Bagaimana Seorang Hamba Mensyukuri Nikmat Allah?

22 Maret 2019 by no comments Posted in Tanya Jawab Islam

Pertanyaan

Apa amalan terbaik yang dilakukan seseorang untuk bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada kita?

Jawaban

Pertama:

Syukur adalah balasan atas kebaikan. Serta sanjungan terbaik kepada orang yang telah memberikan kebaikan. Yang paling berhak mendapatkan syukur dan sanjungan seorang hamba adalah Allah Jalla Jalaluhu. Karena agungnya kenikmatan yang diberikan kepada para hamba-Nya baik agama maupun dunia. Dimana Allah telah memerintahkan kepada kita untuk mensyukuri nikmat-nikmat itu dan tidak mengingkarinya. Allah berfirman:

  فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ

البقرة/ 152

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” QS. Al-Baqarah: 152

Kedua:

Orang yang paling besar menunaikan perintah ini dan menyukuri Tuhannya serta berhak mendapatkan gelar Orang yang bersyukur dan Pandai bersyukur adalah para Nabi dan dan para utusan-Nya alaihimus salam.

Allah berfirman:

  إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتاً لِلَّهِ حَنِيفاً وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ . شَاكِراً لَأَنْعُمِهِ اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

النحل/ 120 ، 121

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.” QS. An-Nahl: 120-121.

Allah juga berfirman yang artinya, “(yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” QS. Al-Isro’: 3.

Ketiga:

Allah telah menyebutkan sebagian nikmat-nikmat-Nya kepada para hamba-Nya dan memerintahkan mereka untuk mensyukurinya. Dan Allah memberitahukan kepada kita bahwa sedikit sekali diantara hamba-hamba-Nya yang menunaikan syukur kepada-Nya. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ 

البقرة: 172

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” QS. Al-baqarah: 172

وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ قَلِيلاً مَا تَشْكُرُونَ

الأعراف/ 10

“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.” QS. Al-A’raf: 10

Diantara firman-Nya lagi yang artinya, “Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) supaya kamu dapat mencari karunia-Nya; mudah-mudahn kamu bersyukur.” QS. Ar-Rum: 46.

Diantara kenikmatan dunia adalah firman Allah ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” QS. Al-Maidah: 6

Dan nikmat-nikmat lainnya yang begitu banyak. Kami sebutkan sebagian kecil saja, kalau semuanya tidak akan mungkin bisa menghitungnya. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ الْأِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

إبراهيم: 34

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” QS. Ibrohim: 34.

Kemudian Allah memberikan kepada kita kenikmatan-kenikmatan, dan telah mengampuni kita atas kekurang dalam menyukuri nikmat-nikmat tersebut, seraya berfirman :

  وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

  النحل: 18

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS. An-Nahl: 18.

Seorang muslim hendaknya senantiasa memohon kepada Tuhannya untuk membantunya dalam bersyukur kepada-Nya. Kalau bukan karena taufiq dan bantuan Allah kepada hamba-Nya. Maka tidak akan mendapatkan kesyukuran. Oleh karena itu dianjurkan dalam sunah yang shoheh meminta bantuan kepada Allah untuk dapat bersyukur kepada-Nya.

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ بِيَدِهِ وَقَالَ :   يَا مُعَاذُ ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ ، فَقَالَ : أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ : اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ ، وَشُكْرِكَ ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ   .
رواه أبو داود ( 1522 ) والنسائي ( 1303 ) ، وصححه الألباني في ” صحيح أبي داود

“Dari Muad bin Jabal sesungguhnya Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam memegang tangannya seraya mengatakan, “Wahai Muad, demi Allah saya cinta kepadamu karena Allah. Demi Allah saya cinta kepadamu karena Allah. Beliau melanjutkan,”Saya wasiatkan kepada wahai Muad, jangan engkau tinggalkan setiap selesai shalat berdoa:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ ، وَشُكْرِكَ ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah bantulah saya untuk mengingat dan mensyukuri kepada-Mu serta memperbaiki ibadah kepada-Mu. HR. Abu Dawud, 1522. Nasa’I, 1303. Dinyatakan shoheh oleh Albani di Shoheh Abi Dawud.

