serta astronomi dan al-manak. Dalam kurun masa tertentu, beliau telah menjadikan orang ramai (pada masanya) sibuk untuk mengkaji kitab al-Khiraqi, al-Hidayah, dan kemudian kitab Mukhtashar al-Hidayah.

Setelah itu, beliau menjadikan orang ramai sibuk pula untuk mengkaji (mendalami) kitab-kitab hasil tulisannya.

 

*D. RANGKUMAN ISI*

Seperti kitab fiqh umumnya kitab ini menjelaskan per bab tiap bidang ilmu yang dimulai dari bersuci Sholat Puasa, dan seterusnya,
Muqoddimah dan mengenal imam ibnu qudamah kemudian
Hukum Bersuci, Sholat, Azan, & Iqamah, Zakat Fitrah, Qurban, Jenazah, Zakat, Puasa, Haji & Umroh, Bersumpah, Nazar, perburuan, Penyembelihan, Aqiqah, makanan & minuman, pakaian & perhiasan, dan kaffarooh.
Bab Nikah dan yang berkaitan dengan nikah, Poligami, Rukun, muth’ah, Nusyuz, Fasakh, Talaq, Iddah, Nafaqoh, Penjagaan anak, penyusuan, Keturunan, Anak angkat, Wakaf, Wasiat, pemegang amanah,dan Ilmu faroidh. Jual beli, Khiar, al-Iqolah, Salam, Kontrak Jual beli, riba, Sarf, al-qordh, hutang, hiwalah, pinjaman, syarikat, kifalah, ghodob, jinayat, qisos, diyad, hudud, zina, minum arak, mencuri, murtad, jihad, hiburan, penghakiman, dakwaan, bukti, sumpah pengakuan, pemimpin dan
Daftar isi.

Perlu diketahui bahwa dalam tiap penjelasan hadits disebutkan beberapa pembahasannya serta definisi secara harfiah maupun istilah dan maksud serta contoh jelasnya dan sumbernya, sehingga kitab ini baik bagi kita untuk menjadi salah satu referensi dalam bidang ilmu fiqh yang kita miliki.terutama yang mempelajari perbandingan madzhab fiqh.

DOWNLOAD >> Terjemah Kitab Al-Mughny Part 1-4

Ini Amalan di Bulan Muharram yang Menyimpang

8 September 2019 by no comments Posted in Hukum

Menjalankan berbagai amalan di bulan Muharram insya Allah akan memberikan banyak pahala. Tetapi, ada sebagian umat muslim yang menyikapinya secara berlebihan. Sehingga, justru mereka mengamalkan amalan-amalan yang masuk kategori menyimpang.

Amalan di Bulan Muharram yang Sebaiknya Tidak Dilakukan

Boleh bersemangat mencari pahala, tetapi segala sesuatunya tetap harus dipahami dan dipelajari dengan baik. Untuk itulah FLC hadir sebagai tempat belajar fiqih digital yang mudah diakses di mana saja. Nah, hal apa saja yang sebaiknya tidak perlu dilakukan pada bulan Muharram?

1. Menganggap bulan keramat

Sungguh tidak baik apabila Anda menganggap bulan suci Muharram sebagai bulan keramat. Keyakinan seperti ini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat. Sampai-sampai ada yang enggan menikah di bulan Muharram karena dianggap bisa membawa sial.

Padahal ini tidaklah benar dan hanya kepercayaan jahiliyyah semata. Tidak ada sangkut pautnya antara bulan Muharram atau bulan istimewa lainnya dengan kesialan.

Dari segi syariat, bulan Muharram adalah bulan yang mulia dan termasuk dalam 4 bulan istimewa yang diharamkan Allah.

Di bulan ini disunnahkan untuk memperbanyak puasa. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam,

“أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ”

“Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadhan adalah bulan Allah; Muharram. Dan shalat paling utama sesudah shalat fardhu adalah shalat malam”. HR. Ahmad dan Muslim dari Abu Hurairah.

2. Memperingati tahun baru Hijriah

Dalam As-Sunnah, tidak ada dalil yang menganjurkan bahwa harus ada peringatan di setiap tahun baru Hijriah. Tidak diragukan lagi perkara tersebut masuk dalam kategori penyimpangan yang buruk.

3. Puasa di awal tahun Hijriah

Masih banyak yang meyakini anjuran puasa diawal tahun hijriyah atau awal bulan Muharram. Apakah benar demikian?

Sebenarnya tidak ada dalil tentang puasa di awal tahun Hijriah. Ini bisa dikategorikan sebagai penyimpangan dan seharusnya tidak perlu dilakukan.

Di bulan Muharram, sudah ada puasa sunnah yang bisa dijalankan, yaitu puasa tasu’a dan asyura pada tanggal 9 dan 10. Rasulullah shallallahu ’alihi wa sallam bersabda,

”وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُوْرَاء أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ”

“Aku berharap pada Allah agar puasa di hari ‘Asyura’ (tanggal sepuluh bulan Muharram) bisa menghapuskan dosa satu tahun lalu”. (HR. Muslim dan Ahmad dari Abu Qatadah)

Disebutkan oleh Imam Nawawi rahimahullah bahwa Imam Asy Syafi’i dan ulama Syafi’iyyah, Imam Ahmad, Ishaq dan selainnya mengatakan bahwa dianjurkan (disunnahkan) berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh sekaligus; karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat (berkeinginan) berpuasa juga pada hari kesembilan.

Apa hikmah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menambah puasa pada hari kesembilan? An Nawawi rahimahullah melanjutkan penjelasannya.

Sebagian ulama mengatakan bahwa sebab Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bepuasa pada hari kesepuluh sekaligus kesembilan agar tidak tasyabbuh (menyerupai) orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja. Dalam hadits Ibnu Abbas juga terdapat isyarat mengenai hal ini. Ada juga yang mengatakan bahwa hal ini untuk kehati-hatian, siapa tahu salah dalam penentuan hari ’Asyura’ (tanggal 10 Muharram). Pendapat yang menyatakan bahwa Nabi menambah hari kesembilan agar tidak menyerupai puasa Yahudi adalah pendapat yang lebih kuat. Wallahu a’lam. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 15.

  1. Doa di hari Asyura

Membaca doa-doa tertentu dengan jumlah tertentu dengan iming-iming Allah akan menjaga pada hari itu. Padahal, tidak ada asal muasal yang jelas tentang ucapan tersebut. Nabi dan para sahabat pun tidak pernah menyampaikan itu.

Tidak terdapat dalil, baik dalam hadis lemah maupun hadis yang sahih. Akhirnya, doa di hari Asyura yang secara spesifik disebutkan itu dianggap batil dan mungkar. Adapun doa yang dimaksud adalah HasbiyAllah wa Ni’mal Wakil an-Nashir.

Jadi itulah amalan di bulan Muharram yang sebaiknya dihindari karena menyimpang.

Join Chanel Telegram t.me/fiqhlearningcenter

 

Agar bisa terus mendapatkan informasi dan dakwah dari FLC, Dukung Dakwah FLC dengan berbelanja di FLC Store https://www.fiqhlearningcenter.com/store

 

Atau Donasi Dakwah

Transfer melalui

BNI Syariah:

No. Rekening: 05 875 875 55

a.n (Ustadz) Muhamad Taufiq

 

Ingin menjadi sponsor?.

Hubungi WA 085777552201 untuk informasi lebih lanjut.