Beberapa bukti ajaran Islam sesuai dengan prinsip hidup bermasyarakat

9 November 2020 by no comments Posted in Ilmu

Bukti Perhatian Islam terhadap kehidupan sosial bermasyarakat

Oleh: Akhmad Taufik Arizal, Lc

Segala puji hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala yang telah memberikan karunia terbesarnya kepada kita yaitu nikmat Iman dan sehat, sehingga kita masih mampu menjalankan syariat-syariat-Nya. Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada suri tauladan kita dalam beribadah dan bermuamalah, Nabi Muhammad, dan kepada keluarganya, para sahabatnya, serta umatnya yang kukuh di atas sunnahnya.

Kehidupan seorang manusia tidak lepas dari hubungan serta interaksi antar sesama, karena memang manusia adalah sosok makhluk yang tidak akan mungkin dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain, oleh karena itu, Islam memberikan pedoman istimewa yang berlandaskan dua sumber utama yaitu al-Qur`an dan as-Sunnah bagi pemeluknya agar kehidupan sosialnya berjalan selaras dan harmonis.

Islam adalah agama yang penuh dengan kedamaian dan ketentraman, semakin kuat seorang muslim berpegang teguh terhadap ajaran-ajarannya, maka ketenangan dalam menjalani kehidupan dengan sesama muslim khususnya dan segenap manusia pada umumnya akan semakin stabil dan harmonis, dan kerukunan pun tercipta, sehingga terkikislah kesenjangan antarwarga dan lenyaplah dekadensi di dalam sebuah kehidupan bermasyarakat, baik dalam lingkungan skala kecil maupun besar atau bernegara sekali pun.

Berikut ini beberapa bukti bahwa Islam memberikan perhatiannya yang begitu besar pada kehidupan sosial.

  1. Birrul Walidain (Berbakti kepada kedua orangtua)

Allah ta’ala berfirman,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23) وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (24)

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (23) Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil (24).” (QS. Al-Israa`: 23-24)

Kehidupan sosial pertama yang diajarkan Islam adalah sikap santun dan penuh hormat seorang muslim kepada kedua orangtuanya meski usia mereka sudah senja. Sebab keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak merupakan lingkup masyarakat terkecil yang harus diarahkan terlebih dahulu, guna mewujudkan pola kehidupan bermasyarakat yang Islami.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: «أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَبُوكَ»

Dari Abu Hurairah-Radhiyallahu ‘anhu- bahwasanya ia berkata, “Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah- Shallallahu ‘alaihi wa sallam- seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, siapakah sosok manusia yang patut aku hormati?’, beliau menjawab, ‘Ibumu’, ia berkata, ‘Kemudian siapa?’, Beliau menjawab, ‘Ibumu’, ia berkata, ‘Lalu siapa?’, Beliau menjawab, ‘Ibumu’, ia berkata, ‘Kemudian siapa?’, Beliau menjawab, ‘Kemudian Ayahmu’.” (HR. Al-Bukhari no. 5971)

Menghormati ibu dan ayah, mereka berdua harus dihormati selama tidak memerintahkan kepada kemaksiatan. Dan bila keduanya melakukan kekeliruan pun maka nasihat santun serta tutur kata baik wajib mereka berdua terima, bukan bentakan apalagi hardikkan, wallahul musta’an.

Subhanallah, betapa indah syariat Islam, karena awal kehidupan masyarakat yang baik ialah jika di dalam rumahnya sudah tercipta hubungan erat dan manis antara orangtua dan anak.

  1. Uluk salam

Allah ta’ala berfirman,

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An-Nisaa`: 86)

Jika ada seorang muslim mengucapkan salam kepadamu, maka jawablah salam tersebut dengan lafaz yang sama atau lebih baik darinya dan iringilah jawaban salammu dengan sedikit senyuman. Akan tetapi, bila lawan bicaranya adalah wanita yang bukan mahram, terlebih masih muda, maka senyuman tidak dibutuhkan, sebab dikhawatirkan bahkan akan menimbulkan fitnah dan musibah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ»

Dari Abu Hurairah bahwasanya ia berkata, “Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, ‘Kalian tidak akan masuk surga hingga beriman, dan kalian tidak disebut sebagai orang beriman sampai kalian saling mencintai, maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila dilakukan niscaya kalian akan saling mencintai?! Ucapkanlah salam di antara kalian’.” (HR. Muslim no. 93)

Budaya sapa-menyapa di antara individu masyarakat merupakan tanda bahwa mereka sedang dalam keharmonisan dan kerukunan hubungan. Rasa cinta pun akan timbul seiring dengan berjalannya waktu, karena memang tabiatnya manusia suka untuk disapa dan dihormati.

  1. Menjamu tamu

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتَهُ، قَالُوا: وَمَا جَائِزَتُهُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: يَوْمُهُ وَلَيْلَتُهُ. وَالضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ، فَمَا كَانَ وَرَاءَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ عَلَيْهِ

Rasulullah-Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia menghormati tamu dengan pelayanan istimewa, mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, berapa lama melayani tamu tersebut dengan pelayanan istimewa?’, beliau menjawab, ‘Selama sehari semalam. Masa bertamu adalah tiga hari. Jika lebih dari itu maka termasuk sedekah darinya untuk tamu tersebut’.” (HR. Muslim no. 48)

Seorang tamu berhak untuk dilayani dengan pelayanan istimewa selama sehari semalam, pada hari kedua dan ketiga dilayani dengan pelayanan biasa dan sewajarnya, sedangkan bila lebih dari tiga hari, maka pihak tuan rumah melayani dengan sewajarnya dan itu merupakan sedekah darinya. (Ma’alimus sunan. Hamd bin Muhammad al-Khathabi Wafat 388 H)

Inilah salah satu bentuk bimbingan hidup bermasyarakat, dikala ada orang lain membutuhkan tempat untuk beristirahat karena perjalanan jauh, maka dianjurkan agar seorang muslim sudi untuk melayaninya sebagaimana urutan tersebut di atas.

  1. Hormat menghormati

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا

Rasulullah- Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Seseorang yang tidak menghormati orang lain yang  lebih tua darinya atau menyayangi orang lain yang lebih muda darinya maka ia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Ahmad no. 6937. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 2196)

Kehidupan bermasyarakat tidak luput dari adanya perbedaan umur dan status sosial, dari hadits di atas, berisi arahan agar kita bersikap hormat terhadap sosok yang lebih berumur atau tokoh setempat. Begitu pula sebaliknya, bagi kalangan dewasa diharapkan agar mengayomi dan menyayangi kalangan muda yang masih membutuhkan bimbingan.