Dan bersyukur terhadap nikmat menjadi sebab bertambahnya nikmat sebagaimana Allah firmankan:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

إبراهيم/ 7

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” QS. Ibrohim: 7

Keempat:

Bagaimana seorang hamba bersyukur kepada Tuhannya atas nikmat yang agung ini? Bersyukur depat dengan merealisasikan pilar-pilarnya, yaitu syukur hati, syukur lisan dan syukur anggota badan.

Ibnu Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Bersyukur bisa dengan hati dengan cara khudu’ (merendahkan diri) dan menyandarkan kepada-Nya. Secara lisan dengan menyanjung dan mengakuinya. Secara anggota tubuh dengan ketaatan dan pelaksanaan. “Madarijus salikin, 2/246.

Penjelasan hal itu adalah:

  1. Syukur hati, artinya hati merasakan harga suatu kenikmatan yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Menguatkan dalam hatinya pengakuan bahwa pemberi nikmat-nikmat nan agung ini adalah Allah saja tiada sekutu bagi-Nya Allah berfirman:

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّهِ

النحل/ 53

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)” QS. An-Nahl: 53

Pengakuan ini bukan sekedar anjuran akan tetapi merupakan suatu kewajiban. Siapa yang menyandarkan kenikmatan ini kepada selain Allah, maka dia telah kafir.

Syekh Abdurrahman As-Sa’dy rahimahullah mengatakan, “Seharusnya seorang hamba menyandarkan semua kenikmatan kepada Allah saja baik ucapan maupun pengakuan. Hal itu dapat menyempurnakan ketauhidan. Siapa yang mengingkari nikmat-nikmat Allah dengan hati dan lisannya, maka dia telah kafir. Tidak mendapatkan bagian apapun dari agama.

Siapa yang menetapkan dengan hati bahwa semua kenikmatan hanya dari Allah semata, terkadang dengan lisannya menyandarkan kepada Allah dan terkadang menyandarkan kepada diri dan perbuatannya serta usaha orang lain –sebagaimana yang seringkali terucap pada kebanyakan orang – maka dia harus bertaubat. Dan jangan menyandarkan kenikmatan melainkan kepada pemiliknya. Dan dirinya harus berusaha dengan kuat untuk (mendapatkan) hal itu. Keimanan dan ketauhidan tidak dapat direalisasikan kecuali dengan menyandarkan semua kenikmatan kepada Allah baik ucapan maupun pengakuan.

Karena syukur yang merupakan pokok keimanan terdiri dari tiga pilar, pengakuan hati dari semua kenikmatan yang diberikan kepadanya dan kepada orang lain. memperbincangkan dan menyanjung kepada Allah. serta meminta pertolongan dengan kenikmatan tersebut dalam rangka ketaatan dan beribadah kepada Pemberi nikmat. “Al-Qoul Sadid Fi Maqosidit Tauhid, hal. 140.

Allah berfirman ketika menjelaskan kondisi orang yang mengingkari menyandarkan kenikmatan kepada Allah :

  يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللّهِ ثُمَّ يُنكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ

النحل/ 83

“Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.” QS. AN-Nahl: 83

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Maksudnya adalah mereka mengetahui bahwa Allah yang memberikan dan mengutamakan nikmat untuknya, meskipun begitu mereka mengingkarinya. Dan menyembah kepada-Nya dengan lain-Nya. Serta menyandarkan pertolongan dan rizki kepada selain Allah.” Tafsir Ibnu Katsir, 4/592.

