Wahai Para Pengkhianat kelak Kalian di Akhirat tidak bisa melakukan pencitraan publik!

12 Juni 2019 by no comments Posted in Hadits

عن عبد الله بن عمر -رضي الله عنهما- مرفوعاً: إذا جمع الله -عز وجل- الأَوَّلِينَ والآخِرين: يرفع لكل غادر لِوَاءٌ، فيقال: هذه غَدْرَةُ فلان بن فلان
[صحيح] – [متفق عليه]

 

Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu ‘anhuma- secara marfū`: “Ketika Allah mengumpulkan umat-umat yang terdahulu dan umat-umat yang terakhir (kelak di hari kiamat), maka akan dikibarkan bendera bagi setiap pengkhianat, lalu dikatakan: “Ini adalah bendera si pengkhianat fulan bin fulan”. (Muttafaq alaih)

 

PENJELASAN

 

Ketika Allah mengumpulkan umat-umat yang terdahulu dan umat-umat yang terakhir pada hari kiamat, maka setiap pengkhianat dibawa bersama tanda pengkhianatannya, yaitu bendera yang disertakan kepadanya sehingga tersingkaplah aibnya di tengah-tengah manusia.

Fiqih Ramadhan dan Itikaf

28 Mei 2019 by no comments Posted in Hadits, Ilmu

Play Audio

Pemateri: Ustadz Muhamad Taufiq, Lc

 

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: كان النبي-صلى الله عليه وسلم- يعتكف في كل رمضان عشرة أيام، فلما كان العام الذي قُبِضَ فيه اعتكف عشرين يوماً.
[صحيح.] – [رواه البخاري.]

 

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu-, dia berkata, Dahulu Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- beri’tikaf setiap bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun beliau wafat, beliau beri’tikaf dua puluh hari.

 

PENJELASAN HADITS

Dahulu Nabi -‘alaihiṣṣalātu was sallām- berdiam di masjid, memfokuskan diri guna beribadah kepada Allah setiap bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Kala itu beliau beri’tikaf sepuluh hari di pertengahan bulan, dengan harapan mendapati lailatul qadar. Setelah beliau mengetahui bahwa lailatul qadar ada di sepuluh hari terakhir, beliau beri’tikaf di hari-hari itu. Kemudian pada tahun beliau wafat, beliau beri’tikaf dua puluh hari, sebagai tambahan ketaatan dan taqarrub kepada Allah –Ta’ālā-.

Seseorang itu Bersama Orang yang Dicintainya

13 Maret 2019 by no comments Posted in Featured, Hadits

Seseorang itu Bersama Orang yang Dicintainya

عن أبي موسى الأشعري -رضي الله عنه- مرفوعاً: « المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ ». وفي رواية: قِيلَ لِلنبي -صلى الله عليه وسلم-: الرَّجُلُ يُحِبُّ القَوْمَ وَلَمَّا يَلْحَق بهم؟ قال: « المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ». عن عبد الله بن مسعود -رضي الله عنه- قال: جاء رجل إلى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فقال: يا رسول الله، كَيفَ تَقُولُ فِي رَجُلٍ أحَبَّ قَومًا ولم يَلحَق بِهم؟ فقال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ».

[صحيحان.] – [الحديث الأول: متفق عليه. الحديث الثاني: متفق عليه.]

Dari Abu Musa al-Asyari -raḍiyallāhu ‘anhu- secara marfū’, “Seseorang itu bersama orang yang dicintainya.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Bahwa Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- pernah ditanya, “Seseorang mencintai suatu kaum, padahal dia belum pernah bertemu dengan mereka?” Beliau bersabda, “Seseorang itu bersama orang yang dicintainya.” Dari Abdullah bin Masud -raḍiyallāhu ‘anhu- ia berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu mengenai seseorang yang mencintai suatu kaum, padahal dia belum pernah bertemu dengan mereka?” Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- menjawab, “Seseorang itu bersama orang yang dicintainya.”