Apabila kondisi ini diberlakukan di tengah masyarakat, niscaya akan semakin kuatlah solidaritas antarmasyarakat, terciptalah ketentraman, dan terwujudlah keamanan.

  1. Pakaian syuhroh

Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

“مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ أَلْبَسَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَوْبًا مِثْلَهُ “. زَادَ عَنْ أَبِي عَوَانَةَ ” ثُمَّ تُلَهَّبُ فِيهِ النَّارُ”

Barangsiapa yang memakai pakaian syuhrah, niscaya Allah akan memakaikannya pakaian seperti itu pada hari kiamat, .. Abu Uwanah menambahkan [dalam riwayat lain], ‘Kemudian dikobarkan di neraka.” (HR. Abu Dawud no. 4029)

Pakaian syuhrah ialah pakaian yang ketika dikenakan menyelisihi kebanyakan masyarakat setempat, entah itu dari sisi warna, corak, atau bentuk. Saat  seseorang menggunakan pakaian tersebut  dirinya merasa  bangga, sombong, atau ingin tampil beda di tengah masyarakat. (Aunul Ma’bud syarh ibn Dawud, Muhammad Asyraf bin Amir )

Islam menganjurkan setiap muslim atau muslimah mengenakan pakaian yang menutup aurat serta syar’i dan dikenakan oleh masyarakat setempat pada umumnya. Demi menjaga keselarasan hidup antara penduduk satu dengan yang lainnya. Inilah Islam yang menaruh perhatian begitu besar terhadap kehidupan sosial masyarakat hingga masalah penampilan pun diatur sedemikian indahnya.

  1. Enam hak sesama muslim yang harus dipenuhi

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ» قِيلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللهِ؟، قَالَ: «إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَسَمِّتْهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ»

Dari Abu Hurairah, Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Hak seorang muslim terhadap muslim lainnya ada enam: beliau ditanya, ‘Apa saja wahai Rasulullah?’, beliau menjawab, ‘1. Apabila engkau bertemu dengannya maka ucapkanlah salam, 2. jika ia mengundangmu maka penuhilah, 3. jika ia meminta nasehat maka nasehatilah, 4. bila ia bersin seraya mengucapkan ‘Alhamdulillah’ (segala puji bagi Allah) maka doakanlah , 5. jika ia sakit jenguklah, dan 6. bila ia mati maka antarkanlah jenazahnya’.” (HR. Muslim no. 2162)

Faidah hadits:

  1. Hak adalah sesuatu yang harus dipenuhi, sehingga keenam hak di atas harus dipenuhi.
  2. Pesan moral yang terkandung, bahwa islam adalah agama yang benar-benar menjunjung tinggi gaya hidup bersosial masyarakat yang baik dan menunjukkan kerukunan antar sesama.
  3. Hak-hak tersebut tidak hanya berlaku antara makhluk yang masih hidup, bahkan sudah mati pun hak tersebut harus ditunaikan oleh yang masih hidup, terbukti adanya hak mengantar jenazah seorang muslim hingga ia dikubur.
  4. Apabila ada orang bersin lalu ia mengucapkan ‘Alhamdulillah’ maka berdoalah untuknya dengan mengucapkan ‘Yarhamukallah’ (Semoga Allah memberikan rahmat kepadamu)

 

  1. Menjunjung tinggi hak tetangga

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ»

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Seseorang tidak masuk surga jika tetangganya merasa terganggu olehnya.” (HR. Muslim no. 46)

Faidah hadits:

  1. Begitu besar hak tetangga dalam islam terutama sesama muslim.
  2. Ancaman keras serta dosa bagi yang mengganggu tetangganya.
  3. Salah satu penafsiran ‘Tidak masuk surga’ di sini adalah bila Allah ta’ala berkehendak, Dia akan menunda seorang muslim memasuki surga-Nya sebab harus menyiksanya terlebih dahulu. Hal ini merupakan akibat dari sikapnya yang gemar mengganggu tetangganya.

 

عَنْ أَبِي شُرَيْحٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ» قِيلَ: وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «الَّذِي لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ»

Dari Abu Syuraih, bahwasanya Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Demi Allah, ia tidak beriman, demi Allah, ia tidak beriman, demi Allah, ia tidak beriman’, beliau ditanya, ‘Siapakah, wahai Rasulullah?’, beliau menjawab, ‘Seseorang yang menyebabkan tetangganya merasa terganggu olehnya’.” (HR. al-Bukhari no. 6016)

Faidah hadits:

  1. Hak tetangga sangat dijunjung tinggi dalam islam.
  2. Akibat dari sikap mengganggu tetangga cukup mengerikan, sampai-sampai beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengulanginya tiga kali.
  3. Tidak beriman di sini para ulama mengartikan bahwa iman seseorang tidak sempurna disebabkan maksiat yang telah ia lakukan yaitu menyakiti tetangga.

 

عَنْ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ» قَالَ: قُلْتُ لَهُ: إِنَّ ذَلِكَ لَعَظِيمٌ، قَالَ: قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ مَخَافَةَ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ» قَالَ: قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ»

Dari ‘Abdullah [bin Mas’ud], ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- , dosa apakah yang terbesar di sisi Allah?’, beliau menjawab, ‘Engkau menjadikan sekutu bagi Allah sedangkan Dia–lah yang telah menciptakanmu’, ia [perawi] berkata, ‘Aku berkata kepada beliau, ‘Sungguh itu merupakan dosa yang sangat besar’, ia berkata, ‘Aku bertanya, ‘Kemudian apa lagi?’, beliau menjawab, ‘Kemudian engkau membunuh anakmu sebab khawatir akan makan bersamamu [sehingga merasa kekurangan]’, ia berkata, ‘Aku berkata, ‘Lantas apa lagi?’, beliau menjawab, ‘Kemudian engkau berzina dengan istri tetanggamu’.” (HR. Muslim no. 86)

Faidah hadits:

  1. Menyekutukan Allah ta’ala merupakan dosa terbesar. Membunuh anak sendiri khawatir akan membuatnya miskin pun termasuk dosa besar.
  2. Besarnya perhatian islam terhadap hak tetangga.
  3. Menundukkan pandangan dari istri tetangga, agar tidak terjerumus ke dalam maksiat yang besar, yaitu berzina dengannya. Na’udzu billahi min dzalik.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَا زَالَ يُوصِينِي جِبْرِيلُ بِالْجَارِ، حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ»

Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- beliau bersabda, “Jibril senantiasa mewasiatkanku tentang tetangga, sampai-sampai aku mengira kelak ia [Jibril] akan memerintahkanku supaya memberikan jatah warisan kepadanya [tetangga].” (HR. al-Bukhari no. 6015 dan Muslim no. 2625)

Faidah hadits:

  1. Menjaga hak tetangga adalah kewajiban setiap muslim.
  2. Begitu mulianya hak tersebut, hingga sang malaikatpun berpesan mengenainya.
  3. Dalam islam, tetangga tidak berhak mendapatkan warisan, kecuali bila ia termasuk ahli waris atau orang yang mendapatkan wasiat dari simayit.