  1. Syukur lisan. Yaitu mengakui dengan kata-kata –setelah meyakini dalam hati- bahwa Pemberi nikmat yang sebenarnya adalah Allah Ta’ala. Menyibukkan lisan dengan menyanjung kepada Allah Azza Wa jalla. Allah befirman ketika menjelasan kenikmatan yang diberikan kepada hamba-Nya Muhammad sallallahu alaihi wa sallam:

  وَوَجَدَكَ عَائِلاً فَأَغْنَى

الضحى/ 8

“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” QS. Ad-Dhuha: 8

Kemudian diiringi dengan perintah Allah:

  وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

الضحى/ 11

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” QS. Ad-Dhuha: 11

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Maksudnya adalah sebagaimana kamu dahulu kekurangan dan fakir maka Allah cukupkan, maka perbincangkan kenikmatan Allah kepada Anda. “Tafsir Ibnu Katsir, 8/427.

Dari Anas bin Malik berkata, Rasulullah sallallahu alahi wa sallam bersabda:

  إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنْ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا ، أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

رواه مسلم ( 2734

“Sesungguhnya Allah rela seorang hamba ketika mengkonsumsi suatu makanan, kemudian memuji kepada-Nya. Atau meminum suatu minuman kemudian memuji kepada-Nya.  HR. Muslim, 2734.

Abul Abbas Qurtubi rahimahullah mengatakan, “Memuji disini punya arti bersyukur. Kami telah ketengahkan bahwa memuji ditempatkan di posisi syukur. Dan syukur tidak ditempatkan di posisi memuji (Hamdu). Hal itu menunjukkan bahwa mensyukiri kenikmatan – kalau anda katakan – merupakan sebab mendapatkan keredoan Allah. dimana hal itu merupakan kondisi terbaik bagi penduduk surga. Nanti akan ada firman Allah terkait dengan penduduk surga ketika mengatakan ‘Engkau telah memberikan kami yang belum pernah diberikan kepada seorangpun dari makhluk-Mu. Maka Allah berfirman, “Apakah kamu semua mau Saya berikan yang lebih baik dari itu? Semua penduduk surga mengatakan, “Apa itu? Tidakkah Engkau telah memutihkan wajah kami, dan memasukkan kami ke surga serta dijauhkan dari neraka? Maka Allah berfirman,  “Saya halalkan keredoanKu untuk kalian semua. Saya tidak akan marah kepada kamu semua selamanya.

Syukur merupakan sebab penghormatan yang agung semacam itu karena mengandung pengetahuan kepada Pemberi nikmat. Hanya Dia sendiri yang menciptakan nikmat itu. Serta mendistribusikan kepada orang yang diberi nikmat. Sebagai kelebihan, kedermawanan dan kenikmatan dari Pemberi nikmat. Dan yang diberi nikmat itu fakir, membutuhkan kenikmatan itu. Pengetahuan itu mengandung pengertian akan hak dan keutamaan Allah. serta hak seorang hamba yang kurang. Sehingga Allah memberikan balasan atas pengetahuan dan kemulyaan nan tinggi. “Al-Mufhim Lima Asykal Min Talkhis Kitab Muslim, 7/60, 61.

Dari sini sebagian ulama salaf mengatakan, “Siapa yang menyembunyikan kenikmatan, maka dia telah mengkufurinya. Siapa yang menampakkan dan menyebarkannya, maka dia telah mensyukurinya.

Ibnu Qoyyim rahimahullah ketika memberi catatan seraya mengatakan, “Hal ini diambil dari perkataan ‘Sesungguhnya ketika Allah memberikan nikmat kepada hamba-Nya, ingin diperlihatkan bekas nikmat kepada hambanya. “Madarikus Salikin, 2/246.

Diriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz rahimahullah beliau mengungkapkan, “Saling mengingatkanlah kalian semua tentang kenikmatan-kenikmatan, hak mengingatnya termasuk (bentuk) syukur.”

  1. Sementara syukur anggota badan adalah mempergunakan anggota tubuhnya untuk ketaatan kepada Allah. dan menghindari agar tidak terjerumus kepada sesuatu yang dilarang oleh Allah dari bentuk kemaksiatan dan dosa.

Allah berfirman:

  اعْمَلُوا آلَ دَاوُدَ شُكْراً

سـبأ/ من الآية 13

“Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah).” QS. Saba: 13.