Penjelasan

Di akhirat, manusia akan bersama orang-orang yang mereka cintai di dunia. Hadis ini berisi anjuran untuk kuat dalam mencintai para rasul dan orang-orang saleh, mengikuti mereka sesuai dengan tingkatan-tingkatannya, dan peringatan untuk tidak mencintai lawan mereka. Sebab, kecintaan merupakan bukti kekuatan hubungan orang yang mencintai dengan orang yang dicintainya, dan kesesuaian dengan akhlaknya, serta tindakan meneladaninya. Maka kecintaan merupakan bukti adanya hal-hal tersebut, juga merupakan motivasi untuk mewujudkan hal-hal tersebut. Demikian juga orang yang mencintai Allah -Ta’ālā-, maka kecintaannya itu merupakan sesuatu paling besar yang mendekatkannya kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri. Dia memberi kepada orang yang mendekatkan diri kepada-Nya dengan sesuatu yang lebih besar dari apa yang dikorbankannya beberapa kali lipat. Keberadaan orang yang mencintai dengan orang yang dicintai tidak menjadi keharusan adanya kesamaan dengan orang yang dicintainya dalam kedudukan dan keluhuran derajatnya. Sebab, hal itu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan amal saleh dan perniagaan yang menguntungkan. Ini (menunjukkan) bahwa ma’iyyah (kebersamaan) dapat dicapai hanya dengan berkumpulnya dalam satu hal dan tidak harus dalam segala hal. Jika disepakati bahwa semua masuk surga maka kebersamaan itu pun benar meskipun derajatnya berbeda-beda. Siapa saja yang mencintai Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- atau mencintai salah seorang mukmin, maka ia akan bersama dengannya di surga karena niat baiknya, sebab itu adalah pokoknya, sedangkan amal merupakan pengikut niat. Dan keadaannya bersama mereka tidak menjadi satu keharusan bahwa dia berada dalam kedudukan mereka, dan tidak juga dibalas seperti balasan mereka dari segala segi.

Malu adalah Kebaikan

12 Maret 2019 by no comments Posted in Featured, Hadits

عن عمران بن حصين -رضي الله عنهما- قَالَ: قَالَ رسولُ اللَّه -صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم-: «الحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيرٍ». وفي رواية : «الحَيَاءُ خَيرٌ كُلُّهٌ» أو قال: «الحَيَاءُ كُلُّهُ خَيرٌ».
[صحيح.] – [الرواية الأولى: متفق عليها. الرواية الثانية والثالثة: رواها مسلم.]

 

Dari Imran bin Hushain -raḍiyallāhu ‘anhuma-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Malu itu tidak membawa kecuali kebaikan.” Dalam riwayat lain: “Malu itu baik seluruhnya,” atau beliau bersabda, “Malu itu seluruhnya baik.”

PENJELASAN

Malu merupakan sifat dalam jiwa yang mendorong manusia melakukan apa yang indah dan bagus, dan meninggalkan yang kotor dan buruk. Dengan demikian, malu tidak membawa kecuali kebaikan. Sebab munculnya hadis ini adalah ketika ada seorang laki-laki menasehati saudaranya terkait sifat malu, dan dia melarangnya dari sifat malu tersebut. Maka Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepadanya dengan ucapan ini.

Mulailah dengan yang Kanan!

6 Maret 2019 by no comments Posted in Hadits

عن عائشة -رضي الله عنها- قالت: «كان رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يعجبه التيمُّن في تَنَعُّلِّه, وترجُّلِه, وطُهُورِه, وفي شَأنه كُلِّه».
[صحيح.] – [متفق عليه.]