 

  1. Menyingkirkan duri dari jalan termasuk tanda keimanan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ – أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ – شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ

Dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, ‘Iman itu mempunyai tujuh puluh lebih cabang- atau enam puluh lebih – cabang, cabang yang paling tinggi adalah ucapan ‘Tidak ada ilah yang hak selain Allah’, dan cabang paling bawah ialah menyingkirkan gangguang dari jalan, dan rasa malu adalah sebagian dari iman’.” (HR. Muslim no. 35)

Sebuah pemukiman manusia yang biasanya terdiri dari beberapa deret rumah, kebun, halaman, dan jalan umum yang pastinya merupakan tempat lalu-lalang serta akses utama individu masyarakat saat mereka keluar menuju tempat tujuan, baik itu berangkat ke masjid, sekolah, bekerja, dan aktifitas positif lainnya. Maka perlu adanya situasi kenyamanan tersendiri yang tercipta, akses jalan umum pun diharapkan kondusif sehingga tidak ada seorangpun yang merasa terganggu oleh sesuatu yang menghalangi. Dan di antara bukti bahwa islam adalah agama yang cukup besar perhatiannya terhadap kehidupan sosial, pada hadits di atas seorang muslim ditekankan agar menyingkirkan segala sesuatu yang mengganggu masyarakat saat melewati jalan mereka, entah itu berupa duri, ranting, kerikil, bongkahan kayu, dan yang semisalnya, terlebih ia termasuk cabang keimanan. Maka tidak ada alasan lagi bagi seorang muslim untuk meninggalkannya.

  1. Besarnya pahala menyantuni anak yatim

عَنْ سَهْلٍ، قَالَ: رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَأَنَا وَكَافِلُ اليَتِيمِ فِي الجَنَّةِ هَكَذَا» وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالوُسْطَى، وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا

Dari Sahl bahwasanya ia berkata, “Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, ‘Posisi saya dengan orang yang menyantuni anak yatim adalah seperti ini.” Beliau mengisyaratkannya dengan jari telunjuk dan jari tengah dan sedikit merenggangkannya. (HR. al-Bukhari no. 5304)

Status yatim yaitu seorang anak yang ditinggal mati ayahnya saat masih kecil atau belum baligh, mereka tergolongan kalangan lemah yang patut untuk ditolong dan disantuni. Begitu besar pahala yang dijanjikan oleh Allah ta’ala melalui lisan Rasul-Nya yang mulia –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berupa surga yang posisinya berdekatan dengan beliau.

Menyantuninya dan tidak menelantarkannya apa lagi sampai menzhaliminya, karena pelaku kezhaliman terhadap anak yatim memiliki hukuman yang mengerikan dari Allah ta’ala, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisaa`: 10)

Inilah bukti, bahwa islam begitu detail ajarannya terkait kehidupan sosial bermasyarakat, sampai anak yatim pun disebutkan sebagai salah satu anggota masyarakat yang layak untuk dibantu bukan untuk ditelantarkan.

  1. Syariat zakat dan sedekah

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 60)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ، إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ»

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Sadaqah yang [telah ditunaikan] tidak akan mengurangi harta seseorang, seorang hamba yang pemaaf akan Allah tambah kemuliaannya, dan tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 2588)

Harta yang telah disedekahkan tidak akan berkurang. Sekalipun secara kasat mata berkurang, namun pada hakikatnya ia akan membawa keberkahan, keselamatan, dan keberlimpahan penghasilan dengan izin Allah ta’ala. Sama halnya dengan pemilik sifat pemaaf serta tawaduk, maka ia akan terhormat di dunia di samping ia tetap mendapatkan pahala di akhirat kelak. (Syarh an-Nawawi

  1. Syariat berqurban.

Allah ta’ala berfirman,

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

“Daging-daging unta (qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya (hewan qurban) untuk kamu, supaya kamu sekalian mengagungkan Allah atas hidayah-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj: 37)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ، وَلَمْ يُضَحِّ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا»

Dari Abu Hurairah ia berkata, “Bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, ‘Barangsiapa yang memiliki keluasaan harta namun tidak berqurban, maka jangan sampai ia mendekati tempat shalat kami’.” (HR. Ibnu Majah no. 3123)

عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ ضَحَّى مِنْكُمْ فَلاَ يُصْبِحَنَّ بَعْدَ ثَالِثَةٍ وَبَقِيَ فِي بَيْتِهِ مِنْهُ شَيْءٌ» فَلَمَّا كَانَ العَامُ المُقْبِلُ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، نَفْعَلُ كَمَا فَعَلْنَا عَامَ المَاضِي؟ قَالَ: «كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا، فَإِنَّ ذَلِكَ العَامَ كَانَ بِالنَّاسِ جَهْدٌ، فَأَرَدْتُ أَنْ تُعِينُوا فِيهَا»

Dari Salamah bin al-Akwa’ ia berkata, “Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, ‘Barangsiapa di antara kalian berkurban, maka jangan sampai sedikitpun di pagi hari ketiga masih menyisakan daging di rumahnya’, pada tahun berikutnya, mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami melakukan sebagaimana yang kami lakukan tahun lalu?’, beliau bersabda, ‘Makanlah, sedekahkanlah, dan simpanlah, karena sesungguhnya pada tahun tersebut manusia dalam kondisi kekurangan, dan aku ingin kalian menolong mereka saat itu’.” (HR. al-Bukhari no. 5569)

Beberapa faedah dari ayat dan hadits di atas:

  • Berkurban adalah salah satu syi’ar agama islam, yang mesti dijunjung tinggi.
  • Yang akan sampai kepada Allah kelak bukanlah daging dan darah hewan kurbannya, namun ketaqwaan si-pengurban-lah yang akan diterima.
  • Niat berkurban harus murni mengaharap ridha Allah –ta’ala- dan sebagai bentuk penerapan syariat-Nya, serta bukan untuk kepentingan duniawi, terlebih berharap pujian.
  • Kalangan masyarakat ekonomi lemah bisa merasakan apa yang dirasakan oleh kalangan masyarakat yang berkecukupan. Dengan demikian akan terciptalah keseimbangan sosial dan terkikislah kesenjangan.
  • Islam adalah agama yang paling menjaga hubungan sosial antar penghuni masyarakat, buktinya adalah arahan bagi yang berkurban agar membagi hewan kurbannya untuk dimakan sendiri, disedekahkan, dan disimpan untuk stok jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Dan masih banyak bukti-bukti lain yang menunjukkan bahwa Islam adalah agama terdepan dalam pengaturan kehidupan sosial dan satu-satunya agama yang mengajarkan umatnya supaya menjaga hak indivu masing-masing secara lengkap, seimbang, dan sempurna. Karena sang pembuatnya adalah Dzat yangmaha sempurna yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Semoga kita diberi petunjuk oleh-Nya agar senantiasa berpegang teguh terhadap syariat-syariat-Nya, sehingga dapat mengarungi kehidupan di dunia ini secara optimal dan penuh manfaat. Wallahu ta’ala a’lam.

 

Referensi:

  1. Al-Qur`anul Karim.
  2. Aisar at-Tafasir karya Syekh Abu Bakar al-Jaza`iri.
  3. At-Tafsir al-Muyassar.
  4. Shahih al-Bukhari.
  5. Shahih Muslim.
  6. Sunan Abi Dawud.
  7. Sunan at-Tirmidzi.
  8. Sunan Ibni Majah.
  9. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim ibn al-Hajjaj
  10. ‘Aunul Ma’bub syarh sunan abi Dawud, Muhammad Asyraf bin Amir.
  11. Ma’alim as-Sunan, Abu Sulaiman Hamad bin Muhammad al-Khathabi.

 

Delapan sifat hamba Sang Maha Pengasih dalam surah al-Furqan

9 November 2020 by no comments Posted in Ilmu

Delapan sifat hamba-hamba Allah sang maha pengasih di dalam surah al-Furqan (ayat 63-74)

Segala puji hanya milik Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya, shalawat serta salam semoga tercurahkan selalu kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kepada keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang selalu berpijak di atas sunnahnya sampai akhir hayat.

Allah ta’ala menciptakan segenap makhluk, dan di antaranya manusia yang merupakan ciptaan-Nya yang terbaik. Ada beberapa tipe manusia pemilik sifat yang dikategorikan sebagai hamba-hamba sang maha pengasih, meskipun hamba-hamba Allah ta’ala memiliki banyak kriteria, hanya saja, pada pembahasan kali ini, adalah sifat-sifat mereka yang disebutkan dalam surah ini.

Hamba-hamba Allah sang maha pengasih yang ada di muka bumi ini disebutkan di dalam al-Qur`an surah al-Furqan ayat 63-74, di dalam ayat-ayat tersebut Allah ta’ala menyebutkan ciri-ciri mereka secara detail, sehingga jelaslah bahwa bagi siapa pun seorang muslim yang menerapkan siafat-sifat tersebut maka diharapkan termasuk dalam golongan hamba-hamba sang  maha pengasih.

Berikut ini urutan sifat-sifat mereka:

Sifat pertama dan kedua

Allah ta’ala berfirman,

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا (63) وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا (64)

“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “salām,” (63). Dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri (64).” (Qs. al-Furqan: 63-64).

 

Tafsir singkat

Dan hamba-hamba Ar-Rahman (Allah yang Maha Penyayang) yang beriman ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan penuh ketenangan. Apabila orang-orang jahil menyapa mereka dengan keburukan, mereka tidak membalasnya dengan kata-kata yang semisalnya, bahkan mereka hanya mengucapkan kata-kata baik yang dikenal oleh orang-orang jahil tersebut. Dan (mereka itu) adalah orang yang melalui malam hari dalam keadaan bersujud dengan dahi-dahi mereka dan berdiri di atas kaki-kaki mereka untuk salat menyembah Allah.

Faedah ayat:

  • Sifat PERTAMA: Tidak bersikap sombong dan ketika orang-orang mengejeknya maka tidak membalasnya dengan ejekan pula bahkan mendoakan mereka supaya menjadi baik.
  • Sifat KEDUA: Bangun malam untuk mendirikan shalat tahajud.
  • Sombong merupakan sikap tercela dan manusia hakekatnya makhluk yang sangat lemah karenanya tidak ada yang patut disombongkan sedikitpun.
  • Tidak serta-merta seorang muslim membalas ejekan orang lain dengan ejekan yang serupa, justru doakanlah orang tersebut supaya menjadi saleh.

 

Sifat ketiga dan keempat

Allah ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا (65) إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا (66) وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا (67)

“Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami, karena sesungguhnya azabnya itu membuat kebinasaan yang kekal.” (65). “Sungguh, Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” (66). “Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar.” (67). (Qs. al-Furqan: 65-67).

Tafsir singkat

Dan (mereka itu) orang-orang yang berkata tatkala berdoa kepada Rabb mereka, “Wahai Rabb kami! Jauhkan azab Jahanam dari kami, sesungguhnya azab Jahanam itu adalah kebinasaan yang kekal lagi tetap bagi orang yang mati dalam keadaan kafir.” Sesungguhnya Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap bagi yang menempatinya, dan sejelek-jelek tempat kediaman bagi yang mendiaminya. Dan (mereka itu) orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak sampai mengeluarkannya secara berlebihan, dan tidak pula kikir saat membelajakannya dalam perkara wajib baik untuk diri mereka sendiri ataupun orang lain, maka pembelanjaan itu tengah-tengah antara sikap berlebihan dan kikir.

Faedah ayat:

  • SIFAT KETIGA: Berdoa kepada Allah-‘Azza wa Jalla- supaya dijauhkan dari azab Jahannam.
  • SIFAT KEEMPAT: Bersikap pertengahan dalam berinfaq, tidak berlebihan atau sangat perhitungan.
  • Jahannam adalah  seburuk-buruk  tempat  kesudahan  makhluk  di akhirat, karena azabnya tak henti-hentinya ditimpakan kepada penghuninya.
  • Sikap pertengahan dalam berbagai kondisi merupakan salah satu ciri orang islam.