Dari Aisyah radhiallahu anha berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى قَامَ حَتَّى تَفَطَّرَ رِجْلَاهُ قَالَتْ عَائِشَةُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَصْنَعُ هَذَا وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ ؟ فَقَالَ : ( يَا عَائِشَةُ أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا   .
رواه البخاري ( 4557 ) ومسلم ( 2820 ) .

Dahulu Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam berdiri (shalat) sampai bengkak kedua kakinya. Maka Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa anda melakukan hal ini padahal telah diampuni dosa anda yang akan datang dan yang lalu? Maka beliau berkata, “Wahai Aisyah, apakah saya tidak boleh menjadi hamba yang yang pandai bersyukur.” HR. Buhori, 4557 dan Muslim, 2820.

Ibnu Battol rahimahullah mengatakan, “Tobari mengatakan, yang benar dalam hal itu adalah bahwa syukurnya seorang hamba adalah pengakuan bahwa hal itu adalah dari Allah bukan yang lainnya. Dan pengakuan yang benar adalah dibuktikan dengan perbuatan. Sementara pengakuan yang tidak sesuai dengan perbuatannya, maka pelakunya tidak berhak menyandang orang yang bersyukur secara umum. Akan tetapi dikatakan syukur lisan saja. Dalil akan keabsahan hal tu adalah firman Allah Ta’ala:

  اعْمَلُوا آلَ دَاوُدَ شُكْراً

سـبأ/ من الآية 13

“Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah).” QS. Saba: 13.

Telah diketahui bahwa mereka tidak diperintahkan, ketika dikatakan kepada mereka untuk mengakui akan kenikmatan-kenikmatan-Nya. Karena mereka tidak mengingkari bahwa hal itu merupakan tambahan kelebihan dari-Nya. Sesungguhnya mereka diperintahkan bersyukur atas nikmat-Nya dengan perbuatan taat. Begitu juga sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam ketika kedua kakinya bengkak karena qiyamul lail, “Apakah saya tidak diperbolehkan menjadi hamba yang pandai bersyukur? ‘Syarkh Shoheh Bukhori, (10/183, 184).

Abu Harun mengatakan, “Saya masuk ke rumah Abu Hazim saya bertanya kepadanya, “Semoga Allah merohmati anda. bagaimana cara mensyukuri kedua mata? Maka beliau menjawab, “Kalau anda melihat kebaikan, maka anda akan mengingat-Nya. Kalau anda melihat kejelekan, anda tutupi. Saya bertanya, “Bagaimanacara syukur kedua telinga? Beliau menjawab, “Kalau anda mendengarkan kebaikan, maka anda tetap menjaganya. Kalau anda mendengar kejelekan, anda melupakannya.

Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah mengatakan, “Syukur ada dua derajat, salah satunya asalah wajib. Yaitu dengan melakukan kewajiban dan menghindari larangan. Dan ini merupkan suatu keharusan . Hal ini cukup melakukan syukur atas nikmat-nikmat ini.

Dari sini maka sebagian ulama salaf mengatakan, “Syukur adalah meninggalkan kemaksiatan.’

Sebagian lainnya mengatakan, “Syukur adalah tidak mempergunakan nikmat Allah untuk berbuat kemaksiatan.

Abu Hazim Az-Zahid menyebutkan syukur anggota tubuh adalah mencegah dari kemaksiatan dan mempergunakan dalam ketaatan.

Sementara beliau mengatakan, “Siapa yang bersyukur dengan lisannya dan tidak mensyukuri semua anggota tubuhnya, maka perumpamaannya seperti seseorang mempunyai kain penutup badan, kemudian dia memegang ujungnya tanpa dipakai. Hal itu tidak bermanfaat sama sekali. apakah hal itu dapat memberikan manfaat  dari dingin, panas, es dan hujan.

Tingkatan syukur kedua, syukur yang dianjurkan. Yaitu seorang hamba setelah menunaikan kewajiban dan menjauhi yang diharamkan. Melakukan amalan sunah. Dan ini derajat orang-orang yang pertama dan orang-orang yang dekat (kepada Allah). ‘Jami’ Ulum wal hikam, hal. 245, 246.