 

Dari Aisyah -raḍiyallāhu ‘anhu- ia berkata, “Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- senang memulai dengan kanan dalam mengenakan sandal, menyisir (rambut), bersuci dan dalam segala urusannya.”(Muttafaq alaih)

 

Penjelasan:

 

Aisyah -raḍiyallāhu ‘anha- mengabarkan tentang kebiasaan yang disukai Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam-, yaitu mendahulukan yang kanan dalam memakai sandalnya, menyisir rambut dan merapikannya, bersuci dari hadas, serta dalam segala urusannya yang semisal dengan yang disebutkan, seperti mengenakan pakaian dan celana, tidur, makan, minum dan sebagainya. Semua ini dalam rangka optimisme yang baik dan memuliakan organ tubuh yang kanan daripada yang kiri. Adapun hal-hal yang kotor, sebaiknya dilakukan oleh anggota tubuh bagian kiri. Karena itulah Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- melarang istinja dengan menggunakan tangan kanan dan melarang menyentuh zakar dengan tangan kanan. Sebab, tangan kanan untuk yang baik-baik dan tangan kiri untuk selain itu.

Pemimpin yang dijaga Allah

6 Maret 2019 by no comments Posted in Hadits

عن أبي سعيد الخدري وأبي هريرة -رضي الله عنهما- مرفوعاً: “ما بعث الله من نبي ولا اسْتَخْلَفَ من خليفة إلا كانت له بطانتان: بطانة تأمره بالمعروف وتَحُضُّهُ عليه، وبطانة تأمره بالشر وتَحُضُّهُ عليه، والمعصوم من عصم الله”.
[صحيح.] – [رواه البخاري.]

 

Dari Abu Sa’īd Al-Khudri dan Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhumā- secara marfū’, “Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi dan mengangkat seorang khalifah melainkan dia mempunyai dua orang kepercayaan: satu orang kepercayaan yang menyuruh dan mendorongnya kepada yang makruf, dan satu orang kepercayaan yang menyuruh dan mendorongnya kepada kejahatan. Orang yang terjaga adalah orang yang dijaga oleh Allah.”

 

Penjelasan:

 

Nabi -‘alaihi aṣ-ṣalātu wa as-salām- memberitahukan bahwa tidaklah Allah mengutus seorang Nabi dan mengangkat seorang khalifah melainkan dia mempunyai dua orang kepercayaan: satu orang kepercayaan yang baik, yang menyuruh dan mendorongnya kepada kebaikan, dan satu orang kepercayaan yang jahat, yang menunjukkan dan menyuruhnya kepada keburukan. Orang yang dijaga dari pengaruh orang kepercayaan yang jahat adalah orang yang dijaga oleh Allah -Ta’ālā-

 

 

Tanda Allah menginginkan kebaikan kepada Pemimpin

6 Maret 2019 by no comments Posted in Hadits

عن عائشة -رضي الله عنها- مرفوعًا: «إِذَا أَرَادَ اللهُ بِالأمِيرِ خَيرًا، جَعَلَ لَهُ وَزِيرَ صِدقٍ، إِنْ نَسِيَ ذَكَّرَهُ، وَإِنْ ذَكَرَ أَعَانَهُ، وَإِذَا أَرَادَ بِهِ غَيرَ ذَلِكَ جَعَلَ لَهُ وَزِيرَ سُوءٍ، إِنْ نَسِيَ لَمْ يُذَكِّرهُ، وَإِنْ ذَكَرَ لَمْ يُعِنْهُ».
[صحيح.] – [رواه أبو داود.]

 

Dari Aisyah -raḍiyallāhu ‘anhā- secara marfū’, “Apabila Allah menghendaki kebaikan untuk pemimpin, Dia menjadikan untuknya seorang ajudan (menteri) yang jujur. Jika ia lupa, ajudan itu mengingatkannya dan jika ia ingat, ajudan itu menolongnya. Dan apabila Allah menghendakinya selain itu, Dia menjadikan untuknya ajudan (menteri) yang jahat. Jika ia lupa, ajudan itu tidak mengingatkannya dan jika ia ingat, ajudan itu tidak menolongnya.” (HR. Abu Daud, Shahih)

 

Penjelasan:

 

Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- menjelaskan dalam hadis ini bahwa Allah -Ta’ālā- “Apabila menghendaki kebaikan untuk pemimpin”. Kebaikan bagi orang yang diberi taufik untuk mendapatkan menteri yang jujur dari kalangan umara ditafsirkan sebagai kebaikan taufik dalam kehidupan dunia dan akhirat. Di samping kebaikan ini juga ditafsirkan dengan Surga. Sabda beliau, “Dia menjadikan untuknya ajudan (menteri) yang jujur”, yakni dalam ucapan dan perbuatan, lahir dan batin. Beliau menyandarkannya pada kejujuran, karena sifat ini merupakan prinsip dalam pertemanan dan lainnya. Lalu “jika ia lupa”, maksudnya pemimpin itu. Jika ia lupa pada apa yang ia butuhkan –lupa adalah tabiat manusia-, menyimpang dari hukum syari’at, keliru dalam menangani perkara orang yang dizalimi, atau maslahat-maslahat rakyat, maka ajudan yang jujur ini “mengingatkannya” dan menunjukinya. “Dan jika ia ingat”, yakni pemimpin itu ingat, “ajudan itu menolongnya” dengan memberikan pendapat, perkataan dan perbuatan. Sedang sabda beliau, “Dan apabila Allah menghendakinya selain itu”, yakni selain kebaikan, dengan menghendaki keburukan untuknya, maka hasilnya, “Dia mejadikan untuknya ajudan jahat”. Maksudnya, ajudan yang jahat dalam perkataan dan perbuatan, kebalikan dari yang sebelumnya. “Jika ia lupa” yakni, pemimpin meninggalkan apa yang harus dilakukan, “ajudannya itu tidak mengingatkannya” akan pekara itu. Sebab ajudan ini tidak memiliki cahaya hati yang bisa mendorongnya untuk mengingatkan. “Dan jika ia ingat, ajudan itu tidak menolongnya”, bahkan ia berusaha memalingkannya; karena keburukan tabiat dan kejahatan perbuatannya.

Bahaya Meminta Jabatan

6 Maret 2019 by no comments Posted in Hadits

عن عَبْد الرَّحْمَنِ بْن سَمُرَةَ -رضي الله عنه- أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال له: «يا عبد الرحمن بن سَمُرَة، لا تَسْأَلِ الإِمَارَةَ؛ فإنك إن أُعْطِيتَها عن مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إليها، وإن أُعْطِيتَهَا عن غير مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عليها، وإذا حَلَفْتَ على يمينٍ فرأيتَ غيرها خيرًا منها، فَكَفِّرْ عن يمينك، وَأْتِ الذي هو خير».
[صحيح.] – [متفق عليه.]

 

Dari Abdurrahman bin Samurah -raḍiyallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepadanya, “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta jabatan! Karena sesungguhnya jika jabatan itu diberikan kepadamu karena permintaan, maka jabatan itu akan diserahkan kepadamu (tanpa pertolongan dari Allah). Dan jika jabatan itu diberikan kepadamu tanpa permintaan darimu, niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah) dalam melaksanakannya. Dan apabila engkau bersumpah dengan satu sumpah kemudian engkau melihat selainnya lebih baik darinya, maka bayarlah kafarat sumpahmu itu dan kerjakanlah yang lebih baik (darinya)!” (HR. Muttafaq alaih)

 

Penjelasan:

 

Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- melarang untuk meminta jabatan, karena siapa yang diberikan jabatan dengan sebab meminta maka ia akan dihinakan dan ditinggalkan karena ambisinya terhadap dunia dan karena ia lebih mengutamakan dunia daripada Akhirat. Dan siapa yang diberikan jabatan tanpa ia minta maka Allah akan menolongnya dalam melaksanakan jabatan tersebut. Dan bahwa bersumpah terhadap sesuatu tidak menjadi penghalang dari kebaikan. Jika orang yang bersumpah melihat kebaikan pada selain sumpahnya, maka ia boleh melepaskan diri dari sumpah itu dengan membayar kafarat, kemudian hendaknya ia melakukan kebaikan tersebut.