 

Sifat kelima

Allah ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (70) وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (71)

 

“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barang siapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat. (68). “(yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina.” (69). “Kecuali orang-orang yang bertobat dan beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (70). “Dan barang siapa bertobat dan mengerjakan kebajikan, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya.” (71). (Qs. al-Furqan: 68-71).

Tafsir singkat

Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain bersama Allah –subhanahu wa ta’ala-, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan pembunuhannya oleh Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkan Allah, -seperti orang itu adalah pembunuh, murtad, atau orang sudah menikah melakukan zina-, dan mereka tidak pula berzina. Barang siapa melakukan dosa-dosa besar ini, niscaya pada hari Kiamat kelak dia akan mendapat hukuman sebagai balasan dosa yang ia lakukan. Yakni akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari Kiamat kelak dan dia akan kekal merasakan azab itu dalam keadaan terhina dan tercela. Akan tetapi orang-orang yang bertobat kepada Allah, beriman kepada-Nya, dan mengerjakan amal saleh yang menunjukkan kejujuran tobatnya; maka Allah akan mengganti kejahatan yang mereka kerjakan dengan kebajikan. Dan Allah Maha Pengampun atas dosa-dosa orang yang bertobat dari kalangan hamba-hamba-Nya, lagi Maha Penyayang terhadap mereka. Dan orang-orang yang bertobat kepada Allah dan membuktikan kejujuran tobatnya dengan mengerjakan amal saleh dan menjauhi maksiat, maka sesungguhnya tobatnya tersebut benar-benar akan diterima.

Faedah ayat:

  • Sifat KELIMA: Hamba yang bertauhid, tidak membunuh, dan tidak berzina.
  • Hamba yang bertauhid ialah hamba yang hanya beribadah kepada Allah-‘Azza wa Jalla-.
  • Bagi yang menyekutukan Allah-ta’ala- atau berbuat kesyirikan, membunuh (tanpa sebab syar’i), dan berzina maka azabnya akan dilipatgandakan serta kekal di dalamnya.
  • Allah –subhanahu wa ta’ala- akan menerima tobat seseorang yang benar-benar bertobat dan beramal saleh.

 

Sifat keenam dan ketujuh

Allah ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا (72) وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا (73)

“Dan orang-orang yang tidak memberikan kesaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berguna, mereka berlalu dengan menjaga kehormatan dirinya.” (72). “Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidak bersikap sebagai orang-orang yang tuli dan buta.” (73). (Qs. al-Furqan: 72-73).

Tafsir singkat

Dan orang-orang yang tidak menghadiri hal-hal batil; seperti masuk ke tempat-tempat maksiat dan hiburan yang haram. Apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang mengucapkan dan mengerjakan perbuatan yang sia-sia, mereka hanya melewatinya begitu saja sembari menjaga kehormatan diri mereka sendiri yaitu tidak berkumpul dan berbaur dengan mereka. Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Allah yang didengar ataupun dipandang, mereka tidaklah menutup telinga mereka dari mendengar ayat-ayat yang didengar tersebut, dan tidak pula menutup mata mereka dari ayat-ayat yang dipandang tersebut.

Faedah ayat:

  • SIFAT KEENAM: Tidak mau memberikan saksi palsu dan tidak ikut serta dalam kumpulan orang-orang lalai yang tidak membawa faedah dunia maupun akhirat.
  • SIFAT KETUJUH: Bila mendengar ayat-ayat Allah-ta’ala-, mereka pun menyimak dan mengamalkannya.
  • Seorang mukmin sepantasnya meninggalkan perkara yang sia-sia dan tidak bermanfaat, terlebih jika perkara tersebut merugikan akhiratnya, maka lebih layak untuk dihindari.
  • Hendaknya seorang mukmin mendengar nasihat dari saudaranya seiman serta sesegera mungkin mengubah sikapnya yang keliru tersebut.

 

Sifat kedelapan

Allah ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا (74) أُولَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَامًا (75) خَالِدِينَ فِيهَا حَسُنَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا (76) قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلَا دُعَاؤُكُمْ فَقَدْ كَذَّبْتُمْ فَسَوْفَ يَكُونُ لِزَامًا (77)

 

“Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (74). “Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka, dan di sana mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam.” (75). “Mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.” (76). Katakanlah (Muhammad, kepada orang-orang musyrik), “Tuhanku tidak akan mengindahkan kamu, kalau tidak karena ibadahmu. (Tetapi bagaimana kamu beribadah kepada-Nya), padahal sungguh, kamu telah mendustakan-Nya? Karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu).” (77). (Qs. al-Furqan: 74-77).

Tafsir singkat

Dan orang-orang yang berkata dalam berdoa kepada Rabb mereka, “Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri dan anak-anak kami orang yang bisa menjadi penyejuk hati kami karena ketakwaan dan keistikamahannya di atas kebenaran, dan jadikanlah kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa dalam kebenaran, serta sebagai teladan bagi orang lain. Mereka yang memiliki karakter yang disebutkan di atas, adalah orang-orang yang dibalasi dengan kamar-kamar yang tinggi dalam surga Firdaus yang tertinggi, karena kesabaran mereka dalam ketaatan, dan di dalamnya mereka disambut oleh para Malaikat dengan penghormatan dan ucapan selamat, dan di dalamnya pula mereka diselamatkan dari berbagai bahaya. Mereka kekal tinggal di dalamnya. Sungguh Surga itu sebaik-baik tempat tinggal dan tempat kediaman yang mereka tempati. Katakanlah -wahai Rasul- kepada orang-orang kafir yang terus-menerus berada dalam kekafirannya, “Rabbku tidaklah peduli pada kalian karena adanya manfaat ketaatan kalian yang kembali kepada-Nya. Kalaulah bukan karena ada hamba-hamba-Nya yang senantiasa berdoa kepada-Nya dengan doa ibadah dan doa permohonan, niscaya Dia tidak akan mengindahkan kalian. Sungguh kalian telah mendustakan Rasul terkait apa yang dia bawa untuk kalian dari sisi Rabb kalian. Karena itu, kelak balasan pendustaan kalian pasti akan senantiasa mengikuti kalian.”

Faedah ayat:

  • SIFAT KEDELAPAN: Berdoa kepada Allah-subhanahu wa ta’ala- agar dikaruniai keluarga yang saleh dan salehah , menyenangkan hati, serta bisa menjadi panutan kelak bagi orang lain.
  • Bagi seorang mukmin yang memiliki delapan sifat tersebut, akan diberi balasan oleh Allah-‘Azza wa Jalla- berupa kedudukan yang tinggi disurga, disambut dengan penuh penghormatan oleh para malaikat, dan akan kekal di dalamnya.
  • Balasan ini merupakan buah dari kesabaran seorang hamba dalam melakukan ketaatan selama hidupnya di dunia.
  • Semoga kita bisa menerapkan kedelapan sifat hamba Allah-ta’ala- yang tertera dalam surat al-Furqaan ini. Amiin ya Rabbal ‘Alamiin.