Kesimpulan:

Agar senantiasa bersyukur kepada Tuhan anda terhadap nikmat yang telah diberikan kepada anda, maka anda harus mengakui dalam hati anda, bahwa pemberi nikmat ini adalah Allah. maka hendaknya anda agungkan dan sandarkan kepada-Nya. Anda mengakuinya dengan lisan, anda bersyukur setelah bangun tidur diberikan kehidupan lagi bagi anda. setelah makan dan minum merupakan pemberian rizki dan kelebihan untuk anda. Dan lakukan seperti itu pada semua kenikmatan yang diberikan kepada anda.

Sementara syukur anda dengan anggota tubuh adalah agar jangan sampai menjadikan apa yang anda lihat dan dengar ke arah kemaksiatan atau kemungkaran. Seperti menyanyi, mengguncing. Dan jangan berjalan dengan kedua kaki anda ke tempat-tempat kemungkaran. Jangan anda pergunakan kedua tangan anda untuk kemungkaran. Seperti menulis surat yang dilarang dengan menjalin hubungan dengan wanita asing. Atau menulis akad yang diharamkan atau membuat sesuatu atau melakukan amalan yang diharamkan.

Diantara mensyukuri kenikmatan dengan anggota tubuh adalah mempergunakannya untuk ketaatan kepada Allah Ta’ala dengan tilawah Qur’an, menulis ilmu, mendengarkan sesuatu yang bermanfaat dan begitu juga dengan anggota tubuh lainnya digunakan untuk ketaatan yang berbeda-beda.

Ketahuilah bahwa mensyukuri suatu kenikmatan masih membutuhkan syukur. Begitu juga seorang hamba senantiasa dalam kenikmatan Tuhannya. Dia mensyukuri nikmat-nikmat itu. Dan memuji-Nya ketika diberi taufik menjadi orang-orang yang bersyukur. Kita memohon kepada Allah agar kita dan anda diberi taufik dengan apa yang dicintai dan diredoi-Nya.

Wallahu ‘alam

Lalai dari Niat Bertaqarrub Kepada Allah

22 Maret 2019 by no comments Posted in Tanya Jawab Islam

Pertanyaan

Apakah ada pengaruhnya kepada sahnya amal jika tidak menghadirkan niat untuk bertaqarrub kepada Allah ? atau akan mengurangi pahala saja ?, jika seseorang yang mandi dengan niat untuk masuk Islam atau untuk menghilangkan hadats besar dan lalai tidak berniat untuk taqarrub kepada Allah, apakah mandinya tersebut tetap sah ?

(lebih…)

Berbeda Dengan Kedua Orang Tuanya Dalam Mendidik Anak

22 Maret 2019 by no comments Posted in Tanya Jawab Islam

Pertanyaan

Apa saja rambu-rambu taat kepada kedua orang tua ?, tidak diragukan lagi bahwa Islam telah menguatkan hal ini, dan Allah telah menyandingkan taat kepada keduanya dengan taat kepada-Nya, namun bagaimana jika keduanya ikut campur dalam urusan pendidikan anak ?, sebagai contoh terkadang saya meminta kepada anak saya untuk tidak tidur cepat; karena kadang malah dia bangun tengah malam dan menjadikanku tidak bisa tidur, akan tetapi kedua orang tuaku menyuruhku untuk membiarkannya, maka bagaimanakah hukumnya dalam masalah ini ?, apakah memungkinkan bagi saya untuk mendidik anak saya dengan cara yang sesuai dengan pendapat saya selama sesuai dengan syari’at ? saya mohon penjelasannya.

(lebih…)

Setiap Kali Mau Mendirikan Shalat Ada Saja Hambatannya

9 Maret 2019 by no comments Posted in Featured, Tanya Jawab Islam

Pertanyaan

Saya puas dengan yang ustadz sampaikan tentang orang yang meninggalkan shalat karena malas, khususnya setelah saya membaca beberapa referensi. Akan tetapi masalah saya adalah setiap kali saya akan memulai shalat ada saja sesuatu yang menghalangi saya, karena sakit atau masalah yang harus segera saya selesaikan, maka apa kira-kira yang menjadi penyebabnya ? apakah karena syetan ?