 

Kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar diberikan kekuatan untuk tetap istikamah di atas jalannya serta tergolong sebagai hamba-hamba sang maha pengasih yang disebutkan di dalam ayat-ayat di atas. Amiin.

Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, dan pengikutnya yang istikamah di atas jalannya.

Wallahu a’lam.

 

Oleh:  Ahmad Taufik Arizal, Lc.

Referensi:

 

Terjemah Indonesia Kitab Fiqih Al-Mughni Ibnu Qudamah

25 Oktober 2019 by no comments Posted in FLC Peduli, Hukum, Ilmu

*RESENSI SINGKAT KITAB AL-MUGHNI*

 

DOWNLOAD >> Terjemah Kitab Al-Mughny Part 1-4

 

*A. MUQODDIMAH*

Kitab al-Mughni ( المغني ) karya Muwafiquddin Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah ini adalah di antara deretan khazanah agung ahli sunnah wal-jama’ah dalam bidang pembahasan fiqh Islam.
Kitab al-Mughni merupakan kitab yang disusun sebagai penjelasan (syarah) kitab Mukhtashar al-Kharaqi (الخرقي مختصر ), sebuah kitab fiqh dalam mazhab Hanbali karya Abu al-Qasim ‘Umar bin al-Husain bin ‘Abdullah al-Kharaqi.

Kitab ini dengan membawa methode pembahasan fiqh perbandingan (muqorran) antara mazhab.

Kitab ini sejajar dengan deretan karya-karya fiqh muqorron lainnya. Beliau pun mengemukakan pembahasan-pembahasan fiqh antara mazhab, dalil-dalilnya, dan kemudian menjelaskan kesimpulan yang paling tepat berdasarkan ijtihad beliau.

Beliau juga turut mengemukakan perbedaan pendapat yang berlaku dan berkembang di kalangan para ulama madzab Hanbali dalam berbagai masalah beserta hujjah-hujjah dalilnya.
Kemudian beliau bandingkan dengan pendapat-pendapat dari kalangan ulama mazhab yang lain yaitu mazhab Maliki, Abu Hanifah, asy-Syafi’i, termasuklah beberapa mazhab para ulama yang jarang diketahui seperti mazhab Imam al-Hasan al-Basri, Atha’, Sufyan at-Tsauri, serta beberapa yang lain. Termasuk juga di dalamnya mazhab para sahabat dan para tabi’in.

Kitab al-Mughni ini adalah merupakan termasuk di antara ensiklopedi fiqh Islam dari zaman salaf yang terbaik yang telah disusun dalam format fiqh perbandingan yang mana pada ketika itu kitab-kitab seperti ini masih begitu jarang ditemui.

Oleh kerana itu, para ulama yang berasal dari berbagai mazhab pun memandang kitab ini dengan pandangan penuh penghargaan, penelitian, dan dianggap sebagai salah satu rujukan ulung dalam bidangnya.
Hal Ini sekaligus memberi sumbangsih berharga dalam menangani berbagai isu-isu fanatik kelompok dan mazhab.

Sebagaimana kitab-kitab fiqh lainnya, kitab ini dimulai dengan pembahasan fiqh thaharah, wudhu’, mandi, solat, solat-solat sunnah, pengurusan jenazah, haji dan umrah, zakat, puasa, sehingga kepada pembahasan-pembahasan lainnya yang lebih terperinci dalam berbagai cabang fiqh seperti sembelihan, buruan, pernikahan, jual beli, wasiat, luqatah, hutang piutang, jihad, peperangan, jihad, pemerintahan, banyak lagi yang lainnya.

 

*B. Biografi & Karya Ilmiah*

Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi adalah seorang imam, ahli fiqih dan zuhud, Asy Syaikh Muwaffaquddin Abu Muhammad Abdullah Bin Ahmad Bin Muhammad Ibnu Qudamah al-Hanbali al-Almaqdisi.
Beliau berhijrah ke lereng bukit Ash-Shaliya, Damaskus, dan dibubuhkanlah namanya ad-Damsyiqi ash-Shalihi, nisbah kepada kedua daerah itu. Dilahirkan pada bulan Sya’ban 541 H di desa Jamma’il, salah satu daerah bawahan Nabulsi, dekat Baitul Maqdis, Tanah Suci di Palestina.

Beliau dilahirkan ketika tentara salib menguasai Baitul Maqdis dan daerah sekitarnya. Karenanya, ayahnya, Abul Abbas Ahmad Bin Muhammad Ibnu Qudamah, tulang punggung keluarga dari pohon nasab yang baik ini hijrah bersama keluarganya ke Damaskus dengan kedua anaknya, Abu Umar dam Muwaffaquddin, juga saudara sepupu mereka, Abdul Ghani al-Maqdisi, sekitar tahun 551 H (Al-Hafidz Dhiya’uddin mempunyai sebuah kitab tentang sebab hijrahnya pendududk Baitul Maqdis ke Damaskus).

Kemudian beliau berguru kepada para ulama Damaskus lainnya. Beliau hafal Mukhtasar Al Khiraqi (fiqih madzab Imam Ahmad Bin Hambal dan kitab-kitab lainnya.
Ia memiliki kemajuan pesat dalam menkaji ilmu.
Menginjak umur 20 tahun, beliau pergi ke Baghdad ditemani saudara sepupunya, Abdul Ghani al-Maqdisi (anak saudara laki-laki ibunya) yang keduanya sebaya.
Muwaffaquddin semula menetap sebentar di kediaman Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani, di Baghdad. Saat itu Shaikh berumur 90 tahun. Beliau mengaji kepadany Mukhtasar Al-Khiraqi dengan penuh ketelitian dan pemahaman yang dalam, karena ia telah hafal kitab itu sejak di Damaskus.
Kemudian wafatlah Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani.

Selanjutnya beliau tidak pisah dengan Syaikh Nashih al-Islam Abdul Fath Ibn Manni untuk mengaji kepada belia madzab Ahmad dan perbandingan madzab.
Beliaumenetap di Baghdad selama 4 tahun. Di kota itu juga ia mengkaji hadis dengan sanadnya secara langsung mendengar dari Imam Hibatullah Ibn Ad-Daqqaq dan lainnya.

Setelah itu beliau pulang ke Damaskus dan menetap sebentar bersama keluarganya. Lalu kembali ke Baghdad tahun 576 H.

Di Baghdad dalam kunjungannya yang kedua, ia lanjutkan mengkaji hadis selama satu tahun, mendengar langsung dengan sanadnya dari Abdul Fath Ibn Al-Mnni. Setelah itu ia kembali ke Damaskus.

Pada tahun 574 H beliau menunaikan ibadah haji, seusai pulang ke Damaskus,di sana beliau mulai menyusun kitabnya Al-Mughni Syarh Mukhtasar Al-Khiraqi (fiqih madzab Imam Ahmad Bin Hambal).

Kitab ini tergolong kitab kajian terbesar dalam masalah fiqih secara umum, dan khususnya di madzab Imam Ahmad Bin Hanbal.
Sampai-sampai Imam ‘Izzudin Ibn Abdus Salam As-Syafi’i, yang digelari Sulthanul ‘Ulama mengatakan tentang kitab ini: “Saya merasa kurang puas dalam berfatwa sebelum saya menyanding kitab al-Mughni”.

Banyak para santri yang menimba ilmu hadis kepada dia, fiqih, dan ilmu-ilmu lainnya. Dan banyak pula yang menjadi ulama fiqih setelah mengaji kepada dia. Diantaranya, keponakannya sendiri, seorang qadhi terkemuka, Syaikh Syamsuddin Abdur Rahman Bin Abu Umar dan ulama-ulama lainnya seangkatannya.

Di samping itu beliau masih terus menulis karya-karya ilmiah di berbagai disiplin ilmu, lebih-lebih di bidang fiqih yang dikuasainya denagn matang. Beliau banyak menulis kitab di bidang fiqih ini, yang kitab-kitab karyanya membuktikan kamapanannya yang sempurna di bidang itu.

Sampai-sampai beliau menjadi buah bibir orang banyak dari segala penjuru yang membicarakan keutamaan keilmuan dan munaqib (sisi-sisi keagungannya).

Imam Ibnu Qudamah wafat pada tahun 629 H. Beliau dimakamkan di kaki gunung Qasiun di Shalihiya, di sebuah lereng di atas Jami’ Al-Hanabilah (masjid besar para pengikut madzab Imam Ahmad Bin Hanbal).

 

*KARYA ILMIAH*

Karya-karya ilmiah beliau yang banyak lagi sangat bermutu dan tulisan-tulisan yang bermanfaat di bidang fiqih dan lainnya,
diantaranya:

1. Lum’atul I’tiqad al-Hadi ila Sabilur Rasyad
2. Al-‘Umdah fil fiqh (untuk pemula)
3. Al-Muqni (untuk pelajar tingkat menengah)
4. Al-Kafi (di kitab ini dia paparkan dalil-dalil yang debgannya para pelajar dapat menerapkannya dengan praktik amali)
5. Al-Mughni Syarh Mukhtasar Al-Khiraqi ( di dalam kitab ini dia paparkan dasar-dasar pikiran/madzab Ahmad dan dalil-dalil para ulama’ dari berbagai madzab, untuk membimbing ilmuwan fiqih yang berkemempuan dan berbakat ke arh penggalian metode ijtihad)
6. Manasik al-Hajj.
7. Rawdhat an-Nazhir (Ushul al-Fiqih)
8. Mukhtasar fi Gharib al-Hadits
9. Al-Burhan fi Mas’alat al-Quran.
10. Al-Qaqdr.
11. Fdha’il ash-Shahabah.
12. Al-Mutahabbin Fillah.
13. Al-Riqqah wal Buka’.
14. Dzamm at-Ta’wil.
15. Dzamm al-Muwaswasin.
16. Al-Tbyin fi Nasab al-Qurassiyin.
17. Minhaj Al-Qashidin

*C. Perkataan Ulama Tentang Beliau:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : ”setelah Al-Auza’i, tidak ada orang yang masuk ke negri Syam yang lebih mapan di bidang fiqih melebihi Al-Muwaffaq”.

Ibnu Ash-Shalah berkata: ”Saya tidak pernah melihat orang sealim seperti Al-Muwaffaq”.

Imam Adz-Dzahabi berkata: “Dia termasuk salah seorang dari para imam yang ternama dan pengarang beberapa kitab.”

Ibnu Katsir berkata:”Dia adalah Syaikhul Islam, seorang Imam yang alim dan pandai, tidak ada orang di zamannya dan juga zaman sebelumnya dalam waktu yang berdekatan yang lebih faqih dari dia.”

Imam Ibnu Muflih -rahimahullah- (wafat: 763 H) berkata, “Muwaffaquddin Ibnu Qudamah telah menyibukkan dirinya dalam menyusun sebuah kitab tentang Islam, cita-cita beliau tersebut pun tercapai.
Kitab beliau ini merupakan kitab yang sangat bagus dalam mazhab Hambali.
Beliau telah berjasa menyusun kitab tersebut dan telah melakukannya dengan baik sekali. Kitab beliau telah menghiasi mazhab Hambali dan telah dibaca oleh banyak orang (para penuntut ilmu) di hadapannya.”

Pengarang kitab Al-Wafi bi Al-Wafayat, Imam Sholahuddin Shofdi -rahimahullah- (wafat: 764 H) mengatakan, “Beliau (Ibnu Qudamah) adalah orang nomor satu pada masanya.
Beliau adalah imam yang sangat menguasai ilmu khilaf (perbedaan pendapat di kalangan ulama dan mazhab), ilmu fara’idh, ushul fiqih, fiqih, ilmu nahwu, hisab, serta astronomi dan al-manak. Dalam kurun masa tertentu, beliau telah menjadikan orang ramai (pada masanya) sibuk untuk mengkaji kitab al-Khiraqi, al-Hidayah, dan kemudian kitab Mukhtashar al-Hidayah.

Setelah itu, beliau menjadikan orang ramai sibuk pula untuk mengkaji (mendalami) kitab-kitab hasil tulisannya.