Jawaban

Alhamdulillah,

Shalat ini adalah perkara yang besar dan agung, ia merupakan kewajiban di dalam Islam yang paling agung setelah dua kalimat syahadat, orang yang meninggalkannya tidak ada bagiannya dalam Islam sebagaimana perkataan Umar bin Khattab –radhiyallahu ‘anhu-.

Ada banyak nash-nash Al Qur’an dan Sunnah yang menjelaskan tentang ancaman bagi orang yang meninggalkannya, hal ini menunjukkan kekufuran orang yang meninggalkan shalat dan keluar dari Islam.

Selama anda masih yakin dengan hukum ini, maka tidak ada jalan lain bagi anda kecuali bersegera untuk mendirikannya, karena anda tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, bahkan anda tidak tahu apa yang akan terjadi setelah satu jam mendatang atau setelah beberapa saat.

Tidak ada alasan untuk meninggalkan shalat, meskipun seseorang telah mengklaim bahwa ia mempunyai alasannya. Shalat termasuk perbuatan yang mudah tidak membutuhkan kecuali hanya beberapa menit saja, tidak lebih dari 10 menit, itu sudah mencakup wudhu’ dan melaksanakannya.

Seseorang itu membutuhkan keimanan yang jujur bahwa Allah telah mewajibkan shalat, Dia menginginkan para hamba-Nya untuk mendirikan shalat, dan akan diberikan sanksi bagi mereka yang meninggalkannya. Jika ada iman yang jujur di dalam hati maka badan akan bergerak, fisik pun akan terikat dengannya. Dan obatnya adalah dengan bersegara, sesaat setelah anda membaca jawaban ini maka sebaiknya anda langsung bergegas untuk berwudhu’ lalu mendirikan shalat fardu yang ada pada saat itu. Maka akan hilang prasangka yang menipu bahwa anda tidak mampu melaksanakan shalat, atau ada penghalang antara anda dengan shalat, lalu jika sudah masuk waktu shalat berikutnya anda juga segera melaksanakannya. Demikianlah tidak ada hari-hari yang berlalu sampai anda akan merasakan nikmatnya shalat, dan lezatnya berada di hadapan Allah.

Renungkanlah dirimu, dan semua nikmat dan pemberian yang telah Allah berikan kepadamu, pada tubuh, akal, sehatnya panca indramu dan lain sebagainya, lalu fikirkanlah, apakah layak bagimu untuk mengingkari kenikmatan dan kebaikan ?!

Sungguh manusia itu jika ia menerima  kebaikan dari orang lain, ia akan mendapatkan keinginan kuat pada dirinya untuk membalas kebaikan tersebut dan berterima kasih atas kebaikannya, mencari kata dan perbuatan yang bisa membalas saudaranya, maka apakah anda telah memikirkan kebaikan Allah –ta’ala- yang terus menerus ?, kedermawanan-Nya yang luas ?, dan pemberian-Nya yang luas ?

Apakah anda merasakan karunia Allah kepadamu ?, dan kedermawanan-Nya yang ada bersamamu ?, dan cinta-Nya kepadamu ?

Tidakkah semua ini menjadikan anda untuk berkata: “Segala puji hanya bagi-Mu wahai Rabb, alangkah agung dan dermawannya Engkau !?, dan alangkah indahnya jika aku berada dalam taat kepada-Mu, melayani-Mu, untuk-Mu semua waktu, kesungguhan, pikiran, dan kemampuanku, dan semua itu menjadi bagian dari kedermawanan-Mu.

Demi Allah, jika anda renungkan hal itu maka anda akan melihat bahwa yang menjadi hak Allah yang harus anda penuhi adalah mendirikan shalat sepanjang malam dan siang, sebagai bentuk syukur dan mengakui keutamaan-Nya.

Ingatlah bahwa maksiat akan menjadi penghalang antara seorang hamba dengan Rabbnya, setiap kali dosa semakin banyak, maka penghalangnya akan bertambah, dosa tersebut akan menghalangi cinta Allah, menghalangi rasa bahagia bersama-Nya, rindu untuk bertemu denga-Nya, tidak ada jalan lain bagi anda kecuali bertaubat kepada Allah, menyesali semua kelalaian dan keteledoran anda, segera cabut dari maksiat dan keburukan, apalagi yang dapat menyibukkan hati, seperti lagu, musik, bergantung kepada selain Allah, semua itu akan menjadi penghalang yang akan menghalangi seorang hamba dengan mentadabburi Al Qur’an, menikmati shalat, bahagia dengan taat kepada Allah.

Adapun syetan maka ia akan berusaha keras agar anda meninggalkan shalat, jauh dari pandangan Allah, agar terealisasi keinginannya untuk merusak dan memalingkan (dari kebenaran), akan tetapi tipu dayanya lemah jika berhadapan dengan ahli iman, ia tidak bisa menguasai mereka, sebagaimana firman Allah:

إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ ﴿النحل: ٩٩﴾

“Sesungguhnya syaitan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya”. (An Nahl: 99)

Semoga dari jawaban ini menjadi nampak bagi anda, bahwa anda membutuhkan tiga perkara:

  1. Bersegera untuk melaksanakan shalat
  2. Menguatkan iman, dengan memperbanyak ketaatan lainnya, seperti; berdzikir, shadaqah, membaca Al Qur’an.
  3. Mencabut diri dari maksiat dan bertaubat darinya, sehingga syetan tidak punya celah untuk menggodamu.

Bisa ditambahkan kepada tiga point itu pentingnya kembali kepada Allah, meminta kepada-Nya hidayat, taufik dan pertolongan-Nya.

Kami juga memohon kepada Allah –subhanahu wa ta’la- agar melapangkan dadamu, mengampuni dosamu, anda diberi kenikmatan merasakan manisnya iman, lezatnya Al Qur’an, cahaya shalat. Dia-lah Allah –subhanahu- Yang Maha Menguasai hal itu.

Puasa di Bulan Rajab

8 Maret 2019 by no comments Posted in Tanya Jawab Islam

Pertanyaan

Apakah ada hadits tentang keutamaan tertentu pada bulan Rajab?

Jawaban

Alhamdulillah

Pertama

Bulan Rajab adalah salah bulan Haram (suci) sebagaimana Firman Allah Ta’ala terkait dengannya:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ  (سورة التوبة: 36)

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang  lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)

Bulan-bulan Haram adalah Rajab, Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharram.

Diriwayatkan oleh Bukhari, 4662 dan Muslim, 1679 dari Abu Bakrah radhiallahu anhu dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا , مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ , ثَلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ : ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ , وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Setahun itu ada dua belas bulan, diantaranya (ada) empat bulan Haram, tiga (bulan) berurutan, Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharam serta Rajab Mudhar yang terdapat di antara (bulan) Jumadi Tsani dan Sya’ban.”

Bulan-bulan ini dinamakan bulan haram karena dua hal;

1.Karena pada bulan-bulan ini diharamkan berperang, kecuali musuh memulai (perang).

2.Sebagai penghormatan. Maksudnya jika ada perbuatan yang haram dilanggar, maka pada bulan-bulan ini bobotnya lebih berat dibandingkan pada bulan-bulan lainnya.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala memperingatkan agar tidak terjerumus dalam kemaksiatan pada bulan-bulan ini, berdasarkan firmanNya: “Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” QS. At-Taubah: 36, meskipun melakukan kemaksiatan diharamkan dan dilarang pada bulan-bulan ini dan lainnya, akan tetapi pada bulan-bulan ini sangat diharamkan.

As-Sya’di rahimahullah berkata (dalam tafsirnya) pada hal. 373: “Firman Allah;

‘فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.”