 

*D. RANGKUMAN ISI*

Seperti kitab fiqh umumnya kitab ini menjelaskan per bab tiap bidang ilmu yang dimulai dari bersuci Sholat Puasa, dan seterusnya,
Muqoddimah dan mengenal imam ibnu qudamah kemudian
Hukum Bersuci, Sholat, Azan, & Iqamah, Zakat Fitrah, Qurban, Jenazah, Zakat, Puasa, Haji & Umroh, Bersumpah, Nazar, perburuan, Penyembelihan, Aqiqah, makanan & minuman, pakaian & perhiasan, dan kaffarooh.
Bab Nikah dan yang berkaitan dengan nikah, Poligami, Rukun, muth’ah, Nusyuz, Fasakh, Talaq, Iddah, Nafaqoh, Penjagaan anak, penyusuan, Keturunan, Anak angkat, Wakaf, Wasiat, pemegang amanah,dan Ilmu faroidh. Jual beli, Khiar, al-Iqolah, Salam, Kontrak Jual beli, riba, Sarf, al-qordh, hutang, hiwalah, pinjaman, syarikat, kifalah, ghodob, jinayat, qisos, diyad, hudud, zina, minum arak, mencuri, murtad, jihad, hiburan, penghakiman, dakwaan, bukti, sumpah pengakuan, pemimpin dan
Daftar isi.

Perlu diketahui bahwa dalam tiap penjelasan hadits disebutkan beberapa pembahasannya serta definisi secara harfiah maupun istilah dan maksud serta contoh jelasnya dan sumbernya, sehingga kitab ini baik bagi kita untuk menjadi salah satu referensi dalam bidang ilmu fiqh yang kita miliki.terutama yang mempelajari perbandingan madzhab fiqh.

DOWNLOAD >> Terjemah Kitab Al-Mughny Part 1-4

Fiqih Ramadhan dan Itikaf

28 Mei 2019 by no comments Posted in Hadits, Ilmu

Play Audio

Pemateri: Ustadz Muhamad Taufiq, Lc

 

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: كان النبي-صلى الله عليه وسلم- يعتكف في كل رمضان عشرة أيام، فلما كان العام الذي قُبِضَ فيه اعتكف عشرين يوماً.
[صحيح.] – [رواه البخاري.]

 

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu-, dia berkata, Dahulu Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- beri’tikaf setiap bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun beliau wafat, beliau beri’tikaf dua puluh hari.

 

PENJELASAN HADITS

Dahulu Nabi -‘alaihiṣṣalātu was sallām- berdiam di masjid, memfokuskan diri guna beribadah kepada Allah setiap bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Kala itu beliau beri’tikaf sepuluh hari di pertengahan bulan, dengan harapan mendapati lailatul qadar. Setelah beliau mengetahui bahwa lailatul qadar ada di sepuluh hari terakhir, beliau beri’tikaf di hari-hari itu. Kemudian pada tahun beliau wafat, beliau beri’tikaf dua puluh hari, sebagai tambahan ketaatan dan taqarrub kepada Allah –Ta’ālā-.

Hal Pertama yang harus di lakukan dalam menuntut Ilmu Syar’i!

15 November 2018 by no comments Posted in Ilmu

IKHLASLAH, MAKA ENGKAU SELAMAT

Ikhlas dalam menuntut ilmu adalah syarat yang harus  selalu ada dan berkesinambungan, bukan hanya di permulaan. Dengan kata lain, seorang penuntut ilmu harus bersungguh-sungguh dalam mengikhlaskan niatnya setiap saat, dan jangan kemudian dia mundur dari jalan menuntut ilmu dengan sangkaan bahwa dia belum ikhlas.

Makna dari ikhlas itu sendiri telah ditafsirkan oleh sekian banyak para Ulama. Ibnu Jama’ah misalnya, ia berkata: “Ikhlas adalah bersih dan tulusnya niat di dalam menuntut ilmu; dengan kata lain tujuannya ialah mengharap wajah Allah di dalam menuntut ilmu, beramal dengan ilmunya, menghidupkan syariat Allah, menerangi hatinya, membersihkan jiwanya, dekat dengan Allah di hari kiamat, meraih ridha-Nya dan apa yang telah Allah siapkan bagi pemilik ilmu.

Sufyan Ats-Tsaury berkata: “Tidaklah aku memperbaiki sesuatu yang lebih sulit dan berat dari memperbaiki niatku.”)[1]

[1] At-Ta’shil fii Thalabil ‘Ilmi, karya Bazmul.

Manisnya Ilmu Syar’i

15 November 2018 by no comments Posted in Ilmu

Ibnul Qayyim berkata: “Syeikh kami -Ibnu Taimiyyah- pernah seketika berkata kepadaku:

“Aku ditimpa sebuah penyakit, maka dokter pun berkata: “Sesungguhnya membaca dan berbicara dalam permasalahan ilmu agama yang kau lakukan akan menambah sakitmu.”

Maka aku (Ibnu Taimiyyah) menjawab: “Aku tidak mampu bersabar dari meninggalkan semua itu. Aku tidak setuju atas apa yang kamu sebutkan, bukankah jiwa itu ketika ketika ia senang dan gembira maka jasad pun akan kuat dan dapat melawan penyakit?”

maka sang dokter pun berkata: “Tentu.”

Maka aku (Ibnu Taimiyyah) pun berkata: “Sesungguhnya jiwaku ini merasa senang dengan ilmu agama, dengan itu tubuh mejadi kuat, sehingga aku merasa lebih tenang dan santai.” Maka sang dokter berkata: “Wah, adapun hal itu, maka di luar dari pengobatan yang biasa kami ketahui.”

Mulianya Ilmu Syar’i

15 November 2018 by no comments Posted in Ilmu

‘Atha’ bin Abi Rabah adalah seorang budak dari seorang wanita yang berasal dari Mekkah; kulitnya hitam, buta sebelah – beberapa saat kemudian buta keseluruhan –, hidungnya pesek, sebagian tubuhnya lumpuh, dan berjalan pincang.

Suatu ketika Sulaiman bin ‘Abdul Malik – Amirul mukminin – mendatanginya (‘Atha’) bersama dengan kedua anaknya, mereka pun duduk sambil menunggunya menyelesaikan shalat. Setelah selesai dari shalatnya, dia pun mendatangi mereka dan mereka mulai bertanya kepadanya seputar manasik haji tanpa henti, akhirnya beliau pun membalikkan lehernya. Kemudian Sulaiman berkata kepada kedua anaknya: “Berdirilah”, mereka pun berdiri, kemudian ia berkata: “Wahai kedua anakku, janganlah kalian lalai dari menuntut ilmu agama; karena sesungguhnya aku tidak akan melupakan betapa rendahnya kita di hadapan budak yang hitam ini.” [1]

[1] Tarikh Dimasyq, karya Ibnu ‘Asakir (40/375).