Ada kemungkinan dhamir (kata ganti pada ayat tersebut) kembali kepada dua belas bulan. Dengan demikian, Allah menjelaskan bahwa bulan-bulan tersebut telah ditetapkan ketentuannya  bagi para hamba-Nya, agar mereka meramaikannya dengan ketaatan (kepadaNya) seraya bersyukur kepada Allah atas karunia yang Dia berikan kepadanya serta mengarahkannya untuk kebaikan para hamba dan agar tidak  melakukan perbuatan aniaya terhadap diri sendiri di dalamnya.

Ada kemungkinan dhamir (kata ganti pada ayat tersebut) kembali kepada empat bulan Haram. Ini berarati merupakan larangan khusus bagi mereka untuk berbuat zalim pada bulan-bulan itu, meskipun larangan berbuat zalim berlaku bagi setiap waktu.  Karena bobot keharamannya (di bulan haram) bertambah dan karena kezaliman pada (bulan-bulan haram) lebih berat dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.”

Kedua:

Adapun puasa pada bulan Rajab, tidak ada ketetapan dari hadits yang shahih tentang keutamaan puasa dengan cara khusus atau suatu puasa apapun. Maka, apa yang dilakukan sebagian orang dengan mengkhususkan beberapa hari di (bulan rajab) dengan berpuasa seraya meyakini keutamaannya dibandingkan dengan (bulan-bulan) lain, adalah tidak ada asalnya dalam agama.

Memang ada sabda dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam yang menunjukkan dianjurkan berpuasa di bulan-bulan Haram (dan Rajab termasuk bulan Haram), sebagaimana Beliau sallallahu alaihi wa sallam bersabada:

صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ  (رواه أبو داود ، رقم 2428 وضعفه الألباني في ضعيف أبي داود)

“Berpuasalah di (bulan-bulan) Haram dan tinggalkanlah.”  (HR. Abu Daud, 2428 dan dilemahkan  oleh  Al-Bany dalam kitab Dhaif Abu Daud)

Hadits ini –kalaupun shahih- menunjukkan dianjurkannya berpuasa pada bulan-bulan Haram. Maka, barangsiapa berpuasa di bulan Rajab ini, lalu dia juga berpuasa di bulan-bulan Haram lainnya, maka  hal itu tidak mengapa. Sedangkan jika dikhusukan berpuasa pada bulan Rajab, maka tidak (dibolehkan).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam ‘Majmu’ Fatawa, 25/290: “Adapun  berpuasa di Bulan Rajab secara khusus, semua haditsnya adalah lemah, bahkan palsu. Sedikitpun tidak dijadikan landasan oleh para ulama. Dan juga bukan kategori hadits lemah yang dapat diriwayatkan dalam bab  amalan utama (fadha’ilul a’mal). Mayoritasnya adalah hadits-hadits palsu dan dusta. Terkait riwayat yang terdapat dalam Musnad dan (kitab hadits) lainnya dari Nabi sallallahu’alaihi wa sallam, bahwa  beliau memerintahkan untuk berpuasa pada bulan-bulan Haram yaitu Rajab, Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharram, yang dimaksud adalah anjuran berpuasa pada empat bulan semunya, bukan khusus Rajab.”

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Semua hadits yang menyebutkan puasa Rajab dan shalat pada sebagian malamnya adalah kebohongan yang diada-adakan.” (Al-Manar Al-Munif, hal. 96)

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam kitab Tabyinul Ujab, hal. 11: “Tidak ada hadits shahih yang layak dijadikan hujjah tentang keutamaan bulan Rajab, tidak juga dalam puasanya atau puasa tertentu , begitu juga (tidak ada) qiyamullail tertentu di dalamnya.”

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya tentang puasa dan qiyam pada malanya di hari kedua puluh tujuh di bulan Rajab, maka beliau menjawab:  ”Puasa dan qiyam pada malam di hari kedua puluh tujuh di bulan Rajab  serta mengkhususkan untuk itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (Majmu  Fatawa Ibnu Utsaimin, 20/440)

(lebih